6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #124

Membangun Kembali

Ia memulai usaha dari nol.

°˖✧✿✧˖°

Pagi itu, embun dingin masih menggantung tipis di ujung-ujung daun jahe gajah di pelataran surau. Udara basah sisa hujan semalam membelus hawa sejuk di kaki bukit barat. Fadil berdiri tegak di depan meja kayu sederhana yang baru saja diamplas halus oleh para santri. Di atas meja tersebut, koper perak berisi berkas penawaran hibah lima puluh juta Dinar Emas dari Lembaga Dana Moneter Syariah Dunia masih terbuka lebar. Kemilau stempel perunggu dan pita sutra hijau memantulkan cahaya mentari pagi yang baru terbit.

Di hadapannya, Utusan Khusus bertoga rapi dengan jam tangan emas mengilap menatap Fadil dengan keyakinan penuh. Bagi utusan tersebut, tidak ada seorang pun pemimpin koperasi kecil di desa terpencil yang akan sanggup menolak tumpukan dana sebesar itu.

"Bagaimana, Ustaz Fadil?" buka Utusan Khusus itu dengan vokal mantap dan percaya diri. "Tanda tangani surat pengalihan kontrol dewan pengawas ini, dan detik ini juga dana hibah lima puluh juta Dinar Emas akan langsung ditransfer ke rekening induk Koperasi kalian."

Faris menahan napas seraya meremas lembaran kertas neraca di sampingnya. Fauzan melangkah mendekati meja dengan dada berdebar keras, sementara Ghalib, Rayyan, dan Yafiq menatap Fadil tanpa berkedip.

Fadil menghela napas panjang. Jemari tangan kanannya menyentuh butir-butir tasbih kayu jati di sakunya. Ia memandang berkas perjanjian mewah itu, lalu menatap tajam mata Utusan Khusus tersebut dengan ketenangan yang tak tergoyahkan.

"Bapak Utusan yang terhormat," pangkas Fadil dengan vokal yang jernih, tenang, dan berwibawa. "Kami sangat menghargai niat baik dan besarnya tawaran yang Bapak bawakan dari Timur Tengah. Namun, dengan memohon ampun kepada Allah, kami memilih untuk MENOLAK penawaran hibah ini."

Deg!

Utusan Khusus itu terperanjat hebat! Keningnya berkerut dalam, seolah tak percaya pada pendengarannya sendiri.

"Anda menolak?!" pangkas Utusan Khusus itu dengan nada suara yang meninggi lantaran terkejut. "Ini lima puluh juta Dinar Emas, Ustaz Fadil! Angka ini sanggup membangun sepuluh pabrik farmasi modern di seluruh Asia Tenggara! Atas dasar apa Anda menolak kejayaan sebesar ini?!"

Fadil mengulas senyuman tipis yang sangat tulus. "Koperasi ini didirikan atas dasar keringat, kemandirian, dan kejujuran rakyat kecil di desa ini. Jika kami menjual hak kontrol kepemimpinan dan melarang pemberian obat gratis bagi warga miskin demi tumpukan modal, maka kami telah mengkhianati amanah Kiai Zulfakar dan merusak jiwa perjuangan kami sendiri."

"Tapi kalian akan kesulitan berkembang jika merintis dari nol tanpa bantuan modal raksasa!" bentak Utusan Khusus itu seraya menutup koper peraknya dengan suara keras! Brak!

"Kemandirian yang lahir dari tetes keringat sendiri jauh lebih berharga dan berkah daripada kemewahan yang dibeli dengan menggadaikan kebebasan," balas Fadil mantap. "Kami lebih memilih membangun kembali usaha ini dari nol dengan tangan kami sendiri!"

Kiai Zulfakar yang duduk bersila di sudut teras mengangguk-angguk pelan seraya mengulas senyuman penuh kebanggaan atas keteguhan sikap murid utamanya.

Utusan Khusus itu meraih kopernya, membalikkan badan dengan raut wajah kesal dan kecewa, lalu melangkah pergi meninggalkan pelataran surau bersama para pengawalnya.

°˖✧✿✧˖°

Penolakan tegas Fadil terhadap hibah bernilai triliunan rupiah berkedok pengalihan kontrol menjadi Peristiwa Pemicu yang menandai dimulainya babak baru perjuangan: membangun kembali Koperasi Herbal Kerakyatan murni dari nol.

Setelah kedatangan Utusan Khusus tersebut berlalu, suasana di pelataran surau mendadak hening. Faris, Fauzan, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq berkumpul mengelilingi Fadil. Meski ada rasa bangga yang luar biasa atas keteguhan integritas Fadil, kecemasan riil tentang bagaimana cara memulai kembali roda usaha tanpa sisa modal besar tetap membentang tajam di depan mata.

Fauzan melangkah mendekati Fadil, menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya menatap sekeliling pelataran yang masih menyisakan sisa-sisa reruntuhan bekas kebakaran gudang lama.

"Fadil," pangkas Fauzan dengan nada vokal yang jujur dan serak. "Keputusanmu tadi benar-benar membuat dadaku bergetar bangga. Tapi... sekarang kita benar-benar tidak punya modal uang tunai sama sekali di kas utama."

"Benar, Fadil," sambung Faris seraya membuka catatannya. "Meski nama baik kita sudah bersih dan seluruh dakwaan hukum dibatalkan oleh Mahkamah Agung, seluruh sisa simpanan uang tunai kita telah habis dipakai untuk melunasi utang petani bulan lalu dan memperbaiki fasilitas surau."

Ghalib menunjukkan beberapa karung kosong di sudut halaman. "Bahan baku jahe dan temulawak di gudang bawah tanah juga sudah habis total disuling minggu lalu. Kita tidak punya uang untuk membeli pasokan baru dari kelompok tani."

Fadil menatap kelima sahabatnya satu per satu dengan pandangan mata yang sangat teduh dan penuh optimisme.

"Sahabat-sahabatku," pangkas Fadil dengan vokal menyejukkan. "Membangun kembali dari nol bukanlah sebuah kemunduran, melainkan sebuah kesempatan emas yang Allah berikan untuk memurnikan kembali niat dan langkah perjuangan kita."

Rayyan menghela napas pelan. "Tapi Fadil, dari mana kita harus memulai langkah pertama hari ini? Kita tidak punya mesin pengolah, tidak punya modal tunai, dan tidak punya stok bahan baku."

Fadil tersenyum, lalu melangkah menuju tepi teras surau dan menunjuk ke arah hamparan tanah hitam yang luas di kaki bukit barat.

"Kita memiliki hal terpenting yang tidak bisa dibeli dengan lima puluh juta Dinar Emas," pangkas Fadil dengan suara tegas. "Kita memiliki tanah wakaf lima hektar yang subur, kita memiliki ilmu racikan warisan Kiai Zulfakar, dan yang paling utama, kita memiliki persaudaraan yang diikat oleh ketakwaan!"

Kiai Zulfakar berdiri dari duduknya, berjalan mendekati anak-anak mudanya seraya memegang tongkat kayunya.

"Fadil benar," pangkas Kiai Zulfakar dengan suara berat dan berwibawa. "Pohon jati yang megah tidak tumbuh dari menyiramkan uang ke tanah, melainkan dari menanam satu benih kecil dengan kesabaran dan keikhlasan. Mulailah langkahmu hari ini dengan mencangkul tanah itu sendiri!"

Pesan dari sang Kiai seketika membakar kembali semangat juang di dalam dada para pengurus Koperasi. Peristiwa Pemicu ini tidak lagi dipandang sebagai beban krisis, melainkan pemicu lahirnya gelombang kerja keras kerakyatan yang murni.

°˖✧✿✧˖°

Pemicu semangat dari penolakan hibah membawa alur cerita meluncur deras ke Titik Plot Pertama, di mana Fadil memimpin secara langsung aksi nyata mengolah tanah wakaf dari nol menggunakan alat-alat tradisional sederhana.

Matahari makin meninggi ketika Fadil, Faris, Fauzan, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq melepaskan baju koko mereka dan menggantinya dengan kaos oblong serta celana kain kusam. Dengan memikul cangkul, cangkul garu, dan keranjang bambu di pundak, mereka berjalan bersama menuju hamparan tanah wakaf lima hektar di kaki bukit barat.

Pada Titik Plot Pertama ini, tanah wakaf tersebut masih berupa semak belukar liar yang dipenuhi akar-akar pohon tua dan batu-batu gunung yang keras.

"Fadil!" pangkas Fauzan seraya menancapkan mata cangkulnya ke tanah yang keras. Takk! "Tanah di bagian selatan ini keras sekali! Banyak batu tebal tertanam di bawahnya!"

"Gunakan linggis, Fauzan!" pangkas Ghalib seraya menyodorkan sebatang besi tebal. "Kita harus bersihkan batu-batu ini sebelum membuat bedengan tanam!"

Fadil berlutut di atas tanah, membuang rumput-rumput liar dengan kedua tangan telanjangnya tanpa canggung sedikit pun. Peluh mengucur deras membasahi dahi dan punggungnya, namun raut wajahnya memancarkan kedamaian yang amat dalam.

"Faris," pangkas Fadil seraya memandang sahabatnya yang sedang mencatat peta pembagian lahan. "Bagaimana pembagian zona tanam untuk tahap awal ini?"

Faris menyapu peluh di dahinya dengan lengan baju. "Satu hektar pertama akan kita fokuskan untuk budidaya jahe merah dan kunyit hitam. Dua hektar berikutnya untuk temulawak dan pegagan, sedangkan sisa lahan akan kita jadikan area pembibitan mandiri."

"Bagus sekali," pangkas Fadil. "Kita tidak akan membeli bibit dari luar. Kita akan mencari rimpang bibit unggul liar yang tumbuh alami di lereng hutan bukit atas."

Namun, di tengah kerja keras mereka mencangkul tanah pada Titik Plot Pertama ini, sebuah kejutan besar terjadi!

Dari balik pematang jalan setapak desa, terdengar riuh langkah kaki dan derak roda gerobak kayu. Puluhan warga desa, petani tua, dan santri-santri muda berjalan berbondong-bondong menuju ke arah lahan wakaf seraya membawa cangkul, sabit, serta bakul-bakul berisi bibit tanaman obat!

Pak Karto, Kepala Kelompok Tani desa yang bulan lalu dilunasi utangnya oleh Fadil, berjalan paling depan memimpin rombongan tersebut!

"Mas Fadil! Mas Faris!" teriak Pak Karto dengan vokal lantang penuh kehangatan!

Fadil menghentikan cangkulannya, berdiri seraya mengusap keringat di wajahnya dengan rasa terkejut. "Pak Karto? Ada apa warga desa berkumpul sebanyak ini?"

Pak Karto menancapkan cangkulnya ke tanah, lalu menatap Fadil dengan mata berbinar-binar.

"Mas Fadil," pangkas Pak Karto dengan vokal bergetar oleh rasa haru. "Kami mendengar kabar dari santri bahwa Mas Fadil baru saja menolak uang triliunan rupiah dari orang asing demi mempertahankan tanah wakaf dan pelayanan gratis untuk warga miskin!"

"Kami tidak bisa tinggal diam melihat Mas Fadil dan kawan-kawan mencangkul tanah luas ini sendirian!" teriak seorang petani tua dari belakang seraya mengacungkan sabitnya!

"Benar, Mas Fadil!" pangkas Pak Karto tegas. "Kami membawa seratus kilogram bibit jahe merah terbaik dari simpanan rumah kami! Kami semua datang kemari untuk bergotong royong mengolah tanah ini bersama-sama tanpa perlu dibayar satu rupiah pun!"

Deg!

Fauzan dan Faris terperanjat hebat! Air mata keharuan seketika menetes di pipi Fauzan.

"Pak Karto..." pangkas Fadil dengan suara yang gemetar menahan gejolak keharuan di dadanya. "Bapak dan warga desa tidak perlu merepotkan diri seperti ini..."

"Ini bukan kerepotan, Mas Fadil!" pangkas Pak Karto seraya memegang erat kedua bahu Fadil. "Inilah bukti bahwa Koperasi ini adalah milik kita bersama! Kalau Mas Fadil siap berjuang dari nol, maka kami warga desa akan berdiri di samping Mas Fadil sampai tanah ini menghasilkan keberkahan!"

Gema takbir dan sorak gotong royong seketika membumbung tinggi di kaki bukit barat pada Titik Plot Pertama ini! Lebih dari seratus warga desa dan santri membahu mencangkul, membersihkan batu, dan menanam bibit tanaman obat bersama-sama dengan penuh sukacita.

Lihat selengkapnya