6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #125

Orang-Orang Mulai Percaya

Orang-Orang Mulai Percaya

Kejujuran Fadil membuat masyarakat memberikan kepercayaan.

°˖✧✿✧˖°

Awan senja menggantung jingga di atas langit kaki bukit barat, memantulkan bias cahaya hangat pada bangunan kayu Koperasi Herbal Kerakyatan yang berdiri kokoh dan asri. Udara sore berhembus lembut, membawa aroma khas rimpang jahe merah dan minyak serai yang menguar dari ruang penyulingan utama. Di teras surau, Fadil duduk bersila di atas tikar pandan yang bersih. Jemari tangan kanannya dengan tenang menggeser butir-butir tasbih kayu jati, sementara tatapannya tertuju pada map dokumen bersegel merah dari Organisasi Kesehatan Internasional (WHO) regional yang tergeletak di hadapannya.

Di sekelilingnya, suasana terasa begitu tegang dan mencekam. Faris, Fauzan, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq duduk melingkar dengan napas tertahan. Ancaman ultimatum penyerahan hak cipta formula kuno Minyak Husada Barokah di bawah tekanan organisasi kesehatan global benar-benar membawa Koperasi mereka ke dalam pusaran krisis internasional yang amat berbahaya.

"Fadil," buka Faris dengan vokal yang agak bergetar seraya memegang ujung kemejanya. "Surat ini bukan ancaman main-main. Pejabat kementerian tadi jelas-jelas mengatakan bahwa wabah Virus Mutasi X-19 sudah melumpuhkan fasilitas kesehatan di tiga negara tetangga dalam hitungan hari. Mereka mendesak kita menyerahkan resep formula itu secara mutlak."

Fadil menghentikan putaran tasbihnya sejenak, memandang Faris dengan ketenangan yang terpancar dari wajahnya. "Apakah ada penjelasan resmi mengenai bagaimana mereka akan mendistribusikan obat itu nantinya, Faris?"

"Tidak ada jaminan yang jelas," potong Fauzan dengan napas memburu dan nada vokal sengit. "Mereka hanya bilang formula itu akan diambil alih oleh konsorsium farmasi multinasional! Kalau kita serahkan begitu saja, jutaan rakyat miskin di negeri ini dan belahan dunia lain pasti akan kembali diperas dengan harga obat yang tidak masuk akal!"

"Bukan cuma masalah hak cipta," timpal Ghalib seraya menunjukkan gawai lipatnya. "Media internasional mulai menggiring opini publik. Mereka menyudutkan Koperasi kita, menyebut kita egois dan tidak peduli pada kemanusiaan karena menahan obat penyelamat pandemi."

Yafiq mengusap wajahnya yang kusam. "Kita baru saja bangkit dari nol, Fadil. Kita baru saja menikmati buah kejujuran dan kerja keras bersama warga desa. Tapi kenapa ujian berat selalu datang bertubi-tubi menguji keteguhan kita?"

"Iya, Fadil," tambah Rayyan dengan suara lirih dan mata sayu. "Aku takut... kalau tekanan dunia internasional ini membuat warga desa kembali meragukan kita. Apakah mereka akan percaya bahwa langkah yang kita ambil ini benar?"

Fadil menghela napas panjang. Ia menatap satu per satu wajah sahabat-sahabatnya yang diliputi kecemasan luar biasa.

"Sahabat-sahabatku," pangkas Fadil dengan suara yang sangat lembut dan menyejukkan. "Kepercayaan tidak dibangun dalam semalam, dan ia tidak akan runtuh hanya karena gertakan asing. Selama kita berjalan di atas kejujuran dan kemaslahatan umat, Allah pasti akan membuka jalan keluar yang mulia."

"Tapi dunia menuntut jawaban hari ini juga, Fadil!" bentak Fauzan pelan, mencoba menahan amarah dan kekecewaannya. "Mereka mengancam akan mencap kita sebagai musuh kemanusiaan!"

"Jawaban atas krisis kemanusiaan tidak boleh diserahkan kepada keserakahan korporasi," balas Fadil seraya tersenyum tipis. "Kita harus membuktikan kepada dunia bahwa obat ini adalah milik umat manusia, dan ia harus dibagikan dengan adil tanpa monopli."

Di tengah perdebatan batin yang begitu memuncak, suara langkah kaki yang mantap dan berwibawa bergetar di atas tangga kayu surau. Seorang pria tua berambut putih bersih dengan jubah putih bersahaja melangkah masuk. Kehadiran sosok itu seketika membuat seluruh ruangan hening.

Beliau adalah Kiai Zulfakar.

°˖✧✿✧˖°

Kehadiran Kiai Zulfakar di teras surau di tengah badai ultimatum internasional menjadi Peristiwa Pemicu yang seketika mengubah arah ketegangan batin para pengurus Koperasi dan warga desa.

Fadil segera berdiri dan mendekati sang guru, merengkuh tangan Kiai Zulfakar lalu menciumnya dengan rasa takzim yang amat dalam. Faris, Fauzan, Ghalib, Rayyan, dan Yafiq berdiri menyambut dengan rasa haru.

"Assalamu’alaikum wa rahmatullah, Anak-anakku," sapa Kiai Zulfakar dengan suara yang begitu dalam dan bening.

"Wa’alaikumsalam warrahmatullah wabarakatuh, Kiai," balas mereka seraya menundukkan kepala.

"Duduklah," pangkas Kiai Zulfakar seraya mengibaskan jubahnya dan duduk bersila di tengah lingkaran mereka.

Kiai Zulfakar menatap map bersegel merah milik organisasi kesehatan dunia yang tergeletak di atas tikar, lalu beralih menatap wajah-wajah tegang para muridnya.

"Kiai," buka Fauzan dengan jujur dan tanpa ragu. "Kami sedang berada di ambang tekanan terbesar. Dunia menuntut kita menyerahkan hak cipta formula pengobatan. Kalau kita menolak, kita dicap musuh kemanusiaan. Kalau kita serahkan, rakyat kecil akan kembali tertindas."

Kiai Zulfakar mengulas senyuman tipis yang sarat akan kedalaman ilmu batiniah. Beliau memandang Fauzan, lalu menatap Fadil.

"Fauzan, dan kalian semua," pangkas Kiai Zulfakar pelan namun tegas. "Kalian sedang diuji pada tingkat kepercayaan tertinggi yang pernah diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya."

Rayyan menengadah dengan raut bingung. "Kepercayaan apa, Kiai? Apakah masyarakat luar masih percaya pada kita di tengah fitnah media internasional?"

"Selama ini, kalian membangun Koperasi ini bukan di atas fondasi pencitraan, melainkan di atas fondasi kejujuran yang tulus," pangkas Kiai Zulfakar. "Dan ketahuilah, kejujuran yang konsisten tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh fitnah sebesar apa pun."

Fadil menunduk khusyuk, meresapi setiap patah kata sang guru.

"Jika dunia menuntut formula itu diserahkan kepada korporasi," pangkas Kiai Zulfakar lagi, "maka tugas kalian bukanlah menyerah atau menimbannya untuk kepentingan sendiri, melainkan membagikannya langsung kepada umat dengan cara yang bermartabat!"

Faris menarik napas dalam-dalam. "Lalu bagaimana cara kita membuktikan kepada masyarakat luas bahwa kita tidak berniat menahan obat ini, Kiai?"

"Undanglah seluruh perwakilan warga desa, para tokoh masyarakat, dan media independen ke balai desa malam ini," jawab Kiai Zulfakar seraya menatap tajam ke depan. "Katakan kepada mereka yang sebenarnya, dan biarkan kejujuran berbicara di hadapan rakyat!"

°˖✧✿✧˖°

Panggilan Kiai Zulfakar untuk mengumpulkan warga desa meluncurkan alur cerita ke Titik Plot Pertama. Di balai desa kaki bukit barat yang dipadati ratusan warga, Fadil berdiri di hadapan rakyat untuk membentangkan kejujuran tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Malam itu, balai desa dipenuhi oleh para petani, ibu-ibu rumah tangga, tokoh pemuda, dan para santri. Suasana di dalam ruangan tampak riuh dan penuh tanya akibat berita miring yang disebarkan oleh media asing.

Fadil melangkah ke atas panggung kayu sederhana didampingi oleh Faris dan Fauzan. Di sudut ruangan, beberapa wartawan independen tampak menyalakan kamera perekam mereka.

"Assalamu’alaikum warrahmatullah wabarakatuh," salam Fadil dengan vokal yang jernih dan tenang.

"Wa’alaikumsalam warrahmatullah wabarakatuh!" jawab ratusan warga serempak.

Pak Karto, sebagai perwakilan tokoh warga desa, berdiri dari kursi depannya. "Nak Fadil, kami mendengar dari siaran televisi sore tadi bahwa Koperasi kita dituduh menahan obat penawar virus yang sangat dibutuhkan dunia. Apakah itu benar?"

Fadil menatap seluruh warga desa dengan pandangan mata yang sangat jujur dan terbuka.

"Pak Karto, dan seluruh warga desa yang saya cintai," pangkas Fadil dengan vokal yang bergetar penuh ketulusan pada Titik Plot Pertama ini. "Berita itu tidak sepenuhnya benar, tetapi ada bagian penting yang sengaja disembunyikan oleh media internasional."

Suasana balai desa seketika mendadak sunyi senyap. Semua orang memasang telinga baik-baik.

"Organisasi kesehatan dunia memang meminta formula Minyak Husada Barokah diserahkan kepada konsorsium farmasi global," lanjut Fadil. "Jika kami menyerahkannya kepada mereka, formula itu akan dipatenkan secara eksklusif, dan harganya akan melambung tinggi di pasaran internasional. Rakyat miskin di desa kita dan di berbagai penjuru dunia tidak akan mampu membelinya!"

Seorang warga berteriak geram dari barisan belakang. "Wah, kurang ajar! Mereka mau merampas hasil karya kita demi keuntungan bisnis!"

Lihat selengkapnya