6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #128

Abdul Jabbar Menangis

Abdul Jabbar Menangis

Ayahnya terharu melihat perjuangan anaknya.

°˖✧✿✧˖°

Angin pagi yang sejuk bertiup pelan di atas halaman rumah kayu di kampung halaman Fadil, menggerakkan dahan-dahan pohon rambutan yang lebat. Udara basah sisa embun subuh menyebarkan kesegaran tanah yang berpadu dengan wewangian teh melati hangat dari teras. Di atas meja kayu ukir yang sederhana, koper baja berteknologi pengaman tinggi dari Lembaga Arsip Keuangan Internasional Zurich masih tergeletak anggun. Pria berjas hitam elegan dari Swedia beserta pejabat Kementerian Luar Negeri berdiri menatap Fadil dan ayahnya, Abdul Jabbar, dengan raut wajah penuh penghormatan yang teramat dalam.

Abdul Jabbar duduk mematung di kursi kayu tua favoritnya. Tangannya yang kasar—penuh kerut dan kapalan akibat puluhan tahun mencangkul tanah sawah—tampak bergetar hebat. Matanya yang biasanya memancarkan ketegasan seorang petani bersahaja kini berkaca-kaca, menatap koper baja yang menyimpan bukti peninggalan rahasia leluhurnya, lalu beralih menatap putra utamanya, Fadil.

"Tuan Abdul Jabbar," pangkas utusan khusus dari Zurich itu dengan intonasi vokal yang sangat santun dan berwibawa. "Dokumen dan surat berharga di dalam koper baja ini terdaftar atas nama almarhum Syekh Jabbar Tua, kakek kandung Anda. Beliau menitipkan dana kemanusiaan ini sejak zaman perang kemerdekaan, dengan syarat hanya boleh diserahkan kepada keturunan yang terbukti memiliki integritas murni, kejujuran tanpa cela, dan keberanian membela rakyat kecil."

Faris menahan napas seraya memegang erat lengan Fauzan di sampingnya. Ghalib, Rayyan, dan Yafiq berdiri menyandar ke dinding kayu rumah dengan dada berdebar keras, menyimak momen langka yang menggetarkan jiwa tersebut.

Abdul Jabbar menghela napas panjang yang sangat berat. Suara napasnya terdengar parau, tergoncang oleh kepungan emosi yang meluap di dalam dadanya.

"Syekh Jabbar Tua..." pangkas Abdul Jabbar dengan suara lirih yang gemetar. "Ayah saya selalu bercerita bahwa Kakek wafat di pengasingan saat berjuang melawan penjajah. Kami tidak pernah menyangka beliau meninggalkan amanah raksasa sebesar ini untuk kemaslahatan umat."

"Lembaga kami telah memantau rekam jejak perjuangan putra Anda, Fadil," lanjut pejabat Kemenlu yang mendampingi utusan Zurich tersebut. "Bagaimana Fadil menolak hibah Dinar Emas yang mengikat, mempertahankan tanah wakaf dengan cangkulnya sendiri, melawan kartel tengkulak, hingga membagikan obat penawar pandemi secara gratis kepada masyarakat. Seluruh syarat integritas itu telah dipenuhi oleh Fadil secara sempurna."

Fadil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Jemari tangan kanannya tetap memutar butir-butir tasbih kayu jati di dalam saku kokonya, menata hatinya agar tidak terselip sedikit pun rasa sombong atas pujian tersebut.

"Bapak Abdul Jabbar," pangkas Fadil seraya berlutut di samping kursi ayahnya, memegang erat jemari tangan ayahnya yang bergetar. "Semua yang Fadil lakukan hanya menjalankan nasehat dan didikan Ayah sejak kecil. Ayah yang selalu mengajarkan Fadil untuk takut kepada makan uang haram dan selalu membela rakyat miskin."

Abdul Jabbar menatap wajah mulia putranya. Setetes air mata bening akhirnya jatuh membasahi pipinya yang keriput. Pria tua yang tidak pernah menangis di hadapan siapa pun—bahkan saat rumahnya dikepung rentenir atau saat panen gandumnya gagal total—kini tak sanggup lagi menahan bendungan air matanya.

"Fadil, Anakku..." pangkas Abdul Jabbar seraya merengkuh kedua bahu Fadil, lalu menarik putranya itu ke dalam pelukan yang sangat erat.

Suara tangis keharuan Abdul Jabbar meledak pelan di teras rumah kayu tersebut. Tangisan seorang ayah yang menyaksikan seluruh tetes keringat, penderitaan, dan kejujuran anaknya kini berbuah kejayaan serta penghormatan yang begitu agung dari dunia.

"Ayah menangis bukan karena harta ratusan triliun ini, Fadil..." bisik Abdul Jabbar dengan suara bergetar dan keharuan yang meluap di dada. "Ayah menangis karena bangga... Ayah sangat bangga memiliki putra sepertimu yang tidak pernah menggadaikan imannya demi kemewahan dunia!"

°˖✧✿✧˖°

Keharuan dan tangis bangga Abdul Jabbar atas perjuangan ketulusan Fadil menjadi Peristiwa Pemicu yang meneguhkan tekad keluarga untuk mengalihkan seluruh potensi harta peninggalan leluhur demi keselamatan umat, sekaligus memicu babak baru pembukaan peti amanah.

Melihat Abdul Jabbar menangis terharu sambil memeluk Fadil, suasana di teras rumah menjadi sangat syahdu. Ibu Fadil yang keluar dari pintu depan memegang nampan teh mendadak menghentikan langkahnya, meneteskan air mata kebahagiaan menyaksikan suami dan anaknya saling berpelukan.

Faris dan Fauzan mengusap sudut mata mereka yang basah oleh gejolak keharuan yang amat dalam.

"Alhamdulillah ya Allah..." pangkas Fauzan lirih seraya memegang dadanya yang bergetar. "Perjuangan Fadil dari nol benar-benar dimuliakan oleh Allah dan membuat orang tuanya bangga."

Fadil mengusap air mata di pipi ayahnya dengan penuh rasa kasih dan hormat seorang anak.

"Ayah," pangkas Fadil dengan vokal yang lembut dan sangat menyejukkan. "Fadil berjanji di hadapan Ayah dan Ibu, tidak satu rupiah pun dari dana amanah Kakek Buyut ini yang akan kami gunakan untuk kepentingan pribadi atau kemewahan hidup kita. Semua harta ini akan kita kembalikan untuk membangun ekonomi rakyat kecil dan membiayai pengobatan gratis di seluruh negeri."

Abdul Jabbar mengusap air matanya dengan lengan baju koko kusamnya, lalu menatap utusan khusus dari Zurich tersebut dengan pandangan yang mantap dan tegas.

"Tuan Utusan," pangkas Abdul Jabbar dengan nada vokal penuh wibawa seorang kepala keluarga. "Kami siap menerima amanah peninggalan Ayahanda kami. Namun, bukalah koper itu sekarang di hadapan kami, dan catat bahwa seluruh dana ini secara resmi kami serahkan pengelolaannya kepada Koperasi Herbal Kerakyatan di bawah bimbingan Kiai Zulfakar!"

Utusan khusus Zurich tersenyum hormat seraya membungkukkan badan. "Keputusan yang sangat agung, Tuan Abdul Jabbar. Integritas keluarga Anda benar-benar tiada tandingannya."

Utusan itu meletakkan tangannya pada pemindai sidik jari biometrik koper baja, lalu memasukkan kode enkripsi rahasia.

KLIK! BZZZZT!

Koper baja berteknologi canggih itu terbuka pelan dengan desis udara bertekanan. Di dalamnya, terhampar dokumen-dokumen emas kuno bertuliskan kaligrafi bahasa Arab dan Latin, beserta sebuah naskah daun lontar bersampul kulit rusa jantan.

Naskah lontar tersebut memancarkan pendaran warna keemasan yang sangat langka saat terkena paparan sinar matahari pagi pada Peristiwa Pemicu ini.

"Naskah lontar ini..." pangkas Faris terperanjat seraya mendekat. "Ini adalah peta pasangan dari naskah kuno Kiai Zulfakar!"

"Betul, Mas Faris," pangkas pejabat Kemenlu menimpali. "Ini adalah Kitab Rahasia Pengobatan Purba Nusantara yang dicari-cari oleh berbagai lembaga riset internasional selama ratusan tahun."

Namun, di tengah momen pembukaan amanah yang penuh keberkahan tersebut, sebuah deru mesin mobil berkecepatan tinggi terdengar membelah kesunyian jalan tanah kampung halaman Fadil!

°˖✧✿✧˖°

Pembukaan koper amanah berisi lontar kuno meluncurkan alur cerita ke Titik Plot Pertama, tatkala kabar pencairan aset raksasa dan peninggalan lontar menyebar cepat, memicu kedatangan armada militer swasta asing yang diperintah oleh kelompok konspirasi kesehatan global The Black Caduceus!

Tiga buah kendaraan taktis berlapis baja berwarna hitam tanpa pelat nomor berhenti secara mendadak di depan halaman rumah kayu Abdul Jabbar pada Titik Plot Pertama ini!

Pintu kendaraan taktis terbuka keras. Belasan pria berseragam hitam tanpa atribut, mengenakan topeng pelindung dan memegang senjata laras panjang modern, melompat turun dan langsung membentuk formasi pengepungan ketat di sekeliling halaman rumah!

Brak! SRUUK!

"SEMUA TENGKURAP DI TANAH! JANGAN ADA YANG BERGERAK!" bentak pimpinan pasukan hitam tersebut melalui pengeras suara helmnya dengan nada vokal yang sangat dingin dan kejam!

Fauzan dan Faris langsung pasang badan di depan Abdul Jabbar dan Ibu Fadil!

"Siapa kalian?!" bentak Fauzan dengan keberanian tinggi seraya pasang kuda-kuda. "Ini wilayah kedaulatan Republik Indonesia! Berani-beraninya kalian membawa senjata otomatis di permukiman warga?!"

Dari dalam mobil taktis paling belakang, melangkah turun seorang pria paruh baya bertubuh jangkung dengan jubah abu-abu mahal dan tongkat perak berkeplak kepala ular cobra. Pria itu adalah Komandan Marcus, pimpinan tertinggi divisi operasi lapangan The Black Caduceus kawasan Asia Pasifik!

Komandan Marcus melangkah angkuh ke arah teras pada Titik Plot Pertama ini, menatap koper baja yang terbuka dan lontar kuno keemasan dengan tatapan keserakahan yang sangat pekat.

"Sungguh pemandangan yang menyentuh hati," pangkas Komandan Marcus dengan vokal bergaya asing yang licik dan merendahkan. "Seorang ayah tua yang menangis bangga atas anaknya yang jujur... Sayangnya, panggung drama kekeluargaan kalian harus berakhir hari ini!"

Fadil berdiri tegap di depan ayahnya, menatap Marcus tanpa kejap sedikit pun. "Ternyata konsorsium asing dan kelompok The Black Caduceus tidak pernah berhenti mencoba merampas hak rakyat!"

"Kami tidak datang untuk berdebat, Ustaz Fadil," pangkas Marcus seraya mengetukkan tongkat peraknya ke tanah. TANG! "Aset ratusan triliun dan lontar pengobatan purba itu terlalu berbahaya jika berada di tangan petani kampung seperti kalian! Serahkan koper itu sekarang juga, atau seluruh rumah dan kampung ini akan kami ratakan dengan tanah dalam waktu tiga menit!"

Petugas Kemenlu dan utusan Zurich mencoba maju membela. "Kami adalah utusan resmi diplomatik! Jika Anda bertindak anarkis, negara kami akan—"

BANG!

Marcus melepaskan tembakan peringatan ke udara menggunakan pistol peredam suara dari balik jasnya! Petugas Kemenlu terperanjat mundur dengan wajah pucat pasi!

Lihat selengkapnya