6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #132

Makna Tawasul

Makna Tawasul

Kiai menjelaskan konsep tawasul melalui jalan yang sesuai syariat.

°˖✧✿✧˖°

Suasana di serambi Masjid Al-Ikhsan terasa sejuk malam itu. Angin senja bertiup lembut, menyelusup di antara pilar-pilar kokoh yang menopang bangunan utama. Para santri dan jamaah pengajian rutin tampak duduk melingkar dengan khidmat di atas karpet hijau tebal. Di tengah-tengah mereka, Kiai Ahmad duduk bersila mengenakan sarung putih dan peci beludru hitam yang sedikit miring. Wajahnya memancarkan ketenangan yang mendalam, menatap satu per satu wajah jamaah yang hadir dengan senyuman ramah.

Malam ini, pembahasan bab yang diangkat dalam kitab kuning cukup menyita perhatian, yakni Bab 132 tentang Makna Tawasul. Topik ini belakangan sering menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat karena perbedaan pemahaman yang kerap memicu perdebatan.

"Malam ini kita akan mengkaji bab yang sangat penting, yaitu tentang tawasul," suara Kiai Ahmad bergemerincing tenang namun tegas, memecah keheningan malam. "Sebuah amalan yang sering kali disalahartikan, padahal ia memiliki akar yang kuat di dalam syariat Islam jika dipahami dengan benar."

Seorang santri senior bernama Umar mengangkat tangannya perlahan sebelum, kemudian memberanikan diri untuk bertanya mewakili keresahan banyak orang.

"Kiai, mohon maaf. Belakangan ini saya sering mendengar perdebatan di luar sana. Ada yang bilang tawasul itu perbuatan bid'ah bahkan syirik, tapi ada juga yang melaksanakannya dengan khusyuk. Sebenarnya, apa makna tawasul yang sesuai dengan syariat Islam itu?" tanya Umar dengan nada penasaran.

Kiai Ahmad tersenyum hangat mendengar pertanyaan tersebut. Ia meletakkan kitab yang dibacanya di atas meja kecil di sisinya, lalu membenahi posisi duduknya menghadap para jamaah.

"Pertanyaan yang sangat bagus, Umar. Perbedaan pendapat itu biasanya muncul karena kurangnya pemahaman yang komprehensif mengenai hakikat tawasul itu sendiri," jawab Kiai Ahmad memulai penjelasannya.

"Secara bahasa, tawasul berasal dari kata al-wasilah, yang artinya segala sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada sesuatu yang lain atau perantara. Sedangkan secara istilah syariat, tawasul adalah menjadikan amal saleh, kedudukan orang saleh yang masih hidup, atau doa mereka sebagai perantara atau jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan keyakinan penuh bahwa yang memberikan ijabah dan pertolongan hanyalah Allah semata, bukan perantaranya," lanjut Kiai Ahmad menjelaskan dengan bahasa yang renyah dan mudah dipahami.

Para santri menyimak dengan seksama sambil mencatat poin-poin penting di buku catatan kecil mereka. Suasana malam semakin larut, namun antusiasme jamaah justru semakin terasa membuncah di dalam ruangan yang diterangi lampu gantung klasik itu.

°˖✧✿✧˖°

Kiai Ahmad melanjutkan uraiannya dengan menegaskan bahwa tawasul bukanlah bentuk penyekutuan terhadap Allah, melainkan sebuah bentuk ikhtiar spiritual yang sah.

"Ingat ya, jamaah sekalian. Hakikat tawasul yang benar adalah menjadikan sesuatu yang dicintai oleh Allah sebagai wasilah agar doa kita lebih mudah dikabulkan oleh-Nya. Allah SWT sendiri yang berfirman dalam Surah Al-Ma'idah ayat 35: Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) untuk mendekatkan diri kepada-Nya," terang Kiai Ahmad sambil mengutip ayat suci Al-Qur'an dengan tartil.

Zainal, seorang pemuda pengusaha muda yang baru beberapa bulan aktif mengikuti pengajian di masjid tersebut, mengangkat tangan untuk menimpali penjelasan sang kiai.

"Kiai, kalau ayat itu kan menyuruh kita mencari wasilah. Tapi bagaimana cara bertawasul yang benar dan sesuai dengan tuntunan syariat? Apakah kita boleh bertawasul dengan amal saleh kita sendiri, atau bagaimana?" tanya Zainal dengan antusias.

"Pertanyaan yang sangat praktis, Zainal. Jawabannya tentu saja boleh, bahkan itu adalah bentuk tawasul yang paling utama dan disepakati oleh seluruh ulama," jawab Kiai Ahmad dengan penuh semangat. "Cara bertawasul yang pertama dan paling utama adalah bertawasul dengan amal saleh yang pernah kita lakukan ikhlas karena Allah."

Kiai Ahmad kemudian menceritakan sebuah kisah terkenal dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim tentang tiga orang yang terjebak di dalam gua akibat batu besar yang menutupi pintu gua tersebut.

"Kalian tentu tahu kisah tiga orang yang terkurung di dalam gua, bukan?" tanya Kiai Ahmad kepada jamaah.

"Tahu, Kiai. Kisah tentang tiga orang yang bertawasul dengan amal saleh mereka," jawab beberapa jamaah secara serentak.

"Betul sekali," lanjut Kiai Ahmad mengangguk puas. "Masing-masing dari mereka berdoa kepada Allah dengan menyebutkan amal saleh terbaik yang pernah mereka kerjakan secara ikhlas semata-mata mencari keridaan Allah. Yang pertama bertawasul dengan kebaktiannya kepada kedua orang tuanya. Yang kedua bertawasul dengan sifat amanahnya yang luar biasa dalam menjaga upah pegawainya. Yang ketiga bertawasul dengan rasa takutnya kepada maksiat tatkala ia memiliki kesempatan penuh untuk berbuat dosa namun meninggalkannya karena takut kepada Allah."

Zainal mengangguk-angguk paham. "Lalu apa yang terjadi setelah mereka bertawasul dengan amal-amal itu, Kiai?"

"Atas izin Allah, setiap kali salah satu dari mereka berdoa menyebutkan amal saleh tersebut, batu besar yang menutupi pintu gua itu bergeser sedikit demi sedikit, hingga akhirnya mereka bisa keluar dengan selamat," jawab Kiai Ahmad menegaskan. "Itulah contoh nyata cara bertawasul dengan amal saleh."

°˖✧✿✧˖°

Suasana pengajian mendadak menjadi lebih serius ketika seorang jamaah paruh baya bernama Pak Hasan menginterupsi dengan keraguan yang mengganjal di benaknya.

Lihat selengkapnya