6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #134

Sedekah Pertama

Fadil menyisihkan hasil usahanya.

°˖✧✿✧˖°

Angin pagi berhembus lembut menyapu pelataran toko kecil milik Fadil yang terletak di sudut pasar tradisional. Papan nama kayu bertuliskan "Berkah Mandiri" tampak berkilau terkena pantulan sinar matahari pagi yang hangat. Fadil berdiri di depan pintu tokonya sambil memegang selembar amplop cokelat tebal yang baru saja diterimanya dari sang pemasok grosir utama. Di dalam amplop tersebut tersimpan hasil keuntungan bersih dari penjualan usahanya selama bulan pertama—sebuah angka yang jauh melampaui ekspektasi awalnya sebagai seorang pemuda perintis usaha.

"Alhamdulillah ya Allah, rezekiMu sungguh luar biasa," gumam Fadil pelan sambil menengadahkan wajahnya ke langit biru yang cerah, merasakan debaran rasa syukur yang luar biasa bergemuruh di dalam dadanya.

Beberapa saat kemudian, sahabat dekatnya, Haris, datang menghampiri sambil membawa dua gelas kopi hangat di tangan. Melihat ekspresi wajah Fadil yang begitu sumringah, Haris langsung meletakkan gelas kopi tersebut di atas meja kecil dekat kasir dan tersenyum lebar.

"Wah, wajahmu cerah sekali pagi ini, Fadil. Ada kabar baik apa dari laporan bulanan usahamu?" tanya Haris penasaran sambil merapikan beberapa kardus barang dagangan di dekatnya.

Fadil menoleh, lalu memperlihatkan amplop cokelat tersebut dengan senyuman yang tak kunjung surut dari bibirnya. "Haris, kamu tahu? Usaha rintisan kita bulan ini benar-benar mendatangkan keuntungan bersih yang di luar dugaan. Angkanya bahkan cukup untuk memutar modal sekaligus menyisihkan sebagian tabungan."

Haris terkejut sekaligus ikut merasa bahagia mendengar pencapaian sahabatnya itu. Ia tahu betul bagaimana jatuh bangun Fadil dalam membangun usaha kecil-kecilan tersebut dari nol, mulai dari modal yang pas-pasan hingga harus begadang setiap malam menjaga kiosnya.

"Luar biasa, Fadil! Kerja kerasmu selama ini akhirnya membuahkan hasil yang manis. Ini momen yang sangat pantas dirayakan," puji Haris tulus sambil menepuk pundak Fadil dengan penuh keakraban.

"Iya, Haris. Tapi justru di sinilah letak ujiannya," kata Fadil tiba-tiba mengubah nada suaranya menjadi lebih serius. Ia menatap amplop di tangannya dengan pandangan menerawang. "Kiai Ahmad pernah mengajarkan kita dalam pengajian bab tawasul tempo hari, bahwa setiap rezeki yang dititipkan Allah di dalamnya terdapat hak orang lain yang harus dikeluarkan. Dan aku teringat janji pada diriku sendiri: jika usahaku ini membuahkan hasil pertama, aku harus segera menunaikannya kepada yang berhak."

Haris mengangguk paham, matanya berbinar menangkap ketulusan niat di wajah sahabatnya itu. "Maksudmu, kamu mau langsung mengeluarkan sedekah dari keuntungan pertama ini?"

"Tentu saja," jawab Fadil mantap. "Aku tidak ingin harta ini melalaikannya. Aku ingin berkah pertama ini dimulai dengan cara yang benar."

°˖✧✿✧˖°

Matahari mulai meninggi, menyinari hiruk-pikuk aktivitas pasar yang semakin padat oleh para pembeli dan pedagang. Fadil dan Haris duduk sejenak di dalam kios sambil menghitung lembaran uang hasil keuntungan bersih tersebut dengan teliti dan cermat.

"Jadi, dari total keuntungan bersih bulan ini sebesar tiga juta rupiah, berapa bagian yang akan kamu sisihkan untuk sedekah pertama ini, Fadil?" tanya Haris sambil merapikan tumpukan lembaran uang kertas di atas meja kayu.

Fadil terdiam sejenak, menghitung persentase yang ideal di dalam kepalanya sebelum memberikan keputusan yang mantap. "Aku ingin menyisihkan sekitar tiga puluh persen dari total keuntungan bersih ini, Haris. Yaitu sebesar sembilan ratus ribu rupiah khusus untuk dibagikan kepada fakir miskin di sekitar lingkungan kita."

Haris sedikit terbelalak mendengar jumlah yang cukup besar untuk ukuran seorang pedagang pemula. "Tiga puluh persen? Itu jumlah yang lumayan besar untuk ukuran usaha yang baru berjalan satu bulan, Fadil. Apakah kamu tidak khawatir modal usahamu nanti terganggu?"

Fadil menggelengkan kepala perlahan, tersenyum tenang menanggapi kekhawatiran sahabatnya. "Tidak, Haris. Aku justru sangat yakin. Bukankah Kiai Ahmad pernah bilang bahwa sedekah tidak akan pernah mengurangi harta, melainkan justru melipatgandakannya dan mendatangkan keberkahan yang tak disangka-sangka?"

Haris menghela napas lega, kemudian mengangguk tanda setuju dan mendukung penuh keputusan mulia tersebut. "Kamu benar, Fadil. Ilmu yang kita pelajari dari Kiai memang harus dibuktikan dalam amal nyata seperti ini. Lalu, kepada siapa saja kita akan menyalurkan sedekah ini?"

"Itulah yang sedang aku pikirkan," jawab Fadil sambil melipat amplop kecil berisi uang sedekah tersebut. "Aku ingin kita langsung turun tangan mencari orang-orang yang benar-benar membutuhkan di sekitar kawasan pasar dan perkampungan kumuh di belakang terminal lama."

"Ide yang sangat bagus," sambut Haris dengan antusias. "Bagaimana kalau kita mulai sekarang sebelum toko semakin ramai didatangi pelanggan siang hari?"

"Setuju. Mari kita beresin dulu barang dagangan di etalase, lalu kita berangkat bersama," ajak Fadil penuh semangat.

Kedua pemuda itu bergerak cepat merapikan kios. Setelah memastikan semuanya aman dan tertata rapi, mereka bersiap membawa amplop sedekah pertama dari hasil keringat usaha mandiri tersebut, melangkah keluar kios dengan hati yang dipenuhi rasa syukur yang mendalam.

°˖✧✿✧˖°

Perjalanan menyusuri jalan setapak di belakang terminal lama menghadirkan pemandangan kontras dengan kemegahan pusat kota. Rumah-rumah semi permanen berderet rapat dengan gang-gang sempit yang hanya cukup dilalui oleh pejalan kaki. Di sinilah banyak buruh harian lepas, janda tua, dan fakir miskin tinggal bertahan hidup di tengah keterbatasan ekonomi.

Fadil berjalan berdampingan dengan Haris, memegang erat amplop-amplop kecil berisi uang sedekah yang sudah mereka bagi-bagikan ke dalam beberapa bagian. Langkah kaki mereka pelan, memerhatikan setiap sudut lingkungan dengan seksama.

"Suasana di sini selalu membuatku merasa harus lebih banyak bersyukur atas apa yang kita miliki sekarang, Haris," ucap Fadil pelan, matanya menatap seorang kakek tua yang sedang duduk termenung di teras rumah kayunya yang reyot.

"Benar sekali, Fadil. Melihat langsung realitas kehidupan mereka membuat kita sadar bahwa rezeki yang kita dapatkan di toko tadi adalah titipan yang harus disyukuri dengan cara berbagi," balas Haris dengan nada penuh empdi.

Lihat selengkapnya