6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #136

Sedekah yang Tidak Diketahui

Sedekah yang Tidak Diketahui

Fadil belajar menjaga keikhlasan.

°˖✧✿✧˖°

Malam merangkak pelan di bawah naungan langit pesantren Jawa Timur yang bertabur bintang. Angin malam berembus lembut, menyisipkan kesejukan di antara deretan bilik kayu santri yang mulai senyap dari suara hafalan Al-Qur'an. Fadil Ar Rimbai duduk bersila di atas tikar pandan usang, menatap lurus ke arah nyala pelita kecil yang menari-nari diterpa angin dari jendela bambu yang terbuka separuh.

Pintu bilik berderit pelan. Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz melangkah masuk dengan langkah tenang, mengenakan jubah putih sederhana dan kopiah hitam yang menunjukkan garis-garis keteduhan di wajah sepuhnya.

"Belum tidur, Fadil? Matamu masih menyala dalam keheningan malam ini," sapa sang kiai dengan suara bariton yang lembut namun berwibawa.

Fadil segera merangkak maju, menyambut tangan gurunya dan menciumnya penuh takzim. "Belum, Kiai. Hati santri ini sedang bergejolak memikirkan makna sebuah amal. Siang tadi, ketika saya membantu memperbaiki saluran air pesantren tanpa sepengetahuan orang lain, tiba-tiba ada rasa bangga yang menyelinap di dada saya. Saya merasa hebat karena berbuat baik secara sembunyi-sembunyi. Bukankah itu juga bentuk ria yang terselubung?"

Kiai Zulfakar tersenyum tipis, lalu duduk bersila di hadapan pemuda asal Prabumulih itu. "Pertanyaanmu menunjukkan bahwa hatimu masih hidup, Fadil. Kesadaran bahwa ria bisa menyelinap bahkan dalam kesunyian adalah awal dari pemahaman tentang keikhlasan yang sejati."

Sang kiai merogoh saku jubahnya, mengeluarkan catatan kecil yang memuat enam pembuka masalah yang pernah ia wariskan. "Ingatlah selalu, Fadil. Di antara enam pembuka masalah itu—Al-Qur'an, Asmaul Husna, Shalat, Selawat, Doa, dan tawasul melalui amal saleh, ketakwaan, istighfar, serta sedekah—sedekah yang paling berat dan paling tinggi nilainya adalah sedekah yang tidak diketahui oleh siapa pun, bahkan oleh tangan kirimu sendiri."

"Bagaimana cara melatih hati agar benar-benar ikhlas, Kiai? Terkadang godaan untuk ingin dipuji atau sekadar dilihat orang lain begitu kuat mencengkeram jiwa," ucap Fadil dengan suara lirih.

"Ikhlas itu seperti semut hitam di atas batu hitam di malam yang pekat, Fadil," jawab Kiai Zulfakar penuh hikmah. "Ia ada, tapi sangat sulit dilihat. Kamu harus melatihnya setiap hari, menenggelamkan setiap amal kebaikan ke dalam lautan kerahasiaan hingga hanya Allah yang menjadi saksinya."

°˖✧✿✧˖°

Tahun-tahun bergulir membawa Fadil merantau ke kota Surabaya yang bising dan penuh gemerlap duniawi. Di tengah kesibukannya bekerja sebagai pengawas gudang beras di pasar induk, ia terus memegang teguh pesan sang kiai tentang keikhlasan dalam beramal. Namun, di tengah riuhnya kota metropolis, menjaga rahasia amal ternyata jauh lebih sulit daripada menjalaninya di balik dinding pesantren yang sunyi.

Suatu sore menjelang magrib, di bawah rintik hujan yang mulai membasahi jalanan aspal Surabaya yang padat, Fadil berjalan kaki menuju kamar kosnya yang sederhana. Di pinggir jalan raya, dekat sebuah jembatan penyelewengan yang sepi, ia melihat seorang pengemis tua renta duduk meringkuk kedinginan di bawah payung plastik yang sudah robek di beberapa bagian.

Fadil berhenti sejenak. Ia merogoh saku jaketnya, mendapati selembar uang pecahan cukup besar yang baru saja ia terima sebagai bonus tambahan dari Haji Ismail. Niat awal uang itu adalah untuk membelikan dirinya makan malam yang layak setelah sekian lama hanya makan seadanya.

Ia melangkah mendekati pengemis itu, berniat menyerahkan uang tersebut secara diam-diam tanpa ada orang yang melihat. Namun, tepat saat ia hendak menyelipkan uang ke dalam kaleng kaleng biskuit di hadapan sang kakek, sebuah suara familiar memanggil namanya dari belakang.

"Eh, Fadil! Wah, kebetulan sekali kita ketemu di sini!" seru Joko, rekan kerja lamanya di pabrik tekstil dulu, yang kini berjalan bersama dua orang temannya.

Fadil tertegun sejenak. Tangannya yang memegang uang tergantung di udara. Joko dan teman-temannya mendekat, menatap ke arah Fadil dan pengemis tua tersebut dengan senyum penuh kekaguman.

"Luar biasa memang kamu ini, Fadil! Dari dulu terkenal dermawan. Lihat tuh, habis kasih uang banyak ya ke pengemis? Pantas saja rezekimu selalu lancar," puji Joko dengan suara yang cukup nyaring, menarik perhatian beberapa pejalan kaki lain yang berlalu-lalang.

Fadil merasakan dadanya mendadak sesak. Niat tulusnya untuk bersedekah secara tersembunyi mendadak buyar di hadapan tatapan dan pujian orang-orang di sekitarnya. Ada rasa bangga yang sempat berbisik di dalam hatinya, namun segera ia tepis dengan istighfar yang panjang di dalam dada.

"Ah, tidak, Joko. Saya hanya kebetulan lewat," jawab Fadil singkat dengan nada datar, berusaha menyembunyikan ketidaknyamanan hatinya.

°˖✧✿✧˖°

Malam itu, di dalam kamar kosnya yang sempit, Fadil tidak bisa langsung memejamkan matanya. Ia duduk bersandar di dinding semen, merenungkan kejadian di bawah jembatan tadi sore. Meskipun sedekah itu telah sampai kepada yang berhak, hatinya terasa hambar dan gersang karena amal tersebut telanjur tersiar dan mendatangkan pujian manusia.

Pintu kamarnya diketik pelan dari luar. Hasan, tetangga kosnya yang juga buruh pabrik, membuka pintu dan menyembulkan kepala.

"Fadil, kamu belum tidur? Tadi sore Joko cerita ke anak-anak di warung kopi kalau kamu baru saja bagi-bagi uang jutaan rupiah ke pengemis jalanan. Kamu hebat sekali, Fadil!" puji Hasan dengan mata berbinar-binar.

Fadil menarik napas panjang, tersenyum pahit. "Masuklah, San. Duduk dulu."

Lihat selengkapnya