6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #137

Istighfar

Fadil memperbanyak istighfar dan introspeksi diri.

Suara deburan angin malam di pesantren Darul Hikmah Jawa Timur itu terdengar bergesekan dengan dinding bambu kamar santri. Fadil Ar Rimbai duduk bersila di atas tikar pandan yang mulai aus, menatap nyala pelita kecil yang berkelip diterpa angin. Di luar, hujan gerimis baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah yang mengingatkannya pada tanah kelahirannya di Prabumulih.

Pintu bilik berderit pelan. Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz berdiri di ambang pintu, mengenakan sarung usang dan peci hitam yang sudah pudar warnanya.

"Belum tidur, Fadil?" tanya sang kiai dengan suara lembut namun berwibawa.

Fadil segera merangkak maju, mencium tangan gurunya dengan takzim. "Belum, Kiai. Hati santri ini masih gelisah memikirkan masa depan selepas dari sini. Pulang ke Sumatera rasanya berat, bertahan di Jawa juga penuh ketidakpastian."

Kiai Zulfakar tersenyum tipis. Ia duduk di sebelah Fadil, menepuk pelan pundak pemuda bertubuh tegap itu. "Ketakutanmu adalah awal dari kesadaran, Nak. Manusia yang tidak merasa takut sering kali lupa daratan. Tapi ingat, dunia ini bukan tempat untuk mengeluh, melainkan tempat untuk menyelesaikan ujian."

Sang kiai kemudian merogoh saku jubahnya, mengeluarkan sebuah catatan kecil berisi enam poin utama yang malam itu diwariskan kepada Fadil.

"Dengarkan baik-baik, Fadil. Ini adalah enam pembuka masalah yang akan menyelamatkanmu dari lorong-lorong gelap kehidupan," ujar Kiai Zulfakar.

"Apa itu, Kiai?" tanya Fadil penuh harap.

"Al-Qur'an sebagai kompasmu. Asmaul Husna sebagai bentengmu. Shalat sebagai penyejuk jiwamu. Selawat sebagai penjemput syafaatmu. Doa sebagai senjata rahasiamu. Dan tawasul melalui amal saleh, ketakwaan, istighfar, serta sedekah sebagai kunci pelepas belenggu."

Fadil mengangguk dalam-dalam, meresapi setiap kalimat gurunya. Namun, ia belum sepenuhnya mengerti bahwa warisan itu kelak harus ia bayar dengan air mata dan darah di tanah rantau berikutnya.

°˖✧✿✧˖°

Tiga tahun berlalu sejak malam itu. Fadil kini menginjakkan kaki di Surabaya, sebuah kota metropolitan yang bising, keras, dan penuh tipu daya. Ia datang bukan sebagai santri yang dilindungi tembok pesantren, melainkan sebagai seorang pemuda pencari nafkah yang harus mengirim uang untuk Abdul Jabbar dan Zubaidah di Prabumulih.

Hari-hari pertama di pabrik tekstil tempatnya bekerja langsung menyambutnya dengan bentakan mandor yang kejam. Fadil, yang terbiasa dengan ketenangan kitab kuning, harus berhadapan dengan mesin-mesin besar yang memekakkan telinga dan rekan kerja yang saling menjatuhkan.

"Hei, anak baru! Jangan banyak melamun! Kalau targetmu tidak tercapai hari ini, potong gaji!" bentak Joko, sang kepala bagian, sambil melempar setumpuk kain kasar ke meja kerja Fadil.

Fadil hanya menunduk. Tangannya yang biasa memegang kitab kini lecet dan berdarah karena gesekan kain sintetis. Di sudut gudang yang pengap, ia menarik napas panjang, meraba tas kecil berisi Al-Qur'an saku pemberian Kiai Zulfakar.

"Sabar, Fadil. Ini baru permulaan," bisiknya pada diri sendiri.

Malam harinya, di sebuah petak kos sempit berukuran tiga kali tiga meter, Fadil mendapati kenyataan pahit lainnya. Dompetnya hilang. Seluruh gaji pertamanya raib dicuri orang di dalam bus kota saat ia hendak pulang. Uang yang seharusnya ia transfer untuk ibunya di Sumatera kini lenyap tak bersisa.

Fadil terduduk di lantai semen yang dingin. Kepalanya pusing, perutnya lapar karena seharian hanya makan sepotong ubi. Emosinya bergejolak. Darah mudanya mendidih. Ia teringat akan kemampuan bela diri yang ia miliki—ia bisa saja mencari pencuri itu dan menghajarnya habis-habisan.

Namun, ia teringat pesan Kiai Zulfakar. Ia tidak mengambil jalan kekerasan. Sebaliknya, ia mengambil wudu di kamar mandi umum yang kumuh, membentangkan sajadah usang, dan mendirikan shalat malam.

"Ya Allah, hambaMu ini lemah," rintih Fadil dalam sujudnya yang panjang. Air matanya tumpah membasahi lantai. "Engkau yang Maha Kaya, bukakanlah pintu rezeki dan jalan keluar dari kesempitan ini."

°˖✧✿✧˖°

Ujian hidup Fadil tidak berhenti pada hilangnya gaji pertama. Seminggu setelah kejadian itu, ia dipecat secara sepihak dari pabrik tekstil akibat fitnah yang dilontarkan oleh rekan kerjanya sendiri yang iri pada kedisiplinannya.

Fadil berjalan termenung di bawah terik matahari Surabaya yang membakar kulit. Di tangan kanannya hanya tersisa sebuah kantong plastik berisi pakaian dan Al-Qur'an saku. Penginapannya pun sudah menunggak pembayaran selama dua minggu. Pemilik kos, seorang lelaki paruh baya bernama Pak Marta, berdiri di depan pintu dengan wajah garang.

"Kalau hari ini kamu tidak bisa bayar sewa, silakan bawa barang-barangmu keluar, Fadil! Saya bukan badan amal!" teriak Pak Marta di hadapan para tetangga kos.

"Tolong beri saya waktu dua hari lagi, Pak Marta. Saya sedang ikhtiar mencari pekerjaan lain," mohon Fadil dengan suara serak.

"Alasan klasik! Pergi sana!"

Fadil diusir. Ia terpaksa tidur di serambi sebuah masjid tua di kawasan Ampel. Di tempat sunyi itu, di tengah desir angin malam dan suara kendaraan yang berlalu-lalang di luar pagar masjid, Fadil merasa benar-benar berada di titik nadir kehidupannya.

Ia membuka catatan tentang enam pembuka masalah. Matanya terpaku pada poin keenam: tawasul melalui amal saleh, ketakwaan, istighfar, serta sedekah.

Lihat selengkapnya