Ia menyadari masih banyak kekurangan dalam dirinya.
°˖✧✿✧˖°
Malam semakin larut di kamar santri pesantren Jawa Timur. Desir angin dingin menyelinap melalui celah-celah dinding kayu, membawa serta keheningan yang kerap kali memaksa jiwa manusia untuk jujur pada dirinya sendiri. Fadil Ar Rimbai duduk bersila di atas sajadah usang yang telah menemani hari-harinya selama bertahun-tahun. Di hadapannya, nyala pelita kecil berkelip lemah, memantulkan bayangan tubuhnya yang tegap di dinding bilik pesantren.
Pintu bilik berderit pelan. Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz melangkah masuk dengan tenang, mengenakan jubah putih sederhana dan peci hitam yang senada. Wajah sang kiai memancarkan keteduhan yang selalu berhasil menenangkan kegelisahan hati para santrinya.
"Belum tidur, Fadil? Matamu masih menyala tajam penuh beban," ucap Kiai Zulfakar lembut sambil duduk di atas tikar pandan di hadapan pemuda asal Prabumulih itu.
Fadil segera merunduk takzim, mencium punggung tangan gurunya dengan penuh khidmat. "Belum, Kiai. Hati santri ini mendadak terasa berat. Semakin jauh saya menuntut ilmu dan merenungkan petuah Kiai, semakin saya merasa diri saya dipenuhi oleh cacat dan noda masa lalu," ujarnya dengan suara bergetar.
Sang kiai tersenyum tipis, menatap lurus ke dalam mata Fadil. "Rasa berat itu adalah tanda bahwa hatimu masih hidup, Fadil. Manusia yang merasa dirinya suci adalah manusia yang sedang berjalan menuju kebinasaan."
"Tapi Kiai, malam ini bayangan masa lalu kembali menghantuiku," lanjut Fadil, jemarinya meremas ujung kain sarungnya. "Dosa-dosa kecil yang dulu saya anggap sepele, ucapan-ucapan menyakitkan yang pernah saya lemparkan kepada sesama, dan kelalaian hati saya dalam beribadah seolah berbaris rapi meminta pertanggungjawaban."
"Itulah pintu introspeksi, Nak," balas Kiai Zulfakar bijak. "Allah sedang membuka mata hatimu untuk melihat kekurangan dirimu sendiri, agar kamu tidak terjebak dalam kesombongan rohani."
Sang kiai kemudian merogoh saku jubahnya, mengeluarkan catatan kecil berisi enam pembuka masalah yang pernah ia wariskan. "Ingatlah selalu, Fadil. Al-Qur'an, Asmaul Husna, Shalat, Selawat, Doa, serta tawasul melalui amal saleh, ketakwaan, istighfar, dan sedekah adalah jalan keluar. Namun, jalan itu hanya akan terbuka bagi jiwa yang rendah hati dan senantiasa mengakui kesalahannya."
°˖✧✿✧˖° Titik Plot Pertama
Tahun-tahun berlalu membawa Fadil melintasi badai kehidupan hingga ia menginjakkan kaki di kota besar Surabaya. Di tengah kesibukan harian dan kerasnya persaingan hidup sebagai perantau yang harus mengirim uang untuk Abdul Jabbar dan Zubaidah di Sumatra, Fadil sering kali terbuai oleh pencapaian-pencapaian kecilnya. Namun, malam ini, di dalam petak kos sempit berukuran tiga kali tiga meter, gelombang introspeksi itu datang menghantam pertahanannya.
Fadil duduk termenung di lantai semen yang dingin. Lampu neon di kamarnya berdengung pelan, menerangi kamarnya yang hanya berisi sebuah lemari kecil dan meja kayu tempat ia biasa membaca kitab.
Pintu kamarnya diketok pelan dari luar. Suara langkah kaki ringan terdengar, disusul oleh sapaan ramah dari tetangga kosnya, seorang pemuda bernama Hasan yang bekerja sebagai buruh pabrik.
"Fadil, belum tidur? Kamu kelihatan murung sekali sejak pulang kerja tadi sore," tanya Hasan sambil membuka sedikit pintu kamar yang tidak dikunci rapat.
Fadil mendongak, mencoba memasang senyum tipis di wajahnya. "Masuk, San. Tidak apa-apa, hanya sedang merenungkan diri saja."
Hasan melangkah masuk dan duduk bersila di dekat pintu. "Merenungkan apa lagi? Bukannya kamu sudah jadi pengawas gudang yang dihormati di pasar? Hidupmu sudah jauh lebih baik dibanding saat pertama kali datang ke Surabaya dulu."
Fadil menggeleng pelan, menghela napas panjang hingga dadanya terasa sesak. "Itu dia masalahnya, Hasan. Kemapanan dan kesuksesan kecil ini sering kali membuatku lupa diri. Sore tadi, saat aku menegur salah satu buruh angkut yang melakukan kesalahan kecil, ada rasa sombong yang tiba-tiba berbisik di dalam dadaku. Aku merasa diriku lebih pintar, lebih bersih, dan lebih mulia darinya."
Hasan tertegun mendengar kejujuran sahabatnya itu. "Ah, itu kan manusiawi, Fadil. Namanya juga manusia, kadang terpeleset emosi."
"Tapi bagiku, itu adalah dosa batin yang berbahaya," balas Fadil dengan nada lirih. "Aku teringat masa laluku di Prabumulih, bagaimana ayahku berdarah-darah mencari nafkah dengan penuh kerendahan hati. Mengapa sekarang, setelah sedikit diberi kepercayaan, aku justru menjadi orang yang mudah merendahkan orang lain?"
Hasan terdiam sejenak, meresapi kedalaman kalimat Fadil. "Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri, Fadil. Tidak semua orang mau jujur mengakui kesombongan batinnya seperti kamu."
"Justru karena aku jarang jujur pada diriku sendiri lah, Allah sering kali harus menurunkan ujian yang keras untuk menyadarkanku," ucap Fadil sambil menatap kosong ke lantai.
°˖✧✿✧˖°
Kesadaran akan banyaknya kekurangan diri itu tidak lantas membuat Fadil merasa putus asa, melainkan mendorongnya untuk melakukan evaluasi total terhadap setiap langkah yang ia ambil. Hari demi hari di tempat kerjanya dijalaninya dengan kewaspadaan batin yang tinggi. Setiap kali ia hendak berbicara atau memutuskan sesuatu, ia selalu bertanya pada nuraninya: Apakah ini dilandasi keikhlasan atau sekadar nafsu ingin dipuji?
Suatu pagi, di area gudang beras tempatnya bekerja, seorang pedagang kecil bernama Pak Parto datang dengan wajah panik. Karung beras yang dipesannya ternyata mengalami kekurangan timbangan akibat kesalahan pencatatan administrasi.
"Nak Fadil, bagaimana ini? Warung saya bisa rugi besar kalau selisih timbangan ini tidak diganti!" protes Pak Parto dengan nada tinggi di hadapan para pekerja lain.
Beberapa buruh gudang yang melihat kejadian itu langsung bersiap membela Fadil karena mereka tahu Fadil tidak mungkin sengaja berbuat curang.
"Jangan asal nuduh ya, Pak Parto! Pak Fadil itu orang paling jujur di sini!" seru salah seorang buruh dengan nada emosional.
Fadil segera mengangkat tangan, memberi isyarat kepada para pekerjanya untuk tenang. Ia berdiri dari balik meja kerjanya, lalu menghampiri Pak Parto dengan sikap yang sangat santun.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak Parto. Kesalahan ini murni kelalaian di bagian administrasi yang saya pimpin. Saya tidak akan membela diri," kata Fadil dengan suara tenang dan penuh takzim.
Pak Parto yang tadinya berniat meluapkan kemarahannya mendadak tertegun. Ia tidak menyangka seorang pengawas gudang besar akan dengan berlapang dada mengakui kesalahan tanpa lempar tanggung jawab.