6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #139

Meminta Maaf kepada Orang Tua

Meminta Maaf kepada Orang Tua

Fadil pulang ke Prabumulih.

°˖✧✿✧˖°

Malam semakin larut di kota Prabumulih, Sumatra Selatan. Udara hangat khas tanah Sumatra berpadu dengan aroma daun basah di pekarangan rumah panggung sederhana keluarga Abdul Jabbar. Di bawah temaram cahaya pelita minyak yang menggantung di tiang kayu, Fadil Ar Rimbai duduk bersila di atas tikar pandan usang. Bayangan tubuhnya yang tegap tampak memantul di dinding papan yang mulai dimakan usia.

Pintu bilik berderit pelan. Zubaidah, sang ibu, melangkah keluar sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh manis hangat dan ubi rebus. Wajah perempuan paruh baya itu menyuratkan garis-garis kelelahan yang disembunyikan di balik senyuman tulusnya.

"Belum tidur, Nak? Perjalanan dari Surabaya pasti sangat melelahkan," sapa Zubaidah lembut sambil meletakkan nampan di hadapan Fadil.

Fadil segera merangkak maju, menyambut tangan ibunya dan mencium punggung tangan yang keriput itu penuh takzim. "Belum, Mak. Hati santri ini justru merasa gelisah sebelum menuntaskan satu hal yang selama ini mengganjal di dada saya."

Zubaidah duduk bersila, mengusap rambut putranya dengan penuh kasih sayang. "Kegelisahan apa lagi yang kamu bawa dari tanah rantau, Fadil? Bukankah hidupmu di sana sudah mapan, dan kamu sudah banyak menolong orang lain?"

"Justru karena kesuksesan itulah, Mak, saya sadar bahwa saya sering kali lalai," ucap Fadil dengan suara bergetar. "Di tengah kesibukan mengejar target pekerjaan dan memegang amanah besar dari Tuan Haji Ismail, saya sering lupa pada waktu-waktu berharga bersama Mak dan Abah. Saya bahkan pernah menolak panggilan telepon Mak karena alasan rapat bisnis."

Zubaidah tersenyum hangat, menggelengkan kepalanya pelan. "Ibu tidak pernah memasukkan itu ke dalam hati, Fadil. Seorang ibu selalu memaafkan anaknya sebelum anak itu meminta maaf."

"Tapi saya tidak bisa tenang, Mak," balas Fadil menatap lurus mata ibunya. "Sebelum saya kembali melangkah ke Jawa, malam ini saya ingin membersihkan batin saya sepenuhnya di hadapan orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan saya."

°˖✧✿✧˖°

Kepulangan Fadil ke Prabumulih kali ini memang berbeda dari kunjungan-kunjungan sebelumnya. Jika dulu ia pulang membawa beban kecemasan ekonomi atau sekadar melepas rindu, kepulangan kali ini didorong oleh panggilan spiritual yang amat kuat: membersihkan dosa-dosa kecil dan kelalaian batin terhadap kedua orang tuanya.

Keesokan paginya, matahari pagi menyinari dedaunan kopi di pekarangan rumah. Fadil membantu Abdul Jabbar merapikan perkakas pertukangan di kolong rumah panggung. Bau serbuk kayu melayang di udara, membangkitkan kenangan masa kecil Fadil saat ia masih sering membantu ayahnya menyerut kayu papan.

"Abah," panggil Fadil pelan, meletakkan pahat di atas meja kerja kayu.

Abdul Jabbar menghentikan pekerjaannya, menoleh dan menatap putranya dengan pandangan penuh perhatian. "Ada apa, Fadil? Kelihatan serius sekali wajahmu pagi ini."

Fadil menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian batinnya. Ia berlutut di hadapan ayahnya, menundukkan kepala sedalam-dalamnya. "Fadil ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Abah."

Abdul Jabbar tertegun. Lelaki paruh baya itu meletakkan alat serut kayunya, lalu meraba pundak Fadil. "Meminta maaf untuk apa, Nak? Kamu tidak berbuat kesalahan besar pada Abah."

"Justru kesalahan-kesalahan kecil dan sikap lalai saya yang membuat saya merasa berdosa, Bah," jawab Fadil dengan suara parau. "Ingatkah dulu, saat saya pertama kali merampungkan urusan di pabrik tekstil dan gagal mengirim uang karena dicuri? Saya sempat membentak Abah lewat sambungan telepon umum karena merasa putus asa. Kata-kata saya saat itu menyayat hati Abah, tapi Abah tetap memaafkan saya."

Abdul Jabbar terdiam sejenak. Ingatannya kembali ke masa-masa sulit bertahun-tahun lalu. Ia tersenyum samar, lalu memegang dagu Fadil agar putranya mendongak menatap matanya.

"Fadil, peristiwa itu sudah lama terkubur di dalam tanah. Seorang anak tidak akan pernah bisa melunasi jasa orang tuanya, dan orang tua tidak pernah menuntut anaknya untuk membayar," ujar Abdul Jabbar bijak.

°˖✧✿✧˖°

Meskipun Abdul Jabbar telah memberikan maaf dengan ikhlas, Fadil merasa proses pembersihan batin itu belum sepenuhnya tuntas. Bagi seorang pemuda yang mendalami ilmu tasawuf di pesantren Kiai Zulfakar, meminta maaf bukan sekadar menggugurkan kewajiban sosial, melainkan sebuah bentuk penyerahan ego di hadapan orang tua yang menjadi pintu utama rida Allah.

Lihat selengkapnya