6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #140

Pelukan Abdul Jabbar

Ayah dan anak kembali bertemu setelah perjalanan panjang.

°˖✧✿✧˖°

Malam merangkak pelan di bawah naungan langit Prabumulih, Sumatra Selatan. Udara hangat khas kota nanas berpadu dengan aroma tanah basah seusai hujan sore tadi. Di teras rumah panggung sederhana berlantai kayu ulin yang mulai dimakan usia, Fadil Ar Rimbai duduk bersila di atas tikar pandan. Di hadapannya, nyala pelita kecil berkelip lemah, memantulkan bayangan tubuhnya yang kini tampak lebih tegap dan matang setelah bertahun-tahun merantau di tanah Jawa.

Pintu rumah berderit pelan. Abdul Jabbar, sang ayah, melangkah keluar membawa nampan berisi dua cangkir kopi hitam mengepul. Garis-garis penuaan tampak jelas di wajah lelaki paruh baya itu, sisa dari puluhan tahun perjuangan keras mencari rezeki sebagai buruh tani dan tukang kayu di pelosok Sumatra.

"Belum tidur, Fadil? Matamu masih menyala dalam keheningan malam ini," sapa Abdul Jabbar dengan suara bariton yang hangat dan berwibawa.

Fadil segera merangkak maju, menyambut tangan ayahnya dan mencium punggung tangan yang kasar itu penuh takzim. "Belum, Abah. Hati santri ini sedang bergejolak memikirkan makna sebuah amal. Pulang ke rumah ini membuat saya teringat masa-masa sulit dulu, saat Abah mengajarkan bahwa setiap kebaikan harus disembunyikan dari pandangan manusia agar ia murni di sisi Allah."

Abdul Jabbar tersenyum tipis, lalu bersila di hadapan anak kebanggaannya itu. "Pertanyaanmu menunjukkan bahwa hatimu masih hidup, Nak. Kesadaran bahwa ria bisa menyelinap bahkan dalam kesunyian adalah awal dari pemahaman tentang keikhlasan yang sejati."

Sang ayah meletakkan nampan, lalu menepuk pelan pundak Fadil. "Ingatlah selalu catatan kecil yang diwariskan Kiai Zulfakar dulu, Fadil. Di antara enam pembuka masalah—Al-Qur'an, Asmaul Husna, Shalat, Selawat, Doa, dan tawasul melalui amal saleh, ketakwaan, istighfar, serta sedekah—sedekah yang paling berat dan paling tinggi nilainya adalah sedekah yang tidak diketahui oleh siapa pun, bahkan oleh tangan kirimu sendiri."

"Bagaimana cara melatih hati agar benar-benar ikhlas, Abah? Terkadang godaan untuk ingin dipuji atau sekadar dilihat orang lain begitu kuat mencengkeram jiwa, bahkan di tanah kelahiran sendiri," ucap Fadil dengan suara lirih.

"Ikhlas itu seperti semut hitam di atas batu hitam di malam yang pekat, Fadil," jawab Abdul Jabbar penuh hikmah. "Ia ada, tapi sangat sulit dilihat. Kamu harus melatihnya setiap hari, menenggelamkan setiap amal kebaikan ke dalam lautan kerahasiaan hingga hanya Allah yang menjadi saksinya."

°˖✧✿✧˖°

Tahun-tahun bergulir membawa Fadil merantau ke Surabaya, merintis karir dari buruh panggul hingga menjadi pengawas gudang, dan kini kembali menengok kampung halamannya sebagai seorang pengusaha muda yang sukses. Di tengah kesibukannya memegang amanah besar, Fadil terus memegang teguh pesan sang ayah dan kiai tentang keikhlasan dalam beramal. Namun, di tanah kelahirannya sendiri, menjaga rahasia amal ternyata menghadirkan ujian yang tak kalah pelik.

Suatu sore menjelang magrib, di bawah rintik hujan yang mulai membasahi jalanan tanah merah di Prabumulih, Fadil berjalan kaki menyusuri lorong kampung tempat masa kecilnya dihabiskan. Di dekat sebuah surau tua tempat ia biasa mengaji Al-Qur'an dulu, ia melihat seorang kakek tua renta penjual kayu bakar duduk meringkuk kedinginan di bawah emperan warung yang tutup.

Fadil berhenti sejenak. Ia merogoh saku jaketnya, mendapati selembar amplop tebal berisi uang tunai pecahan rupiah yang baru saja ia siapkan untuk dibagikan secara diam-diam. Niat awal uang itu adalah untuk membantu warga sekitar tanpa ada satu pun yang tahu identitasnya.

Ia melangkah mendekati kakek itu, berniat menyelipkan amplop tersebut ke dalam keranjang kayu di hadapan sang kakek. Namun, tepat saat ia hendak membungkuk, sebuah suara familiar memanggil namanya dari belakang.

"Eh, Fadil Ar Rimbai! Wah, anak rantau yang sudah jadi orang sukses di Jawa, ya!" seru Mang Udin, tetangga masa kecilnya, yang berjalan bersama dua orang pemuda kampung.

Fadil tertegun sejenak. Tangannya yang memegang amplop tergantung di udara. Mang Udin dan pemuda-pemuda itu mendekat, menatap ke arah Fadil dan sang kakek tua dengan senyum penuh kekaguman.

"Luar biasa memang kamu ini, Fadil! Pulang-pulang langsung bagi-bagi uang jutaan rupiah ke orang miskin. Pantas saja rezekimu di Jawa selalu lancar," puji Mang Udin dengan suara yang cukup nyaring, menarik perhatian beberapa warga yang berlalu-lalang.

Fadil merasakan dadanya mendadak sesak. Niat tulusnya untuk bersedekah secara tersembunyi mendadak buyar di hadapan tatapan dan pujian orang-orang sekampungnya. Ada rasa bangga yang sempat berbisik di dalam hatinya, namun segera ia tepis dengan istighfar yang panjang di dalam dada.

"Ah, tidak, Mang Udin. Saya hanya kebetulan lewat dan ingin bersilaturahmi," jawab Fadil singkat dengan nada datar, berusaha menyembunyikan ketidaknyamanan hatinya.

°˖✧✿✧˖°

Malam itu, di dalam kamar masa kecilnya yang berbau kayu tua dan jerami, Fadil tidak bisa langsung memejamkan matanya. Ia duduk bersandar di dinding papan, merenungkan kejadian di dekat surau tadi sore. Meskipun sedekah itu telah sampai kepada yang berhak, hatinya terasa hambar dan gersang karena amal tersebut telanjur tersiar dan mendatangkan pujian warga sekampung.

Pintu kamarnya diketik pelan dari luar. Abdul Jabbar, sang ayah, membuka pintu papan itu dan menyembulkan kepala sambil membawa segelas air hangat.

"Fadil, kamu belum tidur? Tadi sore Mang Udin cerita ke tetangga warung kopi kalau kamu baru saja bagi-bagi uang banyak ke kakek penjual kayu. Kamu hebat sekali, Nak!" puji Abdul Jabbar dengan senyum bangga seorang ayah.

Lihat selengkapnya