Orang tua melihat perubahan besar dalam diri Fadil.
°˖✧✿✧˖°
Malam merayap perlahan di atas kota Prabumulih, Sumatra Selatan. Udara lembap sisa hujan sore berpadu dengan aroma khas kayu ulin basah di pekarangan rumah panggung keluarga Abdul Jabbar. Di ruang tengah yang diterangi lampu templok bertekanan minyak tanah redup, Fadil Ar Rimbai duduk bersila di atas tikar pandan tua yang seratnya sudah mulai terurai. Di hadapannya, sepiring ubi rebus dan dua cangkir kopi hitam mengepul menyebarkan kehangatan di tengah keheningan malam pedesaan.
Abdul Jabbar, sang ayah, duduk bersandar pada tiang utama rumah, sementara Zubaidah, sang ibu, melipat kain sarung usang di samping suaminya. Pasangan paruh baya itu memperhatikan setiap gerak-gerik putra bungsu mereka dengan tatapan yang menyiratkan keheranan campur haru.
"Belum tidur, Fadil? Matamu masih tampak begitu bening menatap nyala pelita itu," sapa Abdul Jabbar dengan suara baritonnya yang tenang, memecah keheningan malam.
Fadil segera merangkak maju, menyambut tangan ayahnya dan mencium punggung tangan yang penuh dengan guratan kasar perjuangan hidup. "Belum, Abah. Hati santri ini justru merasa sangat tenang malam berada di rumah ini. Udara Prabumulih tidak berubah, tetap sama seperti saat saya kecil dulu."
Zubaidah tersenyum tipis, merapikan letak peci hitam yang dikenakan Fadil. "Udaranya memang tidak berubah, Nak. Tapi anak yang duduk di hadapan kami ini sudah sangat berbeda dari Fadil yang pergi merantau bertahun-tahun lalu."
Fadil menatap kedua orang tuanya dengan pandangan penuh takzim. "Berbeda bagaimana, Mak? Fadil tetaplah anak kandung Mak dan Abah yang dulu sering merepotkan."
"Bukan soal penampilan atau pakaian bagus yang kamu kenakan sekarang," timpal Abdul Jabbar sambil menyeruput kopinya perlahan. "Tapi ada ketenangan batin yang terpancar dari caramu berbicara, caramu duduk, dan caramu memandang dunia. Dulu, setiap kali kamu pulang atau menelepon, matamu selalu menyiratkan beban dan rasa cemas yang besar terhadap kerasnya hidup. Sekarang, keteduhan itu begitu terasa di ruangan ini."
Fadil menundukkan kepala, meresapi setiap kata yang diucapkan sang ayah. Ia tahu, perubahan itu bukanlah buah dari kepintarannya sendiri, melainkan hasil dari tempaan panjang di bawah bimbingan Kiai Zulfakar dan pengamalan enam pembuka masalah yang diajarkan di pesantren.
°˖✧✿✧˖°
Keesokan paginya, sinar matahari tropis memantul gemerlap di atas dedaunan kopi dan pohon buah duku di pekarangan belakang rumah panggung. Fadil bangun sebelum subuh, mengambil air wudu di sumur tua berkerangka kayu, lalu menunaikan salat tahajud dan subuh berjemaah di surau kecil tempat ia dulu belajar mengaji sewaktu kecil.
Selepas salat, ia tidak langsung kembali ke rumah. Ia duduk di serambi surau, membantu Pak Cik Basri, seorang marbot tua yang sudah pikun, menyapu halaman surau yang dipenuhi daun-daun kering.
Pak Cik Basri menatap Fadil dengan pandangan samar di balik kacamata usangnya. "Kamu ini anak siapa ya? Pagi-pagi sudah rajin membantu kakek tua bersih-bersih surau. Perasaan warga sini tidak banyak pemuda kota yang mau turun tangan begini."
Fadil tersenyum hangat, membungkuk sedikit untuk mengambil sisa dedaunan. "Saya Fadil, Pak Cik. Anaknya Abdul Jabbar tukang kayu itu. Dulu waktu kecil saya sering mengaji di sini."
Mata Pak Cik Basri membelalak kaget. "Fadil? Anak Abdul Jabbar? Wah, masya Allah! Kamu sekarang sudah jadi orang sukses di Jawa, jadi bos besar di perusahaan, tapi masih mau memegang sapu lidi dan membersihkan lantai surau kumuh ini?"
"Surau ini tidak kumuh, Pak Cik. Di sinilah tempat saya pertama kali belajar mengenal huruf hijaiyah," jawab Fadil lembut. "Harta atau kedudukan di luar sana tidak ada artinya kalau kita lupa dari mana kita berpijak."
Perbincangan singkat itu didengar oleh beberapa warga yang baru datang untuk salat sunnah duha. Mereka saling berbisik-bisik penuh takjub, membandingkan Fadil yang sekarang dengan pemuda-pemuda lain sebayanya yang kerap merantau namun kembali dengan kesombongan.
Menjelang siang, ketika Fadil berjalan pulang melewati jalan setapak kampung, ia berpapasan dengan beberapa ibu-ibu yang sedang menjunjung keranjang hasil kebun. Alih-alih berjalan melejit atau bersikap acuh, Fadil menyapa mereka lebih dulu dengan membungkuk hormat, menanyakan kabar keluarga mereka satu persatu.
Sesampainya di rumah, Zubaidah yang sedang menyiapkan makan siang di dapur terbuka langsung menyambut putranya dengan senyuman lebar. "Tadi Mak dengar cerita dari tetangga sebelah, katanya kamu tadi pagi ikut menyapu surau kampung, Fadil?"
Fadil mencuci tangan di gentong tanah liat sebelum duduk di balai-balai bambu. "Iya, Mak. Iseng saja mengisi waktu luang sambil olahraga kecil."
"Bukan sekadar iseng, Nak," kata Zubaidah dengan mata berkaca-kaca. "Orang-orang kampung sampai heran melihat perubahanmu. Dulu sebelum merantau, kamu anak yang mudah sekali tersulut emosi kalau diejek teman sebaya. Sekarang, kamu seperti mata air yang menyejukkan bagi siapa saja yang kehausan."
°˖✧✿✧˖°
Meskipun pujian dan pengakuan dari warga kampung terus mengalir, Fadil justru merasa tertantang secara batin untuk tidak terjebak dalam perangkap ria. Sore harinya, ia memilih menyendiri di serambi belakang rumah panggung, membaca catatan kecil berisi enam pembuka masalah yang selalu ia bawa di dalam saku bajunya.
Abdul Jabbar menghampirinya, membawa dua potong pisang goreng hangat buatan Zubaidah. Lelaki tua itu duduk di sebelah Fadil, mengamati ekspresi khusyuk di wajah anaknya.
"Fadil, Abah memperhatikan sejak kemarin malam kamu selalu menyempatkan diri membaca catatan kecil itu. Apa rahasia di balik tulisan tua itu, Nak?" tanya Abdul Jabbar penasaran.
Fadil menutup buku catatan kecilnya perlahan, lalu menatap sang ayah dengan senyuman tulus. "Ini adalah peta kehidupan yang diberikan Kiai Zulfakar kepada saya saat pertama kali menginjakkan kaki di pesantren, Abah."