Fadil mulai memikirkan bagaimana usahanya dapat membuka lapangan pekerjaan.
°˖✧✿✧˖°
Malam di Prabumulih menghadirkan keheningan yang kontras dengan hiruk-pikuk kota besar tempat Fadil Ar Rimbai pernah merajut impiannya. Di balik jendela kayu rumah sederhana peninggalan orang tuanya, Fadil berdiri termenung menatap pekarangan yang disinari cahaya lampu teplok tua. Suara jangkrik bersahutan di kebun belakang, berpadu dengan hembusan angin malam Sumatra yang membawa aroma tanah basah dan daun karet. Suasana ini jauh lebih tenang ketimbang bisingnya deru kendaraan dan polusi kota, namun batinnya justru tengah bergejolak dalam keheningan yang panjang.
Di atas meja kayu jati yang sederhana, terbentang sebuah buku catatan kecil berisikan tulisan tangan tentang enam pembuka masalah—Al-Qur'an, Asmaul Husna, Shalat, Selawat, Doa, dan tawasul melalui amal saleh, ketakwaan, istighfar, serta sedekah. Pikiran Fadil melayang kembali ke masa-masa awal perjalanannya, ketika ia pertama kali meninggalkan tanah kelahirannya ini menuju Jawa Timur untuk menimba ilmu di bawah bimbingan Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz.
Pintu kamar berderit pelan. Abdul Jabbar, sang ayah yang kini rambutnya telah memutih seluruhnya, melangkah masuk membawa secangkir teh panas tanpa gula.
"Belum tidur, Fadil?" tanya Abdul Jabbar dengan suara serak namun hangat, menyodorkan cangkir itu kepada anaknya.
Fadil segera menyambut cangkir tersebut dengan takzim, mencium punggung tangan ayahnya yang kasar penuh bekas peluh kehidupan. "Belum, Bah. Hati santri ini masih merenungkan perjalanan hidup yang sudah Allah gariskan. Pulang ke Prabumulih membawa kisah tersendiri yang membuat Fadil sadar betapa kecilnya diri ini."
Abdul Jabbar tersenyum tipis, lalu duduk di kursi bambu di sebelah meja kerja anaknya. "Manusia memang tempatnya lupa, Nak. Tapi kepulanganmu ke tanah kelahiran ini bukan sekadar untuk melepas rindu, melainkan untuk menguji apakah akar keimananmu masih tertancap kuat di bumi tempat kamu dibesarkan."
Fadil mengangguk dalam-dalam. "Fadil teringat saat-saat sulit dulu, Bah. Ketika dompet hilang di Surabaya, ketika diusir dari kos, hingga saat-saat harus bergelut sebagai buruh panggul di pasar. Semua ujian itu terasa berat, tapi kini Fadil paham bahwa masalah bukanlah hukuman, melainkan cara Allah membuka jalan pulang kepada-Nya."
"Alhamdulillah kalau kamu sudah sampai pada pemahaman itu," balas Abdul Jabbar menepuk pundak anaknya. "Tapi ingat, ujian orang yang diberi kelebihan rezeki jauh lebih berat daripada ujian orang miskin."
°˖✧✿✧˖°
Keesokan paginya, Fadil memutuskan untuk berjalan-jalan keliling kampung halamannya di Prabumulih. Udara pagi yang segar menyambut langkah kakinya melewati jalanan tanah berpasir merah yang dikelilingi pohon-pohon buah dusun. Ia melihat beberapa anak muda seusia remaja duduk-duduk di bawah rindangnya pohon rambutan tanpa aktivitas yang jelas, menatap kosong ke jalan raya lintas Sumatra.
Fadil menghampiri mereka dengan senyum ramah. Mengenakan baju koko putih sederhana dan sarung melayu, ia tampak membaur tanpa sekat dengan para pemuda kampung tersebut.
"Pagi, kawan-kawan. Sedang ngobrolin apa nih?" sapa Fadil akrab.
Salah seorang pemuda bertubuh tegap bernama Rian mendongak menatap Fadil. Wajahnya menyuratkan keletihan hidup dan keputusasaan yang mendalam. "Ah, Mas Fadil. Kami cuma sedang meratapi nasib. Di Prabumulih ini, kalau bukan anak pejabat atau tidak punya modal besar, mau cari kerja tetap susahnya setengah mati. Mau merantau ke Jawa juga takut bernasib malang seperti berita-berita di luar sana," keluh Rian jujur.
Fadil tersenyum hangat, mengambil posisi duduk di atas bangku kayu panjang di bawah pohon. "Dulu saya juga merasakan hal yang sama persis seperti kalian, Rian. Pergi merantau dengan kantong kosong, ijazah lecek, dan perut lapar di jalanan Surabaya. Tapi apa yang membuat saya bertahan?"
"Apa, Mas?" tanya Rian penasaran, sementara pemuda lainnya mulai mendekat dan memasang telinga baik-baik.
"Enam pembuka masalah," jawab Fadil lembut. "Al-Qur'an, Asmaul Husna, Shalat, Selawat, Doa, dan tawasul melalui amal saleh, ketakwaan, istighfar, serta sedekah. Ketika pintu dunia tertutup rapat di hadapan kita, sesungguhnya pintu langit sedang terbuka lebar jika kita mau mengetuknya dengan istighfar dan keikhlasan."
Percakapan pagi itu menjadi pemicu bagi Fadil untuk merumuskan langkah nyata sekembalinya ke Prabumulih. Ia tidak ingin sekadar pulang sebagai orang sukses yang memamerkan harta di kampung halaman. Ia ingin menghadirkan solusi nyata bagi para pemuda setempat yang terpinggirkan secara ekonomi, persis seperti misi sosial yang pernah ia rintis di tanah rantau.
Siang harinya, Fadil menemui pamannya, Pak Cik Husin, seorang tokoh masyarakat setempat yang memiliki sebidang tanah kosong di pinggir kota Prabumulih.
"Pak Cik, saya berniat mewakafkan sebagian tabungan saya untuk membangun sebuah pusat pelatihan kerja dan bengkel keterampilan mandiri bagi anak-anak muda di sini," ujar Fadil mengutarakan niatnya di ruang tamu rumah pamannya.
Pak Cik Husin mengerutkan dahi, menatap keponakannya dengan pandangan takjub bercampur ragu. "Niatmu mulia sekali, Fadil. Tapi membangun pusat pelatihan butuh biaya tidak sedikit dan komitmen besar. Apakah kamu yakin warga kampung kita siap?"
"Insya Allah siap, Pak Cik. Kalau bukan kita yang membuka jalan rezeki untuk saudara kita sendiri di tanah kelahiran ini, siapa lagi yang akan peduli?" jawab Fadil mantap.
°˖✧✿✧˖°
Perencanaan pembangunan pusat pelatihan keterampilan di Prabumulih ternyata tidak berjalan tanpa rintangan. Ketika berita rencana Fadil menyebar di kalangan pengusaha lokal senior, beberapa dari mereka merasa tersaingi dan memandang sebelah mata niat baik sang pemuda. Mereka menganggap langkah Fadil hanya akan merusak pasaran upah buruh harian dan menciptakan persaingan tidak sehat di kota kecil tersebut.
Suatu sore, saat Fadil sedang meninjau lokasi tanah wakaf bersama Rian dan beberapa pemuda kampung, seorang pengusaha borongan lokal bernama Haji Mansur mendatangi mereka dengan wajah angkuh ditemani dua orang centeng berbadan kekar.
"Hei, Fadil! Jangan mentang-mentang kamu baru pulang dari Jawa membawa modal banyak, lalu kamu berlagak jadi pahlawan kesiangan di tanah Prabumulih ini!" bentak Haji Mansur dengan suara menggelegar.