Ia mulai membantu anak-anak muda yang ingin belajar.
°˖✧✿✧˖°
Malam merangkak pelan di atas langit kota Prabumulih, Sumatra Selatan. Udara hangat khas dataran tinggi berpadu dengan aroma tanah basah seusai hujan sore tadi. Di serambi rumah panggung keluarga Abdul Jabbar yang kini telah diperluas menjadi sebuah surau kecil, Fadil Ar Rimbai duduk bersila di atas tikar pandan. Di hadapannya, nyala pelita minyak berkelip lemah, memantulkan bayangan tubuhnya yang tampak tenang dan bersahaja.
Pintu rumah berderit pelan. Abdul Jabbar, sang ayah yang rambutnya telah memutih seutuhnya, melangkah keluar membawa nampan berisi dua cangkir kopi hitam mengepul. Garis-garis penuaan tampak jelas di wajah lelaki paruh baya itu, menyimpan riwayat puluhan tahun perjuangan hidup sebagai buruh tani.
"Belum tidur, Fadil? Matamu masih menyala dalam keheningan malam ini," sapa Abdul Jabbar dengan suara bariton yang hangat dan berwibawa.
Fadil segera merangkak maju, menyambut tangan ayahnya dan mencium punggung tangan yang kasar itu penuh takzim. "Belum, Abah. Hati santri ini sedang bergejolak memikirkan amanah ilmu yang dititipkan Kiai Zulfakar dulu. Pulang ke tanah kelahiran ini membuat saya sadar bahwa masih banyak anak muda di kampung kita yang haus akan bimbingan agama, namun terkendala biaya dan tempat."
Abdul Jabbar tersenyum tipis, lalu bersila di hadapan anak kebanggaannya itu. "Pertanyaanmu menunjukkan bahwa hatimu masih hidup, Nak. Niat baik untuk mendirikan tempat mengaji dan pesantren kecil di pekarangan rumah kita ini adalah langkah awal yang besar."
Sang ayah meletakkan nampan, lalu menepuk pelan pundak Fadil. "Ingatlah selalu catatan kecil yang diwariskan Kiai Zulfakar dulu, Fadil. Di antara enam pembuka masalah—Al-Qur'an, Asmaul Husna, Shalat, Selawat, Doa, dan tawasul melalui amal saleh, ketakwaan, istighfar, serta sedekah—menyebarkan ilmu agama adalah bentuk sedekah jariah yang paling abadi."
"Bagaimana cara memulainya, Abah? Terkadang keraguan menyergap, apakah anak-anak kampung mau datang belajar di surau sederhana ini," ucap Fadil dengan suara lirih.
"Mulailah dari yang kecil, Fadil," jawab Abdul Jabbar penuh hikmah. "Niatkan semata-mata karena Allah. Nanti Allah sendiri yang akan menggerakkan hati para pencari ilmu untuk datang ke pintu rumahmu."
°˖✧✿✧˖°
Beberapa hari setelah percakapan di serambi malam itu, Fadil mulai mewujudkan niatnya mendirikan sebuah pesantren kecil atau rumah tahfiz sederhana di samping rumah panggung orang tuanya. Ia tidak berniat membangun gedung megah bertingkat, melainkan sebuah balai pengajian berdinding kayu ulin yang nyaman, beratapkan genteng tanah liat, dan dilengkapi rak-rak buku berisi kitab kuning serta Al-Qur'an terjemahan.
Suatu sore menjelang magrib, di bawah rintik hujan yang membasahi jalanan tanah merah di Prabumulih, Fadil berdiri di ambang pintu surau kecilnya sambil merapikan sajadah. Dari kejauhan, terlihat tiga orang remaja belasan tahun berjalan beriringan menerobos gerimis, mengenakan pakaian seadanya dan sandal jepit yang berlumur lumpur.
Fadil menyambut mereka dengan senyuman terhangatnya. "Selamat sore, kawan-kawan. Silakan berteduh di sini, jangan biarkan baju kalian basah kuyup."
Remaja bertubuh kurus yang memegang tas plastik berisi buku tulis lecek, Rian, melangkah maju dengan ragu. "Maaf, Mas Fadil. Betulakah tempat ini dibuka gratis untuk anak-anak kampung yang ingin belajar mengaji dan mendalami ilmu agama?"
Fadil mengangguk mantap, merangkul bahu Rian yang gemetar kedinginan. "Tentu saja, Rian. Pintu surau ini terbuka lebar untuk siapa saja yang ingin belajar tanpa dipungut biaya sepeser pun. Yang kalian perlukan hanyalah niat yang lurus dan kesungguhan hati."
"Tapi kami bukan anak orang berada, Mas. Kami anak buruh tani dan pencari kayu bakar," ucap remaja kedua bernama Bayu dengan nada suara tertunduk malu.
"Di hadapan Al-Qur'an, kedudukan kita semua sama di sisi Allah, Bayu," jawab Fadil lembut. "Ilmu tidak memandang status kaya atau miskin. Yang penting adalah kemauan kalian untuk memperbaiki diri dan mengangkat martabat keluarga."
Malam itu, untuk pertama kalinya, surau kecil di pekarangan rumah Abdul Jabbar diisi oleh suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh tiga orang santri kampung. Zubaidah, sang ibu, mengintip dari balik tirai dapur sambil menyeka air mata bahagianya melihat rumah mereka kini menjadi pusat turunnya rahmat Allah.
°˖✧✿✧˖°
Kabar tentang dibukanya pesantren kecil gratis oleh Fadil Ar Rimbai dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru kampung di Prabumulih. Dalam kurun waktu dua minggu, jumlah santri yang datang mendaftar melonjak drastis hingga mencapai tiga puluh orang anak muda dari berbagai latar belakang keluarga prasejahtera.
Namun, di balik antusiasme yang tinggi dari para santri kampung, tantangan operasional mulai muncul. Keterbatasan fasilitas, minimnya meja belajar, serta kurangnya kitab-kitab dasar keislaman membuat Fadil harus berpikir ekstra keras untuk mencukupi kebutuhan harian tempat pengajian tersebut.
Suatu malam, seusai sesi pengajaran akidah dan akhlak, Rian mendekati meja kerja Fadil di sudut surau dengan ekspresi ragu-ragu.
"Ada apa, Rian? Kenapa belum pulang ke rumah?" tanya Fadil ramah sambil merapikan kitab-kitab kuning.
Rian menunduk, memainkan ujung baju koko pinjaman yang dikenakannya. "Begini, Mas Fadil... beberapa teman di kampung bilang, kalau pesantren ini terus-menerus menggratiskan biaya dan tidak menarik iuran bulanan, nanti operasionalnya bisa bangkrut. Apalagi Mas Fadil tidak bekerja kantoran lagi di Surabaya."