6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #144

Pesantren Kecil

Fadil bersama beberapa orang mulai membangun kegiatan pendidikan agama.

°˖✧✿✧˖°

Malam di Prabumulih kembali menyingkap tabir keheningannya, membawa serta desau angin dari rimbunnya kebun karet yang melingkupi pinggiran kota. Di serambi rumah panggung Abdul Jabbar yang mulai disulap menjadi tempat berkumpul, Fadil Ar Rimbai duduk bersila di atas selembar tikar pandan usang. Di hadapannya, nyala pelita minyak memancarkan cahaya kekuningan yang berkejaran dengan bayangan dinding kayu ulin. Jemarinya dengan lembut membalik lembaran demi lembaran buku catatan kecil yang telah menemaninya melalui berbagai badai kehidupan, mulai dari hiruk-pikuk industri di Surabaya hingga ketenangan tanah kelahiran ini.

Pintu papan berderit pelan, memecah kesunyian malam. Abdul Jabbar melangkah keluar dengan membawa sebuah nampan kecil berisi dua cangkir kopi hitam pekat tanpa gula. Garis-garis usia di wajah sang ayah nampak semakin jelas diterpa cahaya pelita, namun binar kebijaksanaan di matanya tidak pernah sedikit pun meredup.

"Belum juga tidur, Fadil? Malam sudah semakin larut, dan matamu masih lekat menatap catatan itu," sapa Abdul Jabbar dengan suara bariton yang tenang dan menyejukkan.

Fadil segera merayap maju, menyambut nampan tersebut dari tangan ayahnya dan mencium punggung tangan yang kasar penuh bekas peluh perjuangan hidup. "Belum, Abah. Hati anakmu ini masih terasa hangat oleh perjumpaan-perjumpaan kecil di siang tadi. Banyak anak muda di kampung kita yang rindu belajar agama, tetapi jalannya seolah tertutup oleh keterbatasan."

Abdul Jabbar tersenyum tipis, lalu duduk bersila menghadapi anaknya. "Kerinduan pada ilmu adalah cahaya pertama yang Allah letakkan di dalam dada seseorang, Fadil. Kalau kamu merasa terpanggil untuk membuka jalan bagi mereka, jangan pernah tunda niat baik itu."

"Tapi Fadil khawatir, Abah. Apakah surau kecil kita ini sanggup menampung semangat mereka yang menggebu-gebu, sementara fasilitas belajar kita masih sangat terbatas?" tanya Fadil dengan nada ragu.

Sang ayah menatap lurus ke dalam mata anaknya, lalu menepuk pelan pundak Fadil. "Ingatlah kembali enam pembuka masalah yang selalu diajarkan Kiai Zulfakar di pesantren dulu—Al-Qur'an, Asmaul Husna, Shalat, Selawat, Doa, dan tawasul melalui amal saleh, ketakwaan, istighfar, serta sedekah. Membangun majelis ilmu tidak butuh kemewahan bangunan, Nak. Ia hanya butuh keikhlasan hati dan niat tulus karena Allah."

"Insya Allah, Abah. Fadil hanya ingin menjadikan pekarangan ini tempat turunnya rahmat dan pintu rezeki rohani bagi saudara-saudara kita yang terpinggirkan," ucap Fadil mantap.

°˖✧✿✧˖°

Keesokan paginya, matahari pagi Prabumulih memancarkan sinarnya yang hangat, menembus kabut tipis di atas pepohonan dusun. Fadil tidak membuang waktu lama. Bersama dua orang pemuda setempat yang menjadi murid pertamanya—Rian dan Bayu—ia mulai merapikan bagian samping surau kayu untuk dijadikan ruang belajar terbuka bagi anak-anak kampung yang ingin memperdalam ilmu agama.

Mereka membawa beberapa bilah papan bekas, palu, paku, serta rak kayu sederhana untuk menata puluhan kitab kuning dan Al-Qur'an terjemahan sumbangan dari berbagai pihak. Suara ketukan palu berpadu dengan gelak tawa kecil para pemuda yang antusias membantu pekerjaan tersebut.

Beberapa warga yang melintas di depan rumah Abdul Jabbar tampak berhenti sejenak, menatap penuh tanya pada aktivitas yang tengah berlangsung. Salah seorang di antaranya adalah Pak Cik Husin, tetangga sekaligus kerabat jauh keluarga Fadil.

"Wah, kelihatannya halaman ini mau dijadikan tempat sibuk, Fadil," sapa Pak Cik Husin sambil tersenyum ramah, bersandar di pagar bambu.

Fadil meletakkan palunya, lalu berjalan mendekati pagar dengan tangan yang sedikit berdebu. "Pagi, Pak Cik. Rencananya kami ingin merintis tempat pengajian dan belajar agama rutin untuk anak-anak muda di kampung kita yang selama ini bingung mau menghabiskan waktu di mana."

Pak Cik Husin mengangguk-angguk takjub, memperhatikan susunan papan yang mulai menyerupai kelas kecil. "Bagus sekali niatmu itu, Nak. Di zaman sekarang, sedikit sekali anak muda yang mau peduli pada pendidikan agama generasi seusianya. Tapi apakah sudah ada anak-anak yang mau datang belajar?"

"Kemarin sore sudah ada lima orang anak remaja dusun sebelah yang mendaftar secara sembunyi-sembunyi karena takut diejek teman-temannya, Pak Cik," jawab Fadil diiringi senyuman hangat.

Rian, yang berdiri tidak jauh dari tempat itu sambil memegang sapu lidi, ikut menyahut dengan penuh semangat. "Betul, Pak Cik! Kami bertiga siap membantu Mas Fadil mengajar dasar-dasar baca tulis Al-Qur'an dan fiqih harian. Biar kampung kita tidak buta agama."

Pak Cik Husin tertawa kecil mendengar antusiasme Rian. "Semangat kalian luar biasa. Kalau butuh bantuan tenaga atau sumbangan semen untuk meratakan lantai surau ini, jangan sungkan-sungkan bilang pada Pak Cik."

°˖✧✿✧˖°

Meskipun sambutan dari beberapa warga sekitar cukup positif, memulai kegiatan pendidikan agama di tengah masyarakat desa yang majemuk ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tantangan pertama muncul ketika beberapa tokoh masyarakat konservatif mulai mempertanyakan metode pengajaran yang dibawa Fadil, yang dianggap terlalu moderat dan tidak sejalan dengan tradisi pengajaran kolot setempat.

Suatu sore, saat Fadil sedang memimpin sesi diskusi keislaman ringkas di surau kecilnya yang dihadiri belasan remaja, seorang guru ngaji senior kampung bernama Haji Karim mendadak datang menghampiri tempat tersebut dengan wajah kaku.

Fadil segera menghentikan penjelasannya, berdiri menyambut kedatangan sang guru sepuh dengan takzim. "Selamat sore, Ustadz Haji Karim. Silakan mampir dan duduk bersama kami."

Lihat selengkapnya