
Ujian Terbesar
Datang masalah besar yang mengancam usaha dan perjuangannya.
Malam di Prabumulih mendadak terasa pekat tanpa bintang. Hujan lebat disertai angin kencang menderu-deru menghantam atap seng surau dan asrama Pondok Pesantren Kecil Rimbai Madani. Di ruang kerja utamanya, Fadil Ar Rimbai duduk seorang diri di balik meja kayu jati. Di hadapannya, nyala lampu pelita minyak berkedip-kedip gelisah seolah menahan terjangan angin yang menyelinap lewat celah-celah dinding papan.
Pintu bilik berderit keras didorong angin. Rian, santri senior sekaligus kepala asisten pengajar, melangkah masuk dengan napas terengah-engah dan pakaian yang basah kuyup di bagian pundak.
"Mas Fadil... gawat!" seru Rian dengan nada suara bergetar panik, memecah gemuruh suara hujan di luar.
Fadil segera mendongak, menutup buku catatan kecil enam pembuka masalah yang sejak tadi ia pegang, lalu menatap Rian dengan ketenangan yang terkendali. "Tenangkan dirimu dulu, Rian. Ambil napas yang dalam. Ada musibah apa di luar sana?"
Rian meremas ujung kemejanya, wajah mudanya tampak sangat pucat pasi. "Bagian dinding belakang ruang asrama santri baru... ambruk tersapu longsoran tanah tebing kecil di samping kebun karet. Air bah masuk merendam sebagian besar kitab dan kasur santri!"
Mendengar berita buruk itu, Fadil tidak lantas berteriak atau menunjukkan kepanikan. Ia langsung berdiri dari kursinya, meraih sehelai handuk kecil dan jaket tebal yang menggantung di balik pintu.
"Ayo kita ke sana sekarang juga," kata Fadil mantap tanpa ragu. "Bangunkan santri-santri yang lain secara tertib. Selamatkan kitab-kitab suci terlebih dahulu sebelum air merendam semuanya."
Setibanya di lokasi asrama, pemandangan memprihatinkan menyambut mereka. Lumpur merah bercampur air hujan mengalir deras menerobos dinding kayu yang jebol. Para santri tampak bahu-membahu menyelamatkan barang-barang sekedarnya di tengah kegelapan malam. Di saat-saat genting seperti inilah ujian terbesar bagi kelangsungan pesantren kecil tersebut benar-benar diuji dari titik nol.
°˖✧✿✧˖°
Keesokan paginya, matahari terbit di atas langit Prabumulih menyinari pemandangan yang menyayat hati. Sebagian bangunan asrama santri porak-poranda tertimbun lumpur, sementara tembok dapur umum tampak retak parah akibat pergerakan tanah semalam. Kerugian materiil memang tidak sedikit, namun pukulan mental bagi para santri jauh lebih berat dirasakan.
Sejumlah warga kampung mulai berdatangan ke halaman pesantren untuk melihat dari dekat kerusakan yang terjadi. Di antara kerumunan tersebut, tampak Haji Mansur—pengusaha senior yang sebelumnya telah menjadi pendukung setia yayasan—berjalan mendekati Fadil dengan raut wajah prihatin.
"Fadil, musibah besar benar-benar menimpa tempat ini," ucap Haji Mansur sambil menggelengkan kepala melihat puing-puing bangunan. "Kerusakannya cukup parah. Butuh biaya dan tenaga besar untuk membangun kembali dinding penahan tanah dan merenovasi asrama ini dari awal."
Fadil menghela napas pelan, merapikan lengan kemejanya yang terkena noda lumpur kering. "Alhamdulillah, musibah ini datang atas izin Allah, Haji. Setidaknya para santri dan kami semua masih diberikan keselamatan jiwa oleh Yang Maha Kuasa."
"Keselamatan memang yang utama, Nak," balas Haji Mansur serius. "Tapi jujur saja, beberapa tokoh masyarakat mulai meragukan apakah yayasan kecil ini sanggup bertahan setelah hantaman bencana alam seperti ini. Apalagi di saat bersamaan, beredar isu di luar bahwa perizinan perluasan tanah pesantren ini sedang dipersoalkan oleh oknum tertentu."
Berita tentang isu hukum dan ancaman penutupan administratif langsung menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru kota kecil Prabumulih. Sebagian orang tua santri mulai merasa cemas dan mendatangi pesantren untuk meminta kejelasan nasib anak-anak mereka.
°˖✧✿✧˖°
Ketegangan di lingkungan pesantren mencapai puncaknya ketika beberapa orang tua santri berkumpul di serambi utama untuk meminta kepastian langsung dari Fadil. Suasana berubah riuh dan dipenuhi keluh kesah kecemasan orang-orang yang selama ini menggantungkan harapan pada pendidikan gratis di tempat tersebut.
Seorang wali santri bernama Pak Joko—buruh tani asal dusun sebelah—maju ke hadapan Fadil dengan wajah penuh keraguan. "Mas Fadil, jujur kami sangat berterima kasih atas kebaikan pesantren selama ini. Tapi kalau bangunannya rusak parah dan dikabarkan bermasalah secara hukum, apakah anak-anak kami masih aman belajar di sini?"
Rian dan Bayu yang berdiri di samping Fadil tampak menahan emosi mendengar keraguan tersebut. Namun Fadil segera mengangkat tangan isyarat agar para santri seniornya tetap tenang.