6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #146

Semua Hampir Hilang

Semua Hampir Hilang

Fadil menghadapi kemungkinan kehilangan seluruh hasil perjuangannya.

°˖✧✿✧˖°

Malam di Prabumulih terasa kian mencekam ketika angin badai tiba-tiba berembus kencang, mengguncang atap seng Pondok Pesantren Kecil Rimbai Madani. Kilatan petir menyambar di langit barat, membelah kegelapan malam dan memantulkan cahaya putih pucat ke dinding-dinding kayu ulin yang basah diguyur hujan deras. Di dalam ruang kerja utamanya yang sederhana, Fadil Ar Rimbai duduk terpaku di balik meja kayu jati. Matanya nanar menatap selembar surat resmi berstempel basah dari instansi pemerintah daerah yang baru saja diantarkan oleh kurir malam beberapa menit lalu.

Pintu ruang kerja berderit perlahan, terbuka tanpa diketok rapat. Rian, santri senior sekaligus tangan kanan Fadil, melangkah masuk dengan napas terengah-engah dan jas hujan plastik yang masih meneteskan air hujan ke lantai semen.

"Mas Fadil... berita itu benar?" tanya Rian dengan suara bergetar hebat, matanya menatap tajam surat di tangan atasannya. "Apakah benar pihak berwenang mengeluarkan surat pencabutan izin operasional dan perintah pengosongan lahan yayasan kita?"

Fadil mendongak perlahan, menatap wajah pucat santri mudanya dengan ketenangan yang dipaksakan. Ia meletakkan surat tersebut di atas meja, lalu merapikan letak kacamatanya. "Surat ini resmi dari dinas terkait, Rian. Mereka menyatakan bahwa status lahan wakaf kita terbentur regulasi tata kota yang baru, dan seluruh bangunan pesantren dinyatakan berdiri di atas zona hijau yang harus steril dari bangunan permanen."

Rian meremas rambutnya yang basah, kekecewaan mendalam terpancar jelas dari raut wajahnya. "Tapi bagaimana bisa, Mas? Kita sudah mengurus semuanya dengan benar, bahkan sengketa waris kemarin sudah selesai secara damai! Kenapa sekarang tiba-tiba ada aturan zona hijau yang menghancurkan segalanya?"

"Inilah ujian kehidupan, Rian," jawab Fadil dengan suara serak namun tegas. "Manusia bisa merencanakan segalanya dengan teliti, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan Allah SWT."

"Kalau surat perintah ini dijalankan minggu depan, berarti semua hasil keringat kita selama ini—surau, asrama, tempat mengaji anak-anak—akan dirobohkan begitu saja?" keluh Rian dengan nada putus asa. "Semua perjuangan kita hampir hilang dalam sekejap, Mas!"

°˖✧✿✧˖°

Keesokan paginya, berita mengenai ancaman penggusuran dan pencabutan izin Pondok Pesantren Rimbai Madani menyebar luas bagai api dalam sekam di seluruh penjuru kota Prabumulih. Para warga kampung, wali santri, dan tokoh masyarakat mulai berdatangan ke halaman yayasan dengan perasaan cemas bercampur amarah. Mereka tidak terima tempat suci tempat anak-anak mereka menimba ilmu agama tiba-tiba harus diratakan dengan tanah atas nama peraturan administratif.

Di teras utama pesantren, Fadil berdiri di hadapan puluhan orang tua santri yang berdesakan menuntut kejelasan. Di sampingnya, Haji Mansur—pengusaha senior yang selama ini menjadi penasihat yayasan—tampak berdiri dengan raut wajah geram menahan emosi.

"Fadil! Kita tidak boleh tinggal diam menerima surat bodoh ini!" seru Haji Mansur dengan suara berapi-api di depan kerumunan warga. "Saya akan kerahkan relawan dan pengacara terbaik untuk melawan keputusan dinas tata kota itu! Ini jelas-jelas dzalim!"

Fadil mengangkat tangan kanannya dengan tenang, memberi isyarat kepada Haji Mansur dan para warga untuk meredam kemarahan mereka. "Sabar, Haji Mansur. Kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah hukum dengan kepala dingin. Mari kita dudukan persoalan ini secara bijak."

Seorang wali santri paruh baya bernama Pak Joko melangkah maju ke depan dengan mata berkaca-kaca. "Tapi Mas Fadil, kalau pesantren ini ditutup dan dirobohkan, lalu di mana anak-anak kami akan belajar ngaji? Apakah semua pengorbanan kami selama ini akan sia-sia begitu saja?"

Fadil menatap tajam namun penuh kasih sayang kepada Pak Joko dan para orang tua di sekitarnya. "Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, dengarkan saya. Bangunan fisik surau dan asrama ini memang bisa saja dirobohkan oleh alat berat pemerintah. Tetapi cahaya Al-Qur'an dan ilmu agama yang sudah tertanam di dalam dada anak-anak panjenengan tidak akan pernah bisa dihapus oleh secarik surat keputusan apa pun."

"Tapi rasanya sakit sekali, Mas... semua hampir hilang dalam sekejap," isak salah seorang ibu wali santri sambil mendekap anaknya yang berseragam koko putih.

Fadil tersenyum tipis, menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya. Ia tahu persis bahwa kehilangan seluruh hasil perjuangan yang dirintis dari titik nol adalah ujian terberat yang pernah menghantam batinnya.

°˖✧✿✧˖°

Meskipun Fadil berusaha tetap tegar di hadapan para warga, malam harinya di dalam kamar kecil rumah orang tuanya, pertahanan mental Fadil hampir runtuh sepenuhnya. Ia duduk bersila di atas sajadah, menatap kosong ke arah dinding kamar yang diterangi cahaya lampu pelita. Buku catatan kecil enam pembuka masalah tergeletak terbuka di pangkuannya, namun bait-bait doa di dalamnya seolah sulit ia ucapkan di tengah badai keputusasaan yang melanda jiwanya.

Pintu kamar berderit pelan. Abdul Jabbar, sang ayah yang berjalan membungkuk karena usia lanjut, melangkah masuk membawa segelas air putih hangat.

Lihat selengkapnya