6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #147

Enam Jalan yang Telah Dipelajari

Enam Jalan yang Telah Dipelajari

Ia kembali kepada Al-Qur'an, Asmaul Husna, shalat, selawat, doa, serta amal saleh dan ketakwaan.

°˖✧✿✧˖°

Matahari sore di Kota Prabumulih perlahan-lahan merosot turun, menyisakan bias warna jingga keemasan yang memantul di atas genangan air sisa hujan deras. Udara terasa hangat dan lembap, membawa aroma khas tanah Sumatra yang basah. Di teras sebuah rumah kayu sederhana yang dicat hijau lumut, Fadil Ar Rimbai duduk bersila di atas tikar pandan usang. Usianya kini telah menginjak kepala dua, membawa serta ketenangan batin dan kedewasaan yang terpancar jelas dari garis wajahnya. Di pergelangan tangan kanannya, sebuah tasbih kayu gaharu berputar perlahan mengikuti dzikir yang tak pernah putus dari bibirnya.

Setelah bertahun-tahun merantau menimba ilmu di sebuah pesantren di Jawa Timur di bawah didikan langsung Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz, Fadil akhirnya kembali ke tanah kelahiran. Namun, kepulangan seorang santri bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari ujian yang sesungguhnya di tengah realitas masyarakat yang keras.

"Fadil, nak, teh hangatnya diminum dulu, nanti keburu dingin," suara lembut Zubaidah, ibunya, memecah lamunan Fadil sore itu. Wanita paruh baya tersebut keluar dari pintu dapur sambil membawa nampan kecil berisi dua cangkir porselen kusam.

Fadil mendongak, menyunggingkan senyum hangat, lalu menerima cangkir tersebut dengan takzim. "Terima kasih, Mak. Ayah di mana?"

"Ayahmu masih di bengkel las Pak Haji Mahmud, memperbaiki mesin cultivator petani yang rusak kemarin," jawab Zubaidah sambil mendudukkan diri di kursi kayu reyot di sebelah Fadil. Matanya menatap sang anak dengan sejumput kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. "Mak tahu kamu membawa banyak ilmu dari pesantren, Dil. Tapi hidup di Prabumulih sekarang tidak sedang ramah. Lapangan pekerjaan sempit, harga-harga kebutuhan pokok terus naik, dan kedai kecil kita... ya, kamu tahu sendiri keadaannya."

Fadil mengangguk pelan. Ia tahu betul kondisi keluarganya. Abdul Jabbar, ayahnya, dan Zubaidah telah lama berjuang melawan himpitan ekonomi. Kedai kelontong kecil milik mereka di pinggir jalan raya kian sepi sejak minimarket modern berdiri megah tak jauh dari sana. Ditambah lagi, beban utang untuk membiayai pengobatan adiknya tahun lalu masih menyisakan kesusahan tersendiri.

"Mak, Fadil ingat betul pesan Kiai Zulfakar sebelum Fadil lulus," ucap Fadil menenangkan ibunya dengan suara yang mantap. "Kiai berpesan, masalah tidak datang untuk menjatuhkan, melainkan cara Allah membuka jalan pulang kepada-Nya. Ada enam pembuka masalah yang diajarkan: Al-Qur'an, Asmaul Husna, Shalat, Selawat, Doa, serta amal saleh dan ketakwaan."

Zubaidah menghela napas panjang, tersenyum tipis. "Mak percaya, Dil. Tapi perut lapar dan tagihan tidak bisa diajar dengan teori."

Percakapan sore itu terhenti ketika suara deru motor bebek tua memasuki halaman rumah. Seorang pemuda berbadan tegap dengan jaket kulit sintetis yang sudah mengelupas turun dari kendaraannya. Itu adalah Fathan, sahabat masa kecil Fadil yang setia, yang kini bekerja sebagai buruh angkut di pasar tradisional. Di belakangnya menyusul Faris dan Ghalib, dua kawan lama yang juga sepermainan mereka sejak kecil di sudut Kota Prabumulih.

"Assalamu'alaikum, santri kesayangan kita!" seru Fathan riang, meski guratan lelah tampak jelas di bawah matanya.

"Wa'alaikumussalam, Fathan, Faris, Ghalib. Mari masuk," sambut Fadil sembari berdiri menyalami mereka satu per satu dengan senyum lebar.

Mereka duduk melingkar di teras rumah. Suasana langsung cair dengan gelak tawa nostalgia, namun tak butuh waktu lama hingga topik pembicaraan bergeser pada realitas pahit yang sedang mereka hadapi di kota penghasil nanas ini.

"Jujur, Dil, aku pusing," keluh Faris sambil mengusap wajahnya yang berminyak. "Aku sudah melamar kerja ke lima perusahaan kontraktor minyak di sekitar Prabumulih, tapi semuanya minta pelicin atau minimal sarjana. Lulusan SMA sepertiku dianggap angin lalu."

"Sama, Faris. Aku juga hampir putus asa," timpal Ghalib. "Usaha bengkel kecil yang kubuka bersama Yafiq nyaris bangkrut karena modal pinjaman dari bank keliling sudah jatuh tempo, sementara pelanggan sepi."

Fadil mendengarkan dengan seksama. Ia memandang wajah-wajah teman masa kecilnya itu—Fathan, Faris, Ghalib, ditambah Yafiq, Rayyan, Rafardhan, dan Kamil yang dikabarkan sedang berjuang di sisi kota lain. Mereka semua adalah pemuda-pemuda Prabumulih yang memiliki potensi besar, namun terhimpit oleh tembok tebal kemiskinan struktural. Di sinilah Bab 147 dalam perjalanan hidup Fadil dimulai: ia harus kembali mengamalkan enam jalan yang telah dipelajarinya di pesantren untuk menolong diri dan kawan-kawannya.

°˖✧✿✧˖°

Matahari baru saja naik segalah ketika Fadil memutuskan untuk melangkah keluar rumah menuju terminal lama Prabumulih. Ia mengenakan baju koko putih bersih dan peci hitam, membawa misi sederhana namun berat: menemui teman-temannya yang lain—Yafiq, Rayyan, Rafardhan, dan Kamil—untuk merembukkan nasib para pedagang kecil yang terancam penggusuran oleh rencana pembangunan ruko modern.

Setibanya di sana, suasana tampak tegang. Puluhan pedagang berkumpul di bawah tenda terpal biru yang membentang di depan kios-kios pasar. Di tengah kerumunan, Rayyan dan Rafardhan tampak berdebat sengit dengan beberapa petugas Satpol PP yang menempelkan surat peringatan penggusuran berwarna merah menyala di dinding pasar.

"Kalian tidak bisa semena-mena! Ini periuk nasi ribuan warga!" suara Rayyan meninggi, mencerminkan kemarahan yang tertahan di dadanya.

"Kami hanya menjalankan tugas dari dinas, Mas! Tanggal merah di surat itu batas akhir pengosongan!" balas salah seorang petugas dengan nada tak kalah tinggi.

Fadil segera menerobos kerumunan, menepuk pundak Rayyan untuk meredakan emosinya. "Sabar, Rayyan. Marah tidak akan menyelesaikan masalah. Mari kita bicarakan baik-baik."

Rayyan menoleh, napasnya memburu. "Bagaimana bisa sabar, Dil? Tempat mencari makan satu-satunya mau dirampas begitu saja!"

"Aku tahu, kawan. Tapi ingat apa yang diajarkan Kiai Zulfakar? Inna ma'al usri yusra—sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan," ucap Fadil dengan suara tenang namun tegas. Ketenangan yang dipancarkan Fadil perlahan-lahan meredakan ketegangan di antara para pedagang yang mulai emosional.

Di sudut lain pasar, Kamil dan Yafiq mendekat membawa kabar yang lebih mengkhawatirkan. "Dil, masalah kita bukan cuma soal penggusuran pasar," bisik Kamil dengan wajah pucat pasi. "Ayah Rafardhan jatuh pingsan di rumah tadi pagi karena mendengar kabar kiosnya mau dibongkar. Sekarang beliau dirawat di klinik pratama, dan biayanya... kamu tahu sendiri, klinik itu tidak mau merawat tanpa uang muka."

Dunia seakan berputar lebih lambat bagi Fadil. Dalam satu waktu yang sama, ancaman penggusuran massal, krisis finansial keluarga, utang bengkel Ghalib, dan biaya medis ayah Rafardhan datang menghantam secara serentak. Ini adalah Titik Plot Pertama yang mengubah haluan hidupnya secara drastis; ia tidak lagi sekadar pengamat, melainkan poros tempat teman-temannya bersandar.

"Berapa biaya yang dibutuhkan untuk rumah sakit, Mil?" tanya Fadil penuh selidik, menatap lekat-lekat mata Kamil.

"Tiga juta rupiah, Dil. Uang darimana coba? Kita semua pengangguran," desah Kamil putus asa, menyandarkan punggungnya pada tiang kayu pasar.

Fadil menarik napas dalam-dalam. Di tengah kebuntuan itu, ia teringat kembali pada enam jalan yang telah dipelajarinya di pesantren. Fadil mengajak seluruh sahabatnya—Fathan, Faris, Ghalib, Yafiq, Rayyan, Rafardhan, dan Kamil—untuk duduk melingkar di sebuah mushola kecil terbengkalai di sudut terminal.

"Teman-teman," ucap Fadil memulai diskusi di dalam mushola yang sepi. "Kita sedang diuji. Tapi Allah tidak pernah menutup pintu tanpa membuka jendela. Mari kita ambil langkah nyata. Kita kembali kepada Al-Qur'an dan shalat sebagai sandaran utama."

"Ikhtiar apa lagi, Dil? Dompetku kosong melompong," kata Rafardhan dengan mata berkaca-kaca memikirkan kondisi ayahnya di klinik.

"Kita gunakan tawasul melalui amal saleh, ketakwaan, istighfar, serta sedekah," jawab Fadil mantap. "Meskipun kita tidak punya uang tunai, kita punya tenaga, waktu, dan kepedulian. Mari kita galang sedekah tenaga. Kita bantu bongkar muat barang di pasar hari ini, upahnya kita kumpulkan bersama untuk biaya rumah sakit om."

Ide tersebut sempat membuat yang lain tertegun. Menggalang sedekah tenaga di saat diri sendiri sedang susah? Namun, melihat ketulusan dan keyakinan di mata Fadil, satu per satu dari mereka mengangguk setuju. Fathan mengepalkan tangan kanannya ke udara. "Baiklah! Kalau santri sudah bersabda, kita ikuti instruksimu, Dil!"

°˖✧✿✧˖°

Lihat selengkapnya