Fadil melakukan muhasabah besar.
°˖✧✿✧˖°
Matahari sore di Kota Prabumulih perlahan-lahan merosot turun ke balik cakrawala, menyisakan bias cahaya jingga yang memantul di atas atap-atap seng rumah warga. Udara terasa hangat, membawa aroma khas tanah basah dan uap air dari parit-parit kecil di tepi jalan. Di teras sebuah rumah kayu berukuran sedang yang dicat hijau lumut, Fadil Ar Rimbai duduk bersila di atas tikar pandan usang. Usianya kini telah menginjak kepala dua, membawa serta ketenangan batin yang terpancar jelas dari garis wajahnya. Di pergelangan tangan kanannya, sebuah tasbih kayu gaharu berputar perlahan mengikuti dzikir yang tak pernah putus dari bibirnya.
Hari itu, kesibukan di Koperasi "Sahabat Tani & Niaga Prabumulih" sangat menguras tenaga. Sebagai ketua sekaligus motor penggerak bersama ketujuh sahabat setianya—Fathan, Faris, Ghalib, Yafiq, Rayyan, Rafardhan, dan Kamil—Fadil harus memastikan roda perekonomian kerakyatan berjalan adil tanpa ada pihak yang merasa dirugikan. Namun, di balik keberhasilan dan amanah besar yang kini berada di pundak mereka, ada keheningan batin yang mulai bergejolak dalam diri Fadil.
"Fadil, nak, kamu belum mandi? Sebentar lagi magrib," suara lembut Zubaidah, ibunya, memecah lamunan Fadil dari balik ambang pintu. Wanita paruh baya itu keluar sambil membawa secangkir teh poci hangat di atas nampan kecil.
Fadil mendongak, menyunggingkan senyum hangat kepada ibunya, lalu menerima cangkir tersebut dengan takzim. "Sebentar lagi, Mak. Fadil masih ingin menikmati angin senja."
Zubaidah mendudukkan diri di kursi kayu reyot sebelah Fadil, mengamati wajah putranya dengan kepekaan seorang ibu. "Mak lihat akhir-akhir ini kamu sering merenung sendirian, Dil. Wajahmu tampak menyimpan beban pikiran yang berat, padahal koperasi kalian sedang di puncak kesuksesan. Ada apa, Nak?"
Fadil menyeruput teh hangatnya perlahan, merasakan kehangatan menjalar di kerongkongannya sebelum ia menjawab. "Bukan karena masalah koperasi, Mak. Hanya saja... semakin luas amanah yang Allah berikan kepada kami, Fadil justru semakin merasa kecil di hadapan-Nya."
Zubaidah tersenyum tipis, menepuk punggung tangan anaknya dengan penuh kelembutan. "Itu tanda imanmu masih hidup, Dil. Orang yang merasa dirinya sudah benar biasanya lupa cara untuk merendah di hadapan Sang Pencipta."
Percakapan sore itu terhenti ketika suara deru motor bebek tua memasuki halaman rumah. Sosok Fathan turun dengan tergesa-gesa, melepas helmnya seraya menyapa Zubaidah dengan takzim, diikuti oleh Faris dan Ghalib yang menyusul di belakangnya. Tak lama berselang, Yafiq, Rayyan, Rafardhan, dan Kamil pun berdatangan, memenuhi teras rumah dengan salam yang riang.
"Assalamu'alaikum, Pak Haji muda!" seru Fathan setengah bercanda, mencoba mencairkan suasana.
"Wa'alaikumussalam, kawan-kawan. Mari silakan duduk," sambut Fadil ramah.
Mereka duduk melingkar di atas tikar pandan. Namun, berbeda dari biasanya yang selalu diisi dengan gelak tawa dan canda gurau, malam itu suasana terasa lebih tenang dan serius. Wajah-wajah mereka menyiratkan kelelahan fisik setelah seharian berjibaku di pasar terminal.
"Ada apa ini? Kok tumben pada diam semua?" tanya Fadil memperhatikan satu per satu sahabatnya.
Faris menghela napas panjang, menundukkan kepalanya menatap lantai semen teras. "Jujur, Dil, hari ini aku merasa lelah. Bukan cuma lelah fisik karena mengurus distribusi sembako, tapi lelah batin. Rasanya ada banyak hal dalam diri kita yang masih kotor oleh ambisi duniawi, meskipun kita terlihat sibuk berbuat kebaikan untuk orang lain."
Ghalib mengangguk setuju, menyambung perkataan Faris dengan nada jujur. "Benar, Dil. Kemarin saat rapat dengan dinas perdagangan, aku sempat merasa bangga karena dipuji pejabat. Malam harinya aku baru sadar, pujian itu hampir membuat hatiku sombong. Rasanya kita butuh waktu untuk berhenti sejenak dan melakukan muhasabah."
Fadil mendengarkan dengan seksama. Kata-kata sahabatnya itu menyentuh relung hatinya yang paling dalam. Bab 148 dari perjalanan hidup mereka di Prabumulih telah dimulai—bukan lagi tentang melawan musuh dari luar atau mengatasi krisis ekonomi, melainkan tentang menyelami kedalaman jiwa melalui malam istighfar dan muhasabah besar.
°˖✧✿✧˖°
Malam perlahan merayap, menggantikan senja dengan kegelapan yang dihiasi kerlap-kerlip bintang di langit Prabumulih. Azan magrib dan isya telah berkumandang lama, menuntun warga menunaikan kewajiban mereka. Kini, kedelapan pemuda itu—Fadil, Fathan, Faris, Ghalib, Yafiq, Rayyan, Rafardhan, dan Kamil—memilih untuk tidak langsung pulang ke rumah masing-masing. Mereka berkumpul di dalam musola kecil terminal yang menjadi saksi bisu perjuangan mereka beberapa bulan lalu.
Suasana di dalam musola sangat sunyi. Hanya ada cahaya dari satu bola lampu kuning berdaya rendah yang menggantung di langit-langit ruangan. Di tempat inilah Fadil mengajak sahabat-sahabatnya untuk menghentikan segala kesibukan duniawi dan fokus menghadap kepada Sang Pencipta.
"Teman-teman," ucap Fadil memulai pembicaraan di hadapan ketujuh sahabatnya yang duduk bersila di atas karpet musola yang mulai tipis. "Apa yang dikatakan Faris dan Ghalib tadi adalah cerminan jujur dari hati kita masing-masing. Kita sibuk mengurus urusan umat, sibuk membangun koperasi, sibuk dipuji orang banyak. Tapi seringkali kita lupa membersihkan hati kita sendiri dari karat-karat kesombongan, riya, dan kelalaian."
Fathan menatap Fadil dengan sorot mata serius. "Lalu apa yang harus kita lakukan malam ini, Dil? Rasanya jiwaku memang sedang kering."
"Malam ini kita akan melakukan muhasabah besar," jawab Fadil mantap. "Kita akan menghabiskan sepertiga malam terakhir dengan memperbanyak istighfar. Kita buka kembali lembaran-lembaran dosa kita di masa lalu, kelemahan kita hari ini, dan memohon ampunan kepada Allah secara total."
Ide tersebut langsung diterima tanpa perdebatan. Tidak ada yang menolak. Masing-masing dari mereka menyadari bahwa kesuksesan materi dan sosial yang mereka raih di Prabumulih tidak ada artinya di hadapan Allah jika hati mereka dipenuhi oleh penyakit batin.
Fadil berdiri di depan mihrab, memimpin shalat sunnah mutlak beberapa rakaat dengan bacaan yang pelan namun sangat menghanyutkan. Selepas shalat, mereka merapatkan shaf, duduk bersimpuh dalam kegelapan musola, dan memulai ritual muhasabah yang mendalam.
"Mari kita mulai dengan merenungkan nikmat-nikmat Allah yang sering kita abaikan," bisik Fadil dengan suara bergetar di hadapan para sahabatnya. "Ingat kembali bagaimana dulu kita hidup dalam kekurangan, bagaimana keluarga kita berjuang dalam kesusahan, dan bagaimana Allah mengangkat derajat kita perlahan-lahan. Apakah kita sudah bersyukur dengan benar, atau justru kita sering merasa paling berjasa?"
Pertanyaan itu menohok lubuk hati setiap pemuda yang hadir. Suasana di dalam musola mendadak hening, diiringi desau angin malam yang menembus jendela kayu yang terbuka. Satu per satu dari mereka mulai menundukkan kepala, memejamkan mata, dan meresapi setiap detik kehidupan yang telah mereka lalui di kota penghasil nanas ini.
Rafardhan, yang ayahnya hampir meninggal beberapa bulan lalu, tak kuasa menahan air matanya. Ia teringat betapa ia sering mengeluh di masa lalu, padahal napas yang dihirupnya setiap detik adalah anugerah terbesar dari Tuhan. Di sebelahnya, Kamil dan Rayyan turut menunduk dalam-dalam, merutuki kelalaian hati mereka di tengah kesibukan duniawi.