6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #149

Sedekah di Saat Sulit

Alih-alih menyimpan semua yang tersisa, ia tetap berusaha bersedekah sesuai kemampuannya.

°˖✧✿✧˖°

Matahari sore di Kota Prabumulih merayap turun perlahan di balik cakrawala, menyisakan bias cahaya jingga keemasan yang memantul di atas genangan air sisa hujan deras di tepi jalan raya. Udara terasa hangat dan lembap, membawa aroma khas tanah Sumatra yang basah. Di teras sebuah rumah kayu sederhana yang dicat hijau lumut, Fadil Ar Rimbai duduk bersila di atas tikar pandan usang. Usianya kini telah menginjak kepala dua, membawa serta ketenangan batin dan kedewasaan yang terpancar jelas dari garis wajahnya. Di pergelangan tangan kanannya, sebuah tasbih kayu gaharu berputar perlahan mengikuti dzikir yang tak pernah putus dari bibirnya.

Setelah melewati malam istighfar dan muhasabah besar bersama ketujuh sahabat setianya—Fathan, Faris, Ghalib, Yafiq, Rayyan, Rafardhan, dan Kamil—Fadil merasakan kelegaan yang luar biasa di dalam dadanya. Beban ambisi duniawi yang sempat mengotori hatinya telah luntur tersapu oleh air mata taubat. Namun, kehidupan nyata di luar musola tidak pernah berhenti menuntut pembuktian iman secara konsisten.

"Fadil, nak, teh hangatnya diminum dulu, nanti keburu dingin," suara lembut Zubaidah, ibunya, memecah lamunan Fadil sore itu. Wanita paruh baya tersebut keluar dari pintu dapur sambil membawa nampan kecil berisi dua cangkir porselen kusam.

Fadil mendongak, menyunggingkan senyum hangat, lalu menerima cangkir tersebut dengan takzim. "Terima kasih, Mak. Ayah di mana?"

"Ayahmu masih di bengkel las Pak Haji Mahmud, memperbaiki mesin cultivator petani yang rusak kemarin," jawab Zubaidah sambil mendudukkan diri di kursi kayu reyot di sebelah Fadil. Matanya menatap sang anak dengan sejumput kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. "Mak tahu kamu dan teman-temanmu sudah banyak membantu warga lewat koperasi. Tapi keuangan rumah kita sendiri minggu ini sedang menipis, Dil. Uang kas koperasi baru diputar untuk pengadaan pupuk petani, dan tabungan kita tinggal selembar uang sepuluh ribuan di celengan."

Fadil mengangguk pelan. Ia tahu betul kondisi finansial keluarganya. Abdul Jabbar, ayahnya, dan Zubaidah baru saja melunasi sisa cicilan utang pengobatan adiknya bulan lalu, membuat dompet keluarga mereka benar-benar kosong melompong. Di saat yang sama, menjelang magrib nanti, seorang janda tua di ujung kampung, Mak Enah, biasanya datang mengantarkan ubi rebus pesanan atau sekadar meminta bantuan beras karena persediaan dapurnya habis.

"Mak, Fadil ingat betul pelajaran dari Kiai Zulfakar di pesantren dulu," ucap Fadil menenangkan ibunya dengan suara yang mantap dan penuh keyakinan. "Salah satu dari enam pembuka masalah adalah tawasul melalui amal saleh, ketakwaan, istighfar, serta sedekah. Dan sedekah paling utama bukanlah saat kita berlimpah harta, melainkan saat kita sendiri berada dalam kesempitan."

Zubaidah menghela napas panjang, tersenyum tipis penuh pengertian. "Mak tidak pernah melarangmu bersedekah, Dil. Mak hanya mengingatkan, jangan sampai kita memberi pada orang lain, tapi keluarga sendiri kelaparan."

Percakapan sore itu terhenti ketika suara deru motor bebek tua memasuki halaman rumah. Sosok Fathan turun dengan tergesa-gesa, melepas helmnya seraya menyapa Zubaidah dengan takzim, diikuti oleh Faris dan Ghalib yang menyusul di belakangnya. Tak lama berselang, Yafiq, Rayyan, Rafardhan, dan Kamil pun berdatangan, memenuhi teras rumah dengan salam yang riang.

"Assalamu'alaikum, Pak Ketua!" seru Fathan riang, meski guratan lelah tampak jelas di bawah matanya setelah seharian mengurus logistik koperasi.

"Wa'alaikumussalam, kawan-kawan. Mari silakan duduk," sambut Fadil sembari berdiri menyalami mereka satu per satu dengan senyum lebar.

Mereka duduk melingkar di atas tikar pandan. Suasana langsung cair oleh candaan ringan, namun tak butuh waktu lama hingga topik pembicaraan bergeser pada kondisi kas koperasi dan realitas kesulitan finansial yang sedang dihadapi sebagian anggota mereka sendiri.

"Jujur, Dil, kas operasional kita minggu ini benar-benar menipis," keluh Faris sambil mengusap wajahnya yang berminyak. "Banyak petani yang belum bisa bayar pupuk tepat waktu karena hasil panen mereka tertunda akibat cuaca buruk. Kita sendiri bahkan nyaris tidak punya uang cadangan untuk operasional besok."

Fadil mendengarkan dengan seksama. Ia memandang wajah-wajah teman masa kecilnya itu. Bab 149 dari perjalanan hidup mereka di Prabumulih telah dimulai—sebuah ujian nyata tentang bagaimana mengamalkan sedekah di saat diri sendiri sedang berada dalam kesulitannya yang paling puncak.

°˖✧✿✧˖°

Matahari baru saja tenggelam sepenuhnya di ufuk barat, digantikan oleh temaram lampu teras yang memantulkan cahaya kuning lembut. Kedelapan pemuda itu masih duduk melingkar, merembukkan situasi finansial koperasi yang sedang diuji ketahanannya. Di tengah diskusi yang serius, suara ketukan pelan terdengar di pintu pagar kayu rumah Fadil.

"Assalamu'alaikum..." suara parau seorang wanita tua memecah keheningan malam.

Fadil segera bangkit dari duduknya dan melangkah cepat membukakan pintu pagar. Di sana, berdiri Mak Enah, seorang janda paruh baya yang tinggal sebatang kara di ujung kampung. Wajahnya tampak lelah, mengenakan selendang kusam yang disampirkan di bahunya.

"Wa'alaikumussalam, Mak Enah. Mari masuk, Mak. Ada apa malam-malam begini?" sambut Fadil sangat ramah, membimbing wanita tua itu menuju teras rumah.

Mak Enah tersenyum kelu, menolak pelan ajakan duduk di kursi. "Tidak usah, Nak Fadil. Bibik cuma mau... aduh, sebenarnya Bibik malu mengatakannya."

Zubaidah yang mendengar suara Mak Enah langsung keluar dari dapur menghampiri teras. "Eh, Mak Enah. Mari duduk dulu, Bik. Kenapa muka pucat begitu?"

Mak Enah menunduk, air matanya perlahan menetes di pipinya yang keriput. "Bibik terpaksa datang kemari, Zubaidah. Persediaan beras di rumah sudah habis sejak siang kemarin. Cucunya Bibik yang kecil menangis kelaparan tadi sore, dan Bibik tidak punya uang sepeser pun untuk beli beras di warung. Bibik ingat Nak Fadil dan kawan-kawan punya koperasi, barangkali Bibik boleh utang beras satu kilo saja..."

Mendengar pengakuan Mak Enah, suasana di teras rumah Fadil mendadak sunyi senyap. Fathan, Faris, Ghalib, dan teman-teman lainnya saling berpandangan. Mereka tahu persis kondisi keuangan koperasi sedang menipis, dan di rumah Fadil sendiri hanya tersisa satu liter beras di dalam tempayan serta uang sepuluh ribu rupiah di dompet Zubaidah.

Ini adalah Titik Plot Pertama yang menguji prinsip hidup mereka secara langsung. Alih-alih menutup pintu atau beralasan sedang tidak ada dana, Fadil justru merasakan getaran kuat di dalam dadanya. Ia teringat pada ajaran Islam tentang keutamaan bersedekah di kala sempit—ketika seseorang memberikan harta yang paling ia butuhkan demi menolong saudaranya.

Fadil menoleh ke arah ibunya, memberikan tatapan penuh permohonan izin yang disetujui lewat binar mata Zubaidah yang mengangguk pelan. Zubaidah tahu betul hati putra kesayangannya itu.

"Mak Enah tunggu sebentar ya di sini," ucap Fadil dengan senyum menenangkan. Ia bergegas masuk ke dalam dapur, mengambil satu-satunya kantong beras sisa keluarga mereka seberat dua kilogram yang baru disiapkan untuk makan malam keluarga malam itu. Tidak hanya itu, Fadil juga mengambil uang sepuluh ribuan satu-satunya dari celengan ibunya, lalu membungkusnya rapi bersama beras tersebut.

Keluar dari pintu rumah, Fadil menyerahkan bungkusan beras dan amplop kecil berisi uang sepuluh ribu rupiah itu kepada Mak Enah dengan kedua tangan diletakkan di depan dada secara takzim.

"Mak Enah, ini ada sedikit beras dan rezeki dari Allah untuk Mak Enah dan cucu di rumah. Anggap saja ini sedekah dari kami, bukan utang," kata Fadil lembut.

Mak Enah menerima bungkusan itu dengan tangan bergetar hebat. Air matanya tumpah membasahi pipinya. Ia memeluk kantong beras itu erat-erat sambil terisak. "Ya Allah, Nak Fadil... terima kasih banyak. Semoga Allah melipatgandakan rezeki kalian dan membalas kebaikan kalian berlipat-lipat ganda."

Lihat selengkapnya