
Pertolongan yang Tidak Disangka
Satu demi satu jalan penyelesaian mulai terbuka.
°˖✧✿✧˖°
Matahari sore baru saja meluncur turun di ufuk barat Kota Prabumulih, menyisakan bias jingga yang memantul di atas genangan air sisa hujan deras. Udara lembap khas Sumatra Selatan berpadu dengan aroma tanah basah dan asap tipis dari dapur-dapur warga. Di teras sebuah rumah kayu berukuran sedang yang dicat hijau lumut, Fadil Ar Rimbai duduk bersila di atas tikar pandan. Usianya kini menginjak kepala dua, membawa serta ketenangan batin yang terpancar jelas dari garis wajahnya. Setelah bertahun-tahun merantau menimba ilmu di sebuah pesantren di Jawa Timur di bawah bimbingan Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz, Fadil akhirnya kembali ke tanah kelahiran.
Namun, kepulangan seorang santri bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari ujian yang sesungguhnya di tengah masyarakat nyata.
"Fadil, nak, teh hangatnya diminum dulu," suara lembut Zubaidah, ibunya, memecah lamunan Fadil. Wanita paruh baya itu keluar sambil membawa nampan kecil berisi dua cangkir porselen kusam.
Fadil mendongkah, tersenyum hangat, lalu menerima cangkir tersebut dengan takzim. "Terima kasih, Mak. Ayah di mana?"
"Ayahmu masih di bengkel las Pak Haji Mahmud, memperbaiki mesin cultivator yang rusak kemarin," jawab Zubaidah sambil mendudukkan diri di kursi kayu reyot di sebelah Fadil. Matanya menatap sang anak dengan sejumput kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. "Mak tahu kamu membawa banyak ilmu dari pesantren, tapi hidup di Prabumulih sekarang tidak sedang ramah, Dil. Lapangan pekerjaan sempit, harga-harga kebutuhan pokok merangkak naik, dan kedai kecil kita... ya, kamu tahu sendiri keadaannya."
Fadil mengangguk pelan. Ia tahu betul kondisi keluarganya. Abdul Jabbar, ayahnya, dan Zubaidah telah lama berjuang melawan himpitan ekonomi. Kedai kelontong kecil milik mereka di pinggir jalan raya kian sepi sejak minimarket modern berdiri megah tak jauh dari sana. Ditambah lagi, utang-utang kecil untuk membiayai pengobatan adiknya tahun lalu masih menyisakan beban berat.
"Mak, Fadil ingat betul pesan Kiai Zulfakar sebelum Fadil lulus," ucap Fadil menenangkan ibunya. Jemarinya menyentuh tasbih kayu di pergelangan tangannya. "Kiai berpesan, masalah tidak datang untuk menjatuhkan, melainkan cara Allah membuka jalan pulang kepada-Nya. Ada enam pembuka masalah yang diajarkan: Al-Qur'an, Asmaul Husna, Shalat, Selawat, Doa, dan tawasul melalui amal saleh, ketakwaan, istighfar, serta sedekah."
Zubaidah menghela napas panjang, tersenyum tipis. "Mak percaya, Dil. Tapi perut lapar tidak bisa diajak berteori."
Percakapan sore itu terhenti ketika suara deru motor bebek tua memasuki halaman rumah. Seorang pemuda berbadan tegap dengan jaket kulit sintetis yang sudah mengelupas turun dari kendaraannya. Itu adalah Fathan, sahabat masa kecil Fadil yang setia, yang kini bekerja sebagai buruh angkut di pasar tradisional Prabumulih. Di belakangnya menyusul Faris dan Ghalib, dua kawan lama yang juga sepermainan mereka sejak kecil.
"Assalamu'alaikum, santri kesayangan kita!" seru Fathan riang, meski guratan lelah tampak jelas di bawah matanya.
"Wa'alaikumussalam, Fathan, Faris, Ghalib. Mari masuk," sambut Fadil sembari berdiri menyalami mereka satu per satu.
Mereka duduk melingkar di teras. Suasana langsung cair dengan gelak tawa nostalgia, namun tak butuh waktu lama hingga topik pembicaraan bergeser pada realitas pahit yang sedang mereka hadapi di Kota Nanas ini.
"Jujur, Dil, aku pusing," keluh Faris sambil mengusap wajahnya yang berminyak. "Aku sudah melamar kerja ke lima perusahaan kontraktor minyak di sekitar Prabumulih ini, tapi semuanya minta pelicin atau minimal sarjana. Lulusan SMA sepertiku dianggap angin lalu."
"Sama, Faris. Aku juga hampir putus asa," timpal Ghalib. "Usaha bengkel kecil yang kubuka bersama Yafiq nyaris bangkrut karena modal pinjaman dari bank keliling sudah jatuh tempo, sementara pelanggan sepi."
Fadil mendengarkan dengan seksama. Ia memandang wajah-wajah teman masa kecilnya itu—Fathan, Faris, Ghalib, ditambah Yafiq, Rayyan, Rafardhan, dan Kamil yang dikabarkan sedang berjuang di sisi kota lain. Mereka semua adalah pemuda-pemuda Prabumulih yang memiliki potensi besar, namun terhimpit oleh tembok tebal kemiskinan struktural dan minimnya kesempatan.
"Kalian sudah tahukah berita tentang penutupan pasar subuh kemarin?" tanya Fathan dengan suara merendah.
"Pasar subuh? Ada apa memangnya?" tanya Fadil.
"Pemerintah kota berencana menggusur lapak-lapak pedagang kecil di dekat terminal lama untuk dijadikan ruko modern. Padahal di sanalah tempat ratusan orang menggantungkan hidup, termasuk orang tua Rayyan dan Rafardhan," jelas Fathan dengan nada geram. "Kalau itu terjadi, banyak keluarga yang gulung tikar total."
Fadil terdiam. Hatinya bergemuruh. Masalah bukan lagi sekadar urusan dapur keluarganya sendiri, melainkan telah meluas menjadi jeritan kolektif orang-orang di sekitarnya. Di sinilah ujian sesungguhnya dimulai. Apakah enam pembuka masalah yang dihafalnya di pesantren hanya akan menjadi deretan kata indah di atas kertas, ataukah ia mampu membuktikannya di tengah lumpur kemelut Kota Prabumulih?
°˖✧✿✧˖°
Matahari baru saja naik segalah ketika Fadil memutuskan untuk melangkah keluar rumah menuju terminal lama Prabumulih. Ia mengenakan baju koko putih bersih dan peci hitam, membawa misi sederhana: menemui teman-temannya yang lain—Yafiq, Rayyan, Rafardhan, dan Kamil—untuk merembukkan nasib para pedagang kecil yang terancam penggusuran.
Setibanya di sana, suasana tampak tegang. Puluhan pedagang berkumpul di bawah tenda terpal biru yang membentang di depan kios-kios pasar. Di tengah kerumunan, Rayyan dan Rafardhan tampak berdebat sengit dengan beberapa petugas Satpol PP yang menempelkan surat peringatan penggusuran berwarna merah menyala di dinding pasar.
"Kalian tidak bisa semena-mena! Ini periuk nasi ribuan warga!" suara Rayyan meninggi, mencerminkan kemarahan yang tertahan.
"Kami hanya menjalankan tugas dari dinas, Mas! Tanggal merah di surat itu batas akhir pengosongan!" balas salah seorang petugas dengan nada tak kalah tinggi.
Fadil segera menerobos kerumunan, menepuk pundak Rayyan untuk meredakan emosinya. "Sabar, Rayyan. Marah tidak akan menyelesaikan masalah. Mari kita bicarakan baik-baik."
Rayyan menoleh, napasnya memburu. "Bagaimana bisa sabar, Dil? Tempat mencari makan satu-satunya mau dirampas!"
"Aku tahu, kawan. Tapi ingat apa yang diajarkan Kiai Zulfakar? Inna ma'al usri yusra—sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan," ucap Fadil dengan suara tenang namun tegas. Ketenangan yang dipancarkan Fadil perlahan-lahan meredakan ketegangan di antara para pedagang.
Di sudut lain pasar, Kamil dan Yafiq mendekat membawa kabar yang lebih mengkhawatirkan. "Dil, masalah kita bukan cuma soal penggusuran pasar," bisik Kamil dengan wajah pucat. "Ayah Rafardhan jatuh pingsan di rumah tadi pagi karena mendengar kabar kiosnya mau dibongkar. Sekarang beliau dirawat di klinik pratama, dan biayanya... kamu tahu sendiri, klinik itu tidak mau merawat tanpa uang muka."
Dunia seakan berputar lebih lambat bagi Fadil. Dalam satu waktu yang sama, ancaman penggusuran massal, krisis finansial keluarga, utang bengkel Ghalib, dan biaya medis ayah Rafardhan datang menghantam secara serentak. Ini adalah Titik Plot Pertama yang mengubah haluan hidupnya secara drastis; ia tidak lagi sekadar pengamat, melainkan poros tempat teman-temannya bersandar.
"Berapa biaya yang dibutuhkan untuk rumah sakit, Mil?" tanya Fadil penuh selidik.
"Tiga juta rupiah, Dil. Uang darimana? Kita semua pengangguran," desah Kamil putus asa.
Fadil menarik napas dalam-dalam. Ia teringat pada pembuka masalah pertama dan kedua: Al-Qur'an dan Asmaul Husna. Di tengah kebuntuan itu, Fadil mengajak seluruh sahabatnya—Fathan, Faris, Ghalib, Yafiq, Rayyan, Rafardhan, dan Kamil—untuk duduk melingkar di sebuah mushola kecil terbengkalai di sudut terminal.
"Teman-teman," ucap Fadil memulai diskusi di dalam mushola yang sepi. "Kita sedang diuji. Tapi Allah tidak pernah menutup pintu tanpa membuka jendela. Mari kita ambil langkah nyata. Pertama, kita selesaikan urusan darurat Ayah Rafardhan dengan ikhtiar batin dan lahir yang maksimal."