6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #151

Amanah Kiai Zulfakar

Terungkap bahwa sejak awal Kiai Zulfakar memang mempersiapkan Fadil bukan sekadar menjadi orang berilmu, tetapi menjadi seseorang yang mampu membawa manfaat.

°˖✧✿✧˖°

Matahari sore di Kota Prabumulih merosot perlahan ke balik cakrawala, menyisakan bias cahaya jingga keemasan yang menghiasi langit Sumatra. Di teras sebuah rumah kayu hijau lumut, Fadil Ar Rimbai duduk bersila di atas tikar pandan usang. Usianya kini menginjak kepala dua, memancarkan ketenangan batin yang mendalam. Di pergelangan tangan kanannya, tasbih kayu gaharu berputar perlahan mengikuti dzikir yang tak pernah putus dari bibirnya.

Setelah melewati malam istighfar dan ujian sedekah di kala sempit, Fadil merasa batinnya semakin jernih. Namun, sore itu sebuah surat pos tua dari Jawa Timur datang diantar oleh tukang pos keliling. Amplop cokelat itu sudah sedikit kusut, dengan cap pos dari sebuah pesantren di Kediri.

"Surat dari siapa, Dil?" tanya Zubaidah, ibunya, yang keluar dari pintu dapur sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat.

Fadil menerima amplop tersebut dengan tangan sedikit bergetar. Ia mengenali tulisan tangan di sampul amplop itu. "Dari pondok pesantren kita, Mak. Dari pengasuh lama kita, Kiai Zulfakar."

Zubaidah meletakkan nampannya di atas meja kayu reyot, lalu duduk di sebelah putranya dengan tatapan penuh rasa penasaran. "Kiai Zulfakar? Sudah lama sekali beliau tidak mengirim kabar semenjak kamu lulus dan pulang ke Prabumulih untuk membangun koperasi ini."

Fadil membuka amplop tersebut secara perlahan, mengeluarkan selembar kertas bergaris yang ditulis dengan tinta hitam khas sang kiai. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mulai membaca bait demi bait surat yang ternyata menyimpan rahasia besar tentang perjalanan hidupnya.

"Assalamu'alaikum warahmatullah, anakku Fadil," Fadil membacanya dengan suara lirih yang bergetar. "Jika surat ini sampai di tanganmu, berarti engkau telah melewati separuh dari badai ujian pertama di tanah kelahiranmu..."

Di dalam surat itu, Kiai Zulfakar menuliskan sebuah pengakuan mengejutkan. Ternyata, sejak hari pertama Fadil menginjakkan kaki di pesantren bertahun-tahun silam, sang kiai telah mengamati ketulusan hatinya. Bukan sekadar mencetak Fadil menjadi santri yang pandai menghafal kitab atau menguasai ilmu agama secara teoretis, Kiai Zulfakar sejak awal sengaja menyiapkan Fadil untuk memikul beban yang jauh lebih berat: menjadi pemimpin umat yang mampu membawa manfaat nyata bagi sesama manusia di tengah krisis dunia modern.

Mendengar bait surat itu, Zubaidah menutup mulutnya dengan tangan, air mata haru menetes perlahan di pipinya. "Subhanallah... Ternyata gurumu sudah melihat jauh ke depan sebelum kamu sendiri menyadari potensi dirimu, Dil."

Percakapan sore itu terhenti ketika deru motor bebek tua memasuki halaman rumah. Fathan turun dengan tergesa-gesa, melepas helmnya, disusul oleh Faris, Ghalib, Yafiq, Rayyan, Rafardhan, dan Kamil yang datang berbarengan dengan senyum sumringah khas mereka.

"Assalamu'alaikum, Pak Ketua!" seru Fathan riang, langsung melangkah naik ke teras.

"Wa'alaikumussalam, kawan-kawan. Mari silakan duduk," sambut Fadil, melipat surat Kiai Zulfakar dan menyimpannya hati-hati di saku bajunya.

Dari perjalanan hidup mereka di Prabumulih telah dimulai—sebuah babak emosional tentang pengungkapan amanah agung dari Kiai Zulfakar yang mengubah cara pandang Fadil terhadap makna sejati dari sebuah ilmu dan pengabdian.

°˖✧✿✧˖°

Malam perlahan merayap, menggantikan senja dengan kerlap-kerlip bintang di langit Prabumulih. Kedelapan sahabat itu duduk melingkar di teras rumah Fadil, menikmati teh hangat buatan Zubaidah. Suasana terasa sangat akrab, namun raut wajah Fadil tampak lebih serius dari biasanya, menyimpan rahasia besar dari surat Kiai Zulfakar yang baru saja ia baca.

"Ada apa, Dil? Dari tadi kamu kelihatan termenung terus memegang amplop cokelat itu," tanya Ghalib penasaran, memecah keheningan malam sambil menyeruput tehnya.

Fadil menatap satu per satu sahabat masa kecilnya—Fathan, Faris, Ghalib, Yafiq, Rayyan, Rafardhan, dan Kamil. Mereka adalah orang-orang yang telah berjuang bersama membangun Koperasi "Sahabat Tani & Niaga Prabumulih" dari nol hingga sebesar sekarang.

"Teman-teman, surat ini dari Kiai Zulfakar di pesantren," buka Fadil dengan suara tenang namun berbobot. "Dan ada hal penting yang beliau ungkapkan di dalamnya, yang selama ini tidak pernah beliau katakan secara langsung kepadaku selama aku mondok di sana."

Fathan mencondongkan tubuhnya ke depan, menyimak dengan penuh perhatian. "Apa isi suratnya, Dil? Apakah ada pesan khusus untuk koperasi kita?"

"Bukan cuma untuk koperasi, Fathan," jawab Fadil pelan. "Kiai Zulfakar menuliskan bahwa sejak hari pertama aku datang ke pesantren dulu, beliau sengaja mempersiapkan diriku bukan sekadar menjadi orang yang berilmu agama tinggi atau sekadar paham hukum fiqih, melainkan dipersiapkan khusus untuk menjadi seseorang yang mampu membawa manfaat luas bagi masyarakat."

Faris tertegun mendengarnya. Ia mengangguk-angguk kagum. "Wah, luar biasa sekali pandangan seorang guru besar. Beliau sudah membaca potensi dan takdirmu jauh sebelum kamu sendiri tahu mau jadi apa."

"Tapi jujur, kawan-kawan," lanjut Fadil dengan nada merendah, sorot matanya menatap lantai tikar pandan. "Membaca surat ini justru membuat dadaku terasa sesak. Beban amanah itu ternyata sangat berat. Menjadi orang berilmu itu mudah, tapi menjadi seseorang yang benar-benar membawa manfaat dan menyelamatkan umat dari keterpurukan... itu adalah tanggung jawab dunia akhirat yang luar biasa besar."

Yafiq, yang biasanya pendiam, ikut angkat bicara memberikan dukungan moral kepada sahabatnya. "Jangan merasa sendirian, Dil. Ingat, kita bertujuh ada di belakangmu. Kiai Zulfakar mungkin menitipkan amanah itu padamu, tapi Allah menakdirkan kita semua untuk berjuang bersama-sama di sini, di Prabumulih."

Kata-kata Yafiq langsung diamini oleh Rayyan, Rafardhan, dan Kamil. Mereka menyadari bahwa kesuksesan koperasi yang mereka rasakan saat ini bukanlah kebetulan semata, melainkan buah dari skenario besar yang telah dirajut oleh doa dan didikan Kiai Zulfakar bertahun-tahun lalu di tanah Jawa.

Ini adalah Titik Plot Pertama dalam perjalanan spiritual mereka: kesadaran kolektif bahwa ilmu pengetahuan agama tidak akan bernilai sempurna jika berhenti pada hafalan kepala, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk kerja nyata untuk meringankan penderitaan sesama manusia di dunia nyata.

°˖✧✿✧˖°

Lihat selengkapnya