6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #153

Menjadi Pelayan Umat

Fadil menggunakan pengalaman hidupnya untuk membantu orang lain.

°˖✧✿✧˖°

Matahari sore di kota Prabumulih meredup perlahan, memantulkan bias cahaya jingga keemasan di atas atap surau Pondok Pesantren Kecil Rimbai Madani. Di ruang tamu utama yang berdindingkan papan kayu jati tua, Fadil Ar Rimbai duduk termenung memandangi sepasang sepatu pantofel kulit usang yang tersusun rapi di dekat pintu. Sepatu itu adalah saksi bisu masa lalunya ketika ia pertama kali merantau ke Surabaya sebagai seorang pemuda miskin penuh keputusasaan, terjebak dalam lingkaran utang, penipuan, dan kegelapan kota besar sebelum akhirnya menemukan kembali jalan cahaya melalui enam pembuka masalah.

Pintu bilik terbuka perlahan, disusul langkah kaki berderit pelan. Rian, santri senior sekaligus kepala asisten pengajar, melangkah masuk membawa map laporan bulanan keuangan dan data santri baru dari kalangan dhuafa.

"Mas Fadil, sore ini ada tiga orang pemuda asal desa seberang datang kemari," lapor Rian dengan nada suara ragu-ragu. "Mereka mengaku putus sekolah, terlilit utang rentenir akibat salah pergaulan, dan berniat meminta bantuan bimbingan serta tempat perlindungan seperti yang pernah Mas Fadil ceritakan dulu."

Fadil mendongak perlahan, menatap wajah Rian dengan tatapan yang menyiratkan kedalaman emosi. Bayangan masa lalunya sekelebat berkelebat di dalam benaknya. "Suruh mereka masuk ke sini, Rian. Jangan biarkan mereka menunggu di luar dalam keadaan ketakutan seperti itu."

Beberapa saat kemudian, Rian kembali mengantar tiga pemuda berbadan kurus, berwajah kusam, dengan pakaian kusut dan pandangan mata penuh rasa rendah diri. Mereka berjalan menunduk, takut menatap sosok Fadil yang kini dikenal sebagai pimpinan pesantren terkemuka di wilayah tersebut.

"Silakan duduk, anak-anak muda," sambut Fadil dengan senyuman paling hangat yang ia miliki. "Tidak usah takut. Di sini kalian berada di rumah kalian sendiri."

Salah seorang pemuda bernama Doni, yang tangannya tampak gemetar memegang ujung baju kaosnya yang robek, memberanikan diri mendongak. "Betulkah kami boleh tinggal di sini, Mas Fadil? Kata orang-orang, bapak dulu juga pernah mengalami nasib yang sama seperti kami—jatuh miskin, terjerat utang, dan hampir kehilangan arah hidup di kota."

Fadil mengangguk pelan, tatapannya menerawang jauh menembus kaca jendela. "Benar, Doni. Saya bukan orang suci yang lahir dari keluarga berada. Saya adalah mantan pemuda miskin yang dulunya berjalan compang-camping di jalanan Surabaya, menanggung malu karena kegagalan demi kegagalan."

°˖✧✿✧˖°

Keesokan paginya, suasana di Pondok Pesantren Rimbai Madani dipenuhi kesibukan yang membakar semangat. Fadil memutuskan untuk menceritakan kisah perjalanan hidupnya secara terbuka kepada seluruh santri dan ketiga pemuda baru tersebut di halaman tengah surau. Duduk bersila di atas tikar pandan di bawah rindangnya pohon mangga, Fadil berbicara dengan nada suara yang jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi.

"Dulu, sewaktu saya menginjakkan kaki di Surabaya, saku saya benar-benar kosong melompong," cerita Fadil di hadapan puluhan pasang mata yang mendengarkan dengan khusyuk. "Saya tidak punya ijazah tinggi, tidak punya koneksi orang dalam, dan yang paling berat, saya terjerat utang pinjaman harian yang bunganya melilit leher hingga saya ingin mengakhiri hidup."

Rian dan Bayu menyimak cerita itu dengan takzim, sementara Doni bersama dua temannya tampak terpaku mendengarkan setiap patah kata yang meluncur dari bibir Fadil. Pengalaman pahit itu terasa begitu hidup dan dekat dengan realitas yang sedang mereka hadapi saat ini.

"Lalu apa yang membuat Mas Fadil bisa bangkit dari lubang hitam itu?" tanya Doni dengan suara serak penuh harap.

Fadil tersenyum tenang, menatap mata Doni lekat-lekat. "Bukan karena kepintaran saya, Doni. Saya bangkit karena saya dipertemukan dengan Kiai Zulfakar yang mengajarkan saya kunci kehidupan: enam pembuka masalah. Yaitu Al-Qur'an, Asmaul Husna, Shalat, Selawat, Doa, dan tawasul melalui amal saleh, ketakwaan, istighfar, serta sedekah."

Seorang santri senior mengangkat tangan bertanya, "Mas, apakah kisah masa lalu itu tidak membuat Mas Fadil merasa malu untuk mulanya diceritakan kepada kami?"

"Buat apa malu dengan masa lalu yang buruk jika masa lalu itu justru menjadi jembatan hidayah bagi orang lain?" jawab Fadil mantap. "Allah mengizinkan saya jatuh begitu dalam agar saya tahu bagaimana rasanya menjadi orang miskin yang terhimpit, sehingga kelak saya bisa melayani umat dengan empati yang utuh."

°˖✧✿✧˖°

Meskipun niat Fadil murni untuk membimbing para pemuda tersesat tersebut, ujian batin mulai muncul ketika keberadaan Doni dan kedua temannya di pesantren mendapat penolakan halus dari sebagian kecil warga kampung yang merasa khawatir akan keamanan lingkungan sekitar. Isu miring beredar bahwa pesantren mulai menampung anak-anak nakal eks preman jalanan yang dikhawatirkan membawa pengaruh buruk.

Lihat selengkapnya