6 PEMBUKA MASALAH

Amrullah Ibrahim
Chapter #154

Pulang dengan Cahaya

Fadil kembali menemui kedua orang tuanya dan menceritakan perjalanan panjangnya.

°˖✧✿✧˖°

Mentari pagi menyapa lembut kawasan pedesaan tempat Fadil dilahirkan dan dibesarkan. Udara desa yang sejuk, beraroma tanah basah dan dedaunan hijau, menyambut kedatangan seorang pemuda yang berjalan tegap sambil membawa sebuah ransel sederhana di pundaknya. Setelah sekian lama merantau dan berjuang mengadu nasib di kota, membangun usaha dari nol, mendalami ilmu agama di majelis Kiai Ahmad, serta merasakan manisnya berbagi melalui sedekah pertama, hari ini Fadil akhirnya melangkah pulang. Setiap jengkal jalan setapak berbatu di desa itu menyimpan kenangan masa kecilnya, mengingatkannya pada peluh kedua orang tuanya yang senantiasa mendoakannya dalam diam.

Ketika ia membelok di tikungan terakhir jalan desa, sebuah rumah kecil berdinding kayu jati tua dengan halaman yang asri tampak di hadapannya. Jantung Fadil berdegup kencang, dipenuhi gelora kerinduan yang teramat sangat. Di teras depan rumah tersebut, seorang ibu paruh baya berkerudung sederhana sedang menyapu halaman sambil sesekali menengadah ke arah jalan, seolah menanti kepulangan seseorang yang sangat dirindukannya setiap detik.

Ibu Fadil, Siti, menghentikan gerakan sapunya ketika melihat sesosok pemuda mendekat dengan senyuman yang begitu familier di wajahnya. Matanya mengerjap beberapa kali, memastikan bahwa sosok yang berjalan mendekat bukanlah bayangan semata.

"Fadil...? Ya Allah, anakku!" seru Siti dengan suara bergetar tertahan, sapu di tangannya terjatuh begitu saja ke tanah.

Fadil mempercepat langkahnya, lalu langsung berlari kecil menuju teras rumah. Begitu sampai di hadapan sang ibunda, ia langsung berlutut, merengkuh kedua kaki ibunya, dan menciumnya dengan penuh takzim serta linangan air mata haru yang tak tertahankan.

"Ibu... Fadil pulang, Bu," ucap Fadil dengan suara serak menahan tangis kebahagiaan.

Siti langsung menjatuhkan diri, memeluk erat kepala anak laki-lakinya tercinta, mendekapnya seolah tak ingin melepaskannya lagi. Air mata tumpah membasahi bahu baju Fadil. "Alhamdulillah... alhamdulillah ya Allah. Kamu pulang dengan selamat, Nak. Ibu dan bapak sangat merindukanmu."

Tidak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Ayah Fadil, Pak Usman, keluar dengan langkah yang sedikit tertatih karena faktor usia, mengenakan peci hitam usang dan sarung melilit di pinggangnya. Begitu melihat anak sulungnya bersimpuh di pelukan sang istri, mata Pak Usman yang sayu mendadak berbinar-binar basah.

"Fadil, anakku... kamu benar-benar sudah kembali," sapa Pak Usman dengan suara berat penuh rasa syukur.

Fadil segera bangkit berdiri, lalu beralih memeluk ayahnya erat-erat. Pelukan seorang ayah yang selama ini menjadi teladan ketegaran hidup baginya. Di pelukan kedua orang tuanya itu, Fadil merasakan ketenangan yang luar biasa—sebuah ketenangan yang tidak pernah ia temukan di hiruk-pikuk kota besar tempat ia berjuang selama ini.

°˖✧✿✧˖°

Setelah melepas rindu yang membuncah di teras rumah, Fadil diajak masuk ke ruang tamu sederhana yang dipenuhi kenangan masa kecilnya. Aroma teh manis hangat dan pisang goreng buatan sang ibu tersaji di atas meja kayu beralaskan taplak rajut putih. Pak Usman dan Siti duduk di hadapan Fadil, menatap lekat-lekat wajah anak mereka yang tampak lebih dewasa, matanya memancarkan ketenangan batin dan cahaya keimanan yang begitu kentara.

"Bagaimana kabar usahamu di kota sana, Nak? Dari surat-surat yang kamu kirimkan beberapa waktu lalu, ibu mendengar usahamu mulai berkembang ya?" tanya Siti sambil menuangkan teh hangat ke dalam cangkir suaminya.

Fadil tersenyum hangat, meneguk sedikit teh buatan ibunya sebelum mulai membuka cerita perjalanan panjangnya. "Alhamdulillah, Bu, Pak. Usaha toko 'Berkah Mandiri' yang Fadil dirikan bersama Haris berjalan dengan lancar atas izin Allah. Tapi bukan sekadar masalah keuntungan materi yang membuat Fadil bersyukur, melainkan banyak pelajaran hidup dan hikmah besar yang Fadil temukan selama di kota."

Pak Usman mengangguk-angguk perlahan, menyeruput tehnya dengan bijak. "Pelajaran apa maksudmu, Fadil? Coba ceritakan kepada bapak dan ibu. Kami ingin mendengarkan bagaimana kamu menempa diri di tanah rantau."

Fadil menarik napas dalam-dalam, menyusun kata-kata agar bisa merangkum seluruh perjalanan spiritualnya, mulai dari majelis ilmu Kiai Ahmad hingga pengalaman pertamanya bersedekah dari keuntungan usaha.

"Begini, Pak, Bu. Di awal merintis usaha, Fadil sempat merasa semuanya begitu berat dan penuh ketidakpastian. Modal pas-pasan, saingan yang ketat, dan rasa cemas yang selalu menghantui setiap malam. Namun, semua itu mulai berubah ketika Fadil dan Haris rutin mengikuti pengajian di Masjid Al-Ihsan bersama Kiai Ahmad," kisah Fadil dengan penuh penghayatan.

Siti menyimak dengan penuh perhatian, jemarinya memegang ujung kerudungnya. "Kiai Ahmad? Kiai yang pernah singgah ke desa kita dulu ya, Nak?"

"Betul sekali, Bu. Beliau adalah guru yang mengajarkan kami banyak hal, mulai dari bab tawasul yang benar sesuai syariat hingga bagaimana cara membersihkan harta melalui sedekah," jawab Fadil mantap. "Di majelis beliaulah Fadil belajar bahwa usaha tidak hanya tentang seberapa besar modal yang kita keluarkan, tetapi seberapa besar keberkahan yang kita libatkan di dalamnya."

Pak Usman tersenyum bangga mendengar penuturan putranya. "Bagus sekali, Fadil. Ilmu agama adalah kompas utama dalam hidup. Tanpa ilmu, harta sebanyak apa pun hanya akan menjadi beban dan melalaikan kita dari mengingat Allah."

°˖✧✿✧˖°

Pembicaraan di ruang tamu itu semakin mengalir hangat ketika Fadil mulai menceritakan titik balik terpenting dalam perjalanan usahanya: momen ketika ia mendapatkan keuntungan bersih pertama dan memutuskan untuk menyalurkannya kepada para fakir miskin di sekitar terminal lama.

Lihat selengkapnya