
Bukan Enam Jalan Menghindari Masalah
Novel ditutup dengan kesadaran Fadil bahwa hidup tidak pernah menjanjikan ketiadaan masalah.
°˖✧✿✧˖°
Matahari sore di Kota Prabumulih merayap turun perlahan, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah dedaunan mangga di halaman rumah sederhana Fadil. Udara terasa hangat, membawa aroma tanah basah seusai hujan sore tadi. Di teras rumah berlantai semen yang mulai retak-retak itu, Fadil Ar Rimbai duduk bersila di atas tikar pandan usang. Usianya kini telah menginjak kepala dua, membawa serta ketenangan dan kedewasaan yang terpancar jelas dari tatapan matanya. Di pergelangan tangan kanannya, tasbih kayu gaharu berputar pelan mengikuti dzikir yang tak pernah putus dari bibirnya.
Perjalanan panjang telah ia lalui. Bertahun-tahun lalu, ia meninggalkan tanah kelahiran ini untuk menimba ilmu di sebuah pesantren di Jawa Timur di bawah didikan Kiai Haji Zulfakar Al-Quthuz. Di sanalah ia mengenal hakikat hidup yang sesungguhnya. Dan kini, setelah kembali ke Prabumulih, ia bukan lagi sekadar pemuda biasa yang kebingungan menghadapi kerasnya dunia, melainkan seseorang yang telah menemukan jangkar spiritual yang kokoh bersama ketujuh sahabat setianya: Fathan, Faris, Ghalib, Yafiq, Rayyan, Rafardhan, dan Kamil.
"Fadil, nak, hari sudah semakin petang. Kenapa masih melamun di luar?" Suara lembut Zubaidah, ibunya, memecah keheningan sore itu. Wanita paruh baya tersebut keluar sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh poci hangat dan piring kecil pisang goreng buatan tangannya.
Fadil mendongak, menyunggingkan senyum hangat kepada wanita yang telah melahirkannya dengan penuh pengorbanan. "Fadil tidak sedang melamun, Mak. Fadil cuma sedang mensyukuri apa yang kita miliki hari ini."
Zubaidah meletakkan nampan di atas meja kayu reyot, lalu mendudukkan diri di kursi sebelah. Matanya menatap sang anak dengan pandangan penuh kasih bercampur kelegaan. "Mak masih sering tidak percaya, Dil. Dulu, hidup kita begitu sempit. Utang menumpuk, kedai sepi, dan masa depan tampak begitu gelap. Tapi sekarang, lihatlah bagaimana Allah mengubah segalanya."
Fadil meraih cangkir teh hangat, menyeruputnya pelan sebelum menjawab, "Bukan karena kita hebat, Mak. Tapi karena Allah yang memudahkan. Fadil jadi teringat semua badai yang pernah kita lewati beberapa bulan lalu."
"Badai yang hampir merenggut kewarasan kita semua," timpal suara berat dari arah pintu. Abdul Jabbar, ayah Fadil, baru saja datang dari bengkel las tempat ia bekerja. Pria paruh baya itu meletakkan topi kainnya di atas meja, lalu ikut bergabung duduk di teras. Wajahnya tampak lebih segar, garis-garis kelelahan di wajahnya kini berganti dengan ketenangan batin yang kentara.
"Bagaimana di bengkel hari ini, Ayah?" tanya Fadil takzim, menyalami tangan ayahnya.
"Lancar, Nak. Alhamdulillah, sejak koperasi yang kalian dirikan bersama teman-temanmu itu berjalan, ekonomi di kota ini berputar lebih adil. Tidak ada lagi pedagang kecil yang digusur semena-mena, dan bengkel tempat Ayah bekerja pun mendapat pasokan onderdil yang stabil," jawab Abdul Jabbar sambil tersenyum lebar. Ia menepuk pundak anaknya. "Ayah bangga padamu, Dil. Kau membawa pulang ilmu yang menyelamatkan banyak orang."
Fadil mengangguk pelan, namun pandangannya menerawang jauh ke langit senja yang mulai jingga. Ia tahu persis, kedamaian yang dirasakan saat ini bukanlah akhir dari segalanya. Ingatannya melayang pada malam-malam panjang di pesantren, ketika Kiai Zulfakar memberikan amanah terbesar dalam hidupnya: enam pembuka masalah.
"Mak, Ayah..." ucap Fadil memulai pembicaraan dengan suara lirih namun tegas. "Selama ini, banyak orang mengira bahwa setelah kita belajar agama, setelah kita berbuat baik, maka hidup akan berhenti mendatangkan masalah. Padahal kenyataannya tidak begitu."
Zubaidah dan Abdul Jabbar saling berpandangan, menyimak cucuran kata dari putra kesayangan mereka dengan penuh perhatian.
°˖✧✿✧˖°
Perbincangan sore di teras itu mendadak diselingi oleh deru motor bebek tua yang memasuki halaman rumah. Sosok Fathan turun dengan tergesa-gesa, melepas helmnya seraya menyapa kedua orang tua Fadil dengan takzim. Di belakangnya menyusul Faris dan Ghalib yang datang berboncengan, disusul tak lama kemudian oleh Yafiq, Rayyan, Rafardhan, dan Kamil yang berjalan kaki dari arah ujung jalan perumahan.
"Assalamu'alaikum, Pak, Mak, dan calon ulama besar kita!" sapa Fathan setengah berteriak dengan nada riang khasnya.
"Wa'alaikumussalam, Fathan. Mari masuk, kebetulan Mak baru bikin pisang goreng hangat," sambut Zubaidah ramah.
Kedelapan pemuda itu—Fadil, Fathan, Faris, Ghalib, Yafiq, Rayyan, Rafardhan, dan Kamil—langsung duduk melingkar di atas tikar pandan, memenuhi teras rumah Fadil. Suasana langsung cair oleh gelak tawa dan candaan ringan. Namun, di balik keceriaan itu, sorot mata mereka menyiratkan kedalaman pengalaman batin yang telah menyatukan ikatan persahabatan mereka melewati berbagai krisis di Prabumulih.
"Ada angin apa kalian datang bergerombol begini? Jangan bilang mau ngutang kopi lagi kayak minggu lalu," goda Fadil sambil tertawa kecil.
Ghalib mendengus pura-pura kesal, lalu mengambil sepotong pisang goreng. "Enak saja! Kali ini kami datang bukan mau ngutang, Dil. Tapi mau nagih janji."
"Janji apa, Ghalib?" tanya Fadil penasaran.
"Janji untuk merenung bersama," sahut Rafardhan dengan suara tenang. Pemuda yang beberapa bulan lalu hampir kehilangan ayahnya karena sakit itu kini tampak jauh lebih tegar dan matang. "Kemarin malam, aku merenungkan perjalanan hidup kita. Dari anak-anak muda yang nyaris putus asa menghadapi kerasnya kota ini, sampai kita bisa mendirikan koperasi yang menolong ratusan orang. Rasanya seperti mimpi."
Faris mengangguk menyetujui. "Benar, Raf. Dulu aku kira, kalau kita sudah rajin shalat dan sedekah, hidup akan berjalan mulus tanpa hambatan sama sekali. Ternyata, masalah tetap datang silih berganti. Bedanya, cara kita memandangnya yang sudah jungkir balik."
Fadil tersenyum mendengar perdebatan kecil sahabat-sahabatnya. Ia meletakkan cangkirnya, lalu menatap satu persatu wajah mereka di bawah temaram lampu teras. "Itulah inti dari perjalanan kita, kawan-kawan. Bab 155 dalam buku kehidupan kita hari ini mengajarkan satu kesadaran mutlak: bahwa hidup tidak pernah menjanjikan ketiadaan masalah."
Suasana teras yang tadinya riuh mendadak senyap. Angin malam Kota Prabumulih berembus pelan, membawa kesejukan.
"Lalu, apa yang sebenarnya berubah kalau masalah itu tidak pernah berhenti datang, Dil?" tanya Kamil mewakili rasa penasaran yang terpendam di dada mereka semua.
Fadil menarik napas dalam-dalam, merasakan ketenangan merayap di dadanya. "Yang berubah bukanlah dunianya, melainkan cara seorang hamba menghadapi masalah itu sendiri. Dulu, saat menghadapi kesulitan, kita mengeluh, marah, dan merasa diabaikan. Sekarang, kita tahu ke mana harus melangkah."