Menatap langit di pagi hari membuatnya tetap terhanyut dalam keheningan sampai akhirnya seatu suara jatuh berasal arah pintu kamarnya. Ternyata itu namanya sendiri.
"Mama? " Altera berusaha berbalik badan.
"Nah, nak kau sudah bisa berjalan? Ta-tadi beneran jalan sendiri?" Mamanya berjalan perjalanan mendekati Altera.
"Oh iya ma, Al berusaha jalan, dan ternyata Al bisa kok cepat jalan, mama liat nih, Al udah bisa berdiri lama kan? " Altera menunjukkan kedua kakinya.
Suara langkah terdengar mendekat
"Suara apa itu ma? Ada apa?" Papa berlari ia masuk kamar Al dan ia masih pakai piyama(?).
Setelah itu ia melihat putrinya bisa berdiri.
"Altera? Ini beneran bisa berdiri?" Papa pun juga ikut mendekat melihat putrinya.
"Iya pa, Al sudah bisa berdiri. " Altera benar benar bahagia.
"Syukurlah sayang, papa senang sekali. Nanti kita periksa dulu ya, ayo ayo duduk dulu"
" Aku ingin memeluknya tapi aku takut kalau aku ditolak"
Mereka menopang tubuh Altera untuk berbaring.
"Maaf ya sayang kau pasti terkejut ya tadi dengar nampan jatuh? Tadi mama mau ganti perban kecil yang di kepalamu sayang, tapi mama sangat terkejut dan bahagia melihat kau bisa berjalan lagi." Mama memegang tangan Altera.
"Iya ini benar benar kabar baik, papa sama mama benar benar senang, nanti kita langsung ke rumah sakit teman papa, dan kita akan periksa lagi"
Aku senang melihat mereka tersenyum, aku juga ingin cepat cepat berjalan karena aku ingin bertemu dengan mereka semua disana dan merasakan perasaan yang tak hanya di layar tapi langsung di hadapan mereka.
Pagi itu kembali seperti bisa, mama mengganti perban ku, papa juga kembali ke kamarnya.
"Sudah selesai, mama ke dapur dulu ya." Mama mengecup keningnya Altera.
Altera membatu, ia tak menyangka mamanya akan mengecupnya. Bahkan tanpa rasa apapun mamanya langsung pergi.
"Ini beneran aku dapat kecupan? Akh...seneng banget, kecupan? Beneran?"
Altera sangat senang bahkan bantal yang ada di sebelahnya pun jadi sasaran. Ia memukul batal itu dan menutup wajahnya.
"Tak pernah aku dapatkan lagi seperti ini, tapi mama hampir memberi yang aku inginkan"
Saat masakan sudah selesai, barulah kedua kakak itu datang menghampiri ku.
"Al, mau sama kakak atau sama Ardan?" Gilang tiba tiba bertanya.
"Hah, apanya?" Ardan tak paham apa yang dikatakan Gilang.
"Ah, turunnya lah apalagi." Kata Gilang.
"Oh..bilang dong kak, aku kan bingung"
"Hadeh" Gilang menepuk dahinya.
Altera tertawa melihat tingkah kedua kakaknya.
"Tenanglah, coba kalian berbalik. "