Pagi ini Altera bersiap siap untuk pergi ke sekolah, Altera memakai seragam sekolah dan menatap ke arah cermin besar yang ada di hadapannya.
"Syukurlah, aku bisa sekolah sekarang, sekolah dan aku bisa menikmati apa yang Altera rasakan disini, teman dan yang lain lain dan mungkin aku bisa mendapatkan ingatan. " Kata Altera.
"Aku tak menyangka aku juga sekolah di tempat yang sama." Lanjutnya lagi.
Ia merapikan tasnya sekali lagi dan menggandeng tas punggungnya untuk turun dari kamar. Setelah kakinya sembuh Altera diperbolehkan untuk tidur du lantai atas kamar dia yang sesungguhnya.
Altera membantu mamanya menyiapkan meja, mama terharu melihat aku yang sudah bisa berjalan dengan baik. Sarapan sudah tertata di meja, semuanya kumpul di meja makan, menyantap makanan.
"Oh iya, Al, nanti kita ke ruang kepala sekolah dulu ya" Kata papa
"Loh, kenapa ke sana pa?" Kata Altera.
"Iya kita harus ke sana dulu, karena pihak sekolah juga harus tau kondisimu saat ini, apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh, karena dari bertemu sama kepala sekolah kau akan dapat keringanan untuk beraktivitas di sekolah"
Memang banyak yang menjadi larangan Altera selama masuk sekolah, apalagi saat masa penyembuhan.
"Oke pa!" Altera setuju lalu lanjutkan sarapannya.
"Andai Rata pulang, pasti dia bisa jaga Altera." Nama baru lagi yang diucap oleh Gilang.
"Rata? Siapa dia?" Altera tak mengenal nama itu itulah sebabnya ia bertanya.
"Rata, namanya Burata Purnama, dia kakak ke 3 mu. Seperti yang kau ketahui dia sedang melarikan diri, kami hilang kontak darinya selama ini" Penjelasan kak Ardan membuat suasana mulai suram.
"Dia juga satu sekolah samamu Al, bedanya dia di kelas 3 kalau Al di kelas 1." Jelas Ardan.
"Um..begitu, semoga kakak bisa kembali secepatnya"
Aku bingung mau bereaksi seperti apa, tapi karena aku juga masih baru aku belum ingin bertanya lebih lanjut.
Setelah selesai makan Altera diantar papanya ke sekolah, Ardan oergi ke kampus, dan Gilang pergi ke kantornya. Selama perjalanan Altera memainkan jarinya, jari manis sebelah kiri ia gesek dengan ibu jari selah kanan, walaupun tak gatal tapi tindakan seperti itu menjadi kebiasaan baginya saat merasa gugup, bingung dan khawatir.
"Um..Pa, Al mau tanya sesuatu boleh?" Akhirnya Altera memberanikan diri untuk bertanya namun jarinya tak berhenti ia mainkan.