6 Pintu Rumah

Lilyandra
Chapter #18

Lintasan Waktu

Burata melihat langit yang sedang cerah

"Saat itu, kau akan pergi kerja kelompok, kita tak searah pulangnya aku juga saat itu sedang berada di depan sekolah,aku kumpul sama temanku yang lain, aku juga ingin memastikan kau baik baik saja. Tapi saat itu saat lampu penyebrangan warna hijau tiba tiba ada mobil yang menabrakmu, kalau dikatakan papap berhasil menangkapnya itu benar. Tapi Al, bukan dia pelakunya" Burata menghentikan penjelasannya dan melihat ekspresi Altera yang sangat kebingungan


"Pada saat itu aku melihat kau yang tertabrak aku ingin bersamamu tapi sayang aku tak bisa melakukannya, aku pergi mengejarnya, mengejar mobil tadi. Mobil hitam yang pekat berhenti di persimpangan" Mulut Altera ditutup karena tak menyangka.


"Tau gak apa yang yang terjadi?" Tatapan matanya melihat wajahnya adiknya, wajah adiknya yang masih tak menyangka akan apa yang ia dengar.


"Ada orang yang keluar dari sana dia memakai pakaian serba hitam, ia keluar dan sempat beberapa kali melihat sekitar, ia pindah dan naik mobil merah, aku mengejarnya tapi aku tak bisa melakukannya, mereka lebih cepat dariku." Rata tak mampu mengangkat wajahnya lagi untuk menatap wajah adiknya, ia tak mampu melihat bagaimana Altera


Flashback Burata


Suara yang tersenggal senggal, langkah yang masih berlari menggebu menyusuri lorong yang sempit bahkan jalan yang tak tau apakah ada ujungnya di sana. Mata yang tak pernah teralihkan dari sasarannya, sebuah mobil yang melaju dengan cepat seperti menghindari sesuatu. Namun ada banyak kerumunan di depan sana yang menghambat kecepatan langkahnya.


“Sial!” ia mencoba memotong kerumunan di pasar, sesekali mengumpat karena ia kehilangan targetnya. Sampai diujung persimpangan, ia terjebak diantara jalan yang bercabang ia sangat frustasi dan menjerit kesal.

“Bangsat, tidak akan kubiarkan kau pergi gitu aja, aku akan cari kau sampai ke liang lahat sekalipun!” kedua matanya mulai berair, amarahnya sangat menggebu, rambutnya ia tarik dengan rasa amarah yang tak dapat ia luapkan pada orang orang. Tangannya merogoh kantong celananya mencari ponselnya.

“Cari mobil yang punya warna merah disekitar kota!” perkataan perintah yang ia ucapkan untuk seseorang diseberang sana.

Lihat selengkapnya