Aku jadi paham apa yang kakak katakan, mungkin soal aku dibawa kesini itu sulit kuterima, karena selama ini aku merasakan sakit yang nyata, dan gak mungkin aku biasa saja menghadapi kenyataan ini. Selama proses belajar disini juga terasa nyata. Teman teman, makanan bahkan angin yang berhembus aja juga terasa sangat nyata.
Bel sekolah berdenting, tandanya pelajaran telah usai, seperti biasa Alexa menghampirinya, ia berdiri di depan meja Altera.
"Al, aku tau mungkin kau terkejut melihat reaksi orang orang tadi, tapi percayalah nanti kau pasti akan terbiasa, apalagi sekarang udah banyak yang tau kau adiknya kak Rata. Selama ini kau selalu merahasiakan fakta ini, karena..katamu kau gak mau repot" Raut wajahnya yang tenang dan teduh ia mencoba bicara sedikit sedikit agar Altera tak bingung.
"Um..makasih ya Alexa, aku jadi tau apa yang aku lakukan dulunya. Ya..jujur aja tadi tuh rasanya bingung banget kenapa bisa mereka gak tau aku adiknya kak Rata." Altera mendengus kesal.
"Hihihi, biarkan aja mereka, karena kalau mereka udah tau kau adiknya kak Rata pasti tidak ada yang akan berlaku buruk samamu, oh iya besok aku kembali ke ibu kota, aku ambil cuti karena papa sama mama sakit, keren juga mereka bisa sakit bersamaan. " Ujarnya.
"Apa ada ikatan batin?" Altera menahan tawanya.
"Hem...mungkin." Tawa mereka pecah.
"Al, jangan gegabah ya selama gue gak ada, gue cuma pergi 2 hari tapi mungkin lebih, jadi jangan lakukan hal yang gak masuk akal yaaa" Alexa menyipitkan matanya senyumnya terukir sangat manis dan tatapan yang teduh.
"Kayak apa aja deh, iya..iyaa aku bakal ingat, hati hati ya, jangan lama lama disana, nanti aku kesepian" Altera menunjukkan sisi manjanya.
"Utututuuu, tenanglah, aku bakal kabarin kalau udah sampai aku tetap disini menunggu kabar yaa, yok kita pulang!" Alexa mengulurkan tangannya untuk membawa Altera bangkit dari duduknya.
Tangan Altera meraih uluran tangan Alexa, mereka melangkah beriringan keluar kelas. Mereka berjalan menyusuri lorong kelas. Tatapan keterangan dari orang orang tak luput jauh dari Altera.
"Ya aku sudah tidak asing dengan perlakuan seperti ini, tatapan, dan cibiran"
Mereka tetap berjalan hingga sampai di depan gerbang. Kedua teman itu harus berpisah, Alexa sudah dijemput dengan naik mobil, sementara Altera masih menunggu kakaknya keluar dari parkiran.
Tatapan matanya tertuju pada gerbang sekolah, lebih tepatnya jalan penyeberangan daerah yang Altera kira dari situ yang membawanya ke tempat yang berbeda.
"Apa yang kau pikirkan Altera, sadar!" Altera menepuk wajahnya untuk tetap sadar.
"Kau masih waras kan?" Suara tegas yang familiar lagi.
"Masih waras lah, dikira gila apa!" pria tubuh tinggi berdiri di depannya.
“Ya..kan siapa tau kau gak waras.” Suara kekehan kecil terdengar darinya.
“Pergilah sana Hans, kau akan kena masalah kalau bertemu kakakku”
“Biarkan saja, aku yang mau disini, tidak ada yang bisa menghalangiku” Hans ikut menunggu di sebelahnya.
“Makasih.”Ucap Altera yang tiba tiba.