60 Days Without You

KiraNico
Chapter #1

Prolog - Dua Serigala

07:12 – Nico: Cewek bawel? Um, pagi ini kami mendapat pengumuman kalau kami akan menjalani latihan intensif. Jadi, kami tidak diizinkan pulang selama 60 hari ke depan. Maaf aku tidak bisa menemuimu dan menyampaikan langsung, semuanya mendadak. Jaga dirimu baik-baik, supaya aku bisa tenang di sini. Saat aku pulang nanti, aku traktir kamu es cokelat favoritmu, oke?

​Balasanku di bawahnya hanya menyisakan tanda centang satu yang membeku.

09:23 – Kirana: Benar-benar tidak bisa bertemu sebentar saja? (Unread)

09:35 – Kirana: Nico? (Unread)

13:52 – Kirana: Baiklah. Berjuang, ya, di sana, Kapten. Sampai bertemu 60 hari lagi. Jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja. (Unread)

"Sebuah kisah tentang dua hati yang dipisahkan oleh jarak, dibentuk oleh waktu, dan dipertemukan kembali oleh takdir sebagai dua insan yang utuh." - Kirana's Rooms: 60 Days Without You

⚠️ Note: Jangan harap kamu bakal dapat cerita cinta ringan biasa. Ada depth di cerita ini tentang: cinta masa muda, olahraga, dan passion. Tapi kamu harus sabar-setidaknya sampai Chapter 7, dan mulai Chapter 10 ke atas, ceritanya makin panas.

Selamat menikmati kisahnya!

***

BERBERAPA BULAN SEBELUMNYA...

[Rumah - Siang Hari, 13:33]

Bruk!

Tubuhku ambruk di atas sofa empuk ruang keluarga. Rasanya seluruh energiku tersedot habis, menyisakan pegal yang berdenyut di pundak.

​"Kamu sudah pulang, Kirana? Bagaimana hari pertamamu di SMA?" tanya Mama yang sedang menumis. Dari dapur aroma gurih masakan menyambutku.


(KIRANA MELIORA)

Aku menoleh dan tersenyum kecut, ​"Huft. Kacau dan... sedikit aneh, Mah."

Mama mengangkat alis.

"Hari pertama sekolah, kami langsung membentuk struktur kelas. Ketua, Bendahara, Sekretaris. Semuanya. Tentu tujuannya membuat suasana belajar yang nyaman. Aku mendukungnya, mah, karena aku benci hal berantakan. Aku terpilih menjadi sekretaris dan petugas ketertiban."

Aku bangkit perlahan, meraih segelas es cokelat favoritku di atas meja. Uap es di gelas kaca terasa dingin di tanganku.

"Semuanya berjalan lancar. Kecuali... untuk MEREKA."

​"Mereka?" tanya Mama sembari memasukkan piring isi daging ke dalam microwave. Tit. Bunyi mesin itu menyala.

​"Iya. Kelompok Chaos. Mama tahu, kan? Tipe-tipe murid liar yang hobi membuat rusuh. Yang memandang kami sekumpulan orang kaku yang sok tertib."

"Disudut belakang kelas, anak-anak Chaos tertawa sambil lempar bola kertas. Mereka menguasai kelas. Sementara kami (Sistem) di barisan depan hanya bisa pucat sambil bisik-bisik, tak berani berbuat apa-apa.

Aku meneguk es cokelat untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering. Glek. Glek. Lalu mengusap sisa air di tepi bibir dengan punggung tangan. ​

"Tapi masalah sebenarnya bukan mereka, Mah. Melainkan VICTOR."

Aku terdiam sejenak, membayangkan sosoknya yang mendominasi sudut kelas. "Orangnya atletis, ada bekas luka di pipi kirinya dan punya kharisma yang... aneh. Saat dia menatap, lutut rasanya lemas karena takut. Tidak ada satu pun yang berani mendekatinya."


(VICTOR)

​"Jadi," sahut Mama yang kini duduk di sampingku, menunggu denting microwave tanda dagingnya matang, "dia yang mengacaukan semuanya?"

​"Sejujurnya, dia tidak melakukan apa-apa. Dia hanya diam. Menunggu sesuatu? Atau memang tidak peduli? Entahlah. Tapi niatnya yang tidak terbaca itu justru yang menakutkan. Kami hanya... pasrah kalau sebagian kelas tetap kacau dikuasai kelompok itu."

Pikiranku melayang kembali ke ruang kelas tadi siang. Aku ingat betapa kesalnya aku saat itu.

​"Siapa seksi keamanan? Kenapa dia diam saja?" tuntutku pada Ketua Kelas.

Lihat selengkapnya