"Sebuah kisah tentang dua hati yang dipisahkan oleh jarak, ditempa oleh waktu, dan dipertemukan kembali oleh takdir sebagai dua insan yang utuh." — Kirana's Rooms: 60 Days Without You
***
[Rumah - Siang Hari, 13:33]
Bruk!
Tubuhku ambruk di atas sofa empuk ruang keluarga. Rasanya seluruh energiku tersedot habis, menyisakan pegal yang berdenyut di pundak.
"Kamu sudah pulang, Kirana? Bagaimana hari pertamamu di SMA?" tanya Mama yang sedang menumis. Dari dapur aroma gurih masakan menyambutku.

(KIRANA MELIORA)
Aku menoleh dan tersenyum kecut, "Huft. Kacau dan... sedikit aneh, Mah."
Mama mengangkat alis.
"Hari pertama sekolah, kami langsung membentuk struktur kelas. Ketua, Bendahara, Sekretaris. Semuanya. Tentu tujuannya membuat suasana belajar yang nyaman. Aku mendukungnya, mah, karena aku benci hal berantakan. Aku terpilih menjadi sekretaris dan petugas ketertiban."
Aku bangkit perlahan, meraih segelas es cokelat favoritku di atas meja. Uap es di gelas kaca terasa dingin di tanganku.
"Semuanya berjalan lancar. Kecuali... untuk MEREKA."
"Mereka?" tanya Mama sembari memasukkan piring isi daging ke dalam microwave. Tit. Bunyi mesin itu menyala.
"Iya. Kelompok Chaos. Mama tahu, kan? Tipe-tipe murid liar yang hobi membuat rusuh. Yang memandang kami sekumpulan orang kaku yang sok tertib."
"Disudut belakang kelas, anak-anak Chaos tertawa sambil lempar bola kertas. Mereka menguasai kelas. Sementara kami (Sistem) di barisan depan hanya bisa pucat sambil bisik-bisik, tak berani berbuat apa-apa.
Aku meneguk es cokelat untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering. Glek. Glek. Lalu mengusap sisa air di tepi bibir dengan punggung tangan.
"Tapi masalah sebenarnya bukan mereka, Mah. Melainkan VICTOR."
Aku terdiam sejenak, membayangkan sosoknya yang mendominasi sudut kelas. "Orangnya atletis, ada bekas luka di pipi kirinya dan punya kharisma yang... aneh. Saat dia menatap, lutut rasanya lemas karena takut. Tidak ada satu pun yang berani mendekatinya."

(VICTOR)
"Jadi," sahut Mama yang kini duduk di sampingku, menunggu denting microwave tanda dagingnya matang, "dia yang mengacaukan semuanya?"
"Sejujurnya, dia tidak melakukan apa-apa. Dia hanya diam. Menunggu sesuatu? Atau memang tidak peduli? Entahlah. Tapi niatnya yang tidak terbaca itu justru yang menakutkan. Kami hanya... pasrah kalau sebagian kelas tetap kacau dikuasai kelompok itu."
Pikiranku melayang kembali ke ruang kelas tadi siang. Aku ingat betapa kesalnya aku saat itu.
"Siapa seksi keamanan? Kenapa dia diam saja?" tuntutku pada Ketua Kelas.
Ketua Kelas menunjuk dengan dagunya ke arah seorang cowok yang sedang tidur terlungkup di pojok kelas, seolah tidak peduli dengan kekacauan disekitarnya.
"Tidak ada yang mau jabatan itu. Jadi kami undi, dan dia yang dapat. Namanya NICOLAS," bisik Ketua Kelas, "Kiran, yang kudengar, dia itu atlet sekaligus manajer tim waktu SMP."
Mendengar itu, sesak di dadaku sedikit berkurang. Seorang manajer tim? Berarti dia paham dinamika kelompok dan menjinakkan kepala-kepala batu.
Tanpa pikir panjang, aku menghampiri mejanya dan mengguncang bahunya. Nihil. Dia tidak bergerak sedikit pun. Entah nyawanya sudah tercabut atau bagaimana. Karena kesal, akhirnya...
BRAK!