60 Days Without You

KiraNico
Chapter #3

Dipermalukan

RUMAH – KAMIS, SORE HARI, 15.45

(Keesokan setelah pemberian cokelat)

Brak!

Aku masuk ke rumah dengan langkah kasar, lalu melempar ransel ke sofa sekuat tenaga.

"ARGH! MENYEBALKAN!" teriakku frustrasi.

Mama yang sedang menikmati teh di ruang keluarga menoleh kaget. Papa yang tengah membaca laporan kerja juga ikut mendongak.

Tek. Mama meletakkan cangkirnya dengan denting pelan.

"Ya ampun, Kirana. Ada apa?" Matanya menyipit, menelusuri wajahku yang mungkin sudah merah padam.

"E-eh..." Aku mendadak kikuk, baru menyadari keberadaan mereka. "Co-cowok itu, Mah... Nico. Dia benar-benar menyebalkan." Aku menjatuhkan diri di sebelah Mama, mengambil bantal sofa ke pangkuanku dan meremasnya.

"Drama baru?" Mama memiringkan kepala. "Bukannya kemarin kamu berbunga-bunga waktu cerita soal dia?"

"Huft. Mama tidak akan percaya. Tadi aku... aku..." Kalimatku menggantung. Lidahku nyaris saja menelanjangi kebodohanku pada mereka. "Tidak jadi, Mah. Lupakan saja."

Mama bergeser mendekat, tangannya mulai mengusap bahuku dengan gerakan yang dibuat-buat. "Tadi apa? Ayo cerita. Papa juga mau dengar, kan, Pah?"

"Tentu. Sepertinya lebih menarik daripada laporan kantor Papa." Papa menurunkan kacamatanya ke ujung hidung, lalu menutup laporan di pangkuannya.

Aku mendekatkan wajah ke telinga Mama, berbisik di balik telapak tangan. "Tadi aku dekati Nico."

Mama menarik pergelangan tanganku menjauh. "Kamu apa, Kirana? MENDEKATI NICO?"

"Ssh, Mama!" Aku memukul pelan bahu Mama, yang tertawa di balik tangannya dan diikuti Papa yang kini ikut-ikutan tertawa.

Aku menarik napas. "Mah, setelah memberiku cokelat kemarin, seharusnya dia mengajakku ngobrol atau setidaknya menyapa 'hai' gitu, kan? Tapi tadi saat melewati mejaku, dia melenggang begitu saja. Ya sudah, aku pikir... kenapa tidak aku yang inisiatif duluan."

"Aku ingat sekali kejadian di kelas tadi. Aku terus mencuri pandang ke arah Nico yang sedang asyik mengobrol dengan Victor. Sambil sesekali menggerutu dalam hati, kenapa sih dia tidak menyapaku?"

"Tak sengaja mataku meneliti penampilannya dari jauh. Seragam keluar, gaya rambut berantakan—tapi bukan urakan ala bad boy di kelompok Chaos. Dia lebih seperti model di sampul majalah. Dan... ahem. Sebagai petugas ketertiban, bukannya sudah tugasku menegur icon anti-ketertiban sepertinya?"

"Aku punya alasan sah untuk menyapa tanpa terlihat agresif, kan? Kamu cerdas sekali, Kirana. Ehehe."

Saat jam pelajaran kosong, dan Victor menghilang entah ke mana, aku berjalan mendekat, memasang senyum paling manis yang kupunya. "Hai, Nico. Kamu ingat aku, kan? Kirana, yang kemarin kamu kasih camilan. Tapi maaf, hari ini aku datang sebagai petugas ketertiban."

Lihat selengkapnya