60 Days Without You

KiraNico
Chapter #7

Serigala yang Tak Menggonggong


(KIRANA MELIORA)

RUANG MAKAN, 19:12.

(Sebulan setelah Kirana dan Nico bernyanyi di taman).

Suasana makan malam begitu hening. Hanya terdengar denting sendok yang sesekali beradu dengan piring porselen.

Aku memainkan butiran nasi dengan ujung sendok, menggulungnya menjadi bola-bola kecil tanpa niat untuk menelannya.

"Kirana, mau tambah dagingnya? Ini bagian paling empuk, kesukaanmu," suara Mama membuyarkan lamunanku.

"Terima kasih, Mah. Tapi tidak usah."

Papa menurunkan sendok, menatapku lekat. "Kamu sakit?"

"Tidak, Pah. Hanya... sedang berpikir."

"Berpikir tentang ujian?" tanya Papa lagi.

Gerry menyela dengan mulut penuh nasi "Bukan ujian, Pah. tapi berpikir tentang Nico. Nyam, nyam, nyam,"

"Huh! Apa sih?!" Aku membuang muka dengan jutek.

"Ada apa, Sayang?" ucap Mama sambil menopang dagu yang melihatku gelisah.

Aku mendorong piring itu menjauh, nafsu makanku benar-benar menguap.

"Mah, Pah. Tahu tidak? Sudah sebulan Nico dan Victor tidak kelihatan di sekolah, loh."

Aku kembali menatap nasi di piringku yang mulai mendingin. "Jadi kan ada kompetisi POPPROV (Pekan Olahraga Pelajar Provinsi), pesertanya diseleksi dari seluruh SMA di Bandung. Dan dari SMA Aksara, hanya dua orang yang lolos seleksi. Nico untuk cabang voli dan Victor untuk cabang basket.

Untuk persiapan kompetisi, mereka dikarantina di TC (Training Center) selama lima bulan. Dan sekarang... baru bulan pertama."

"Dan kamu rindu Nico?" Mama tersenyum tipis, menggoda.

Bahuku merosot. "Aku tidak berani menyebutnya rindu, Ma. Lagipula... aku ini siapa? Tapi rasanya aneh saja melihat bangku mereka kosong."

Aku cepat menambahkan, "Tapi mereka masih masuk sekolah Senin dan Selasa, sisanya baru ke TC. Setidaknya aku masih bisa bertemu dua hari."

"Bagaimana dengan ujian tengah semester? Mereka tetap ikut di sekolah?" Papa memastikan.

"Tadi mereka ada. Pulang untuk ujian." Aku menjeda. "Hanya saja... tadi Nico dimarahi pengawas."

Gerry menyipitkan mata. "Dimarahi?"

[Ruang Ujian - Pagi Hari]

Ruang ujian sunyi senyap. Hanya ada dengungan AC dan gesekan pena dari siswa-siswa. Tiba-tiba fokusku mendadak buyar oleh desisan seorang cowok dari barisan belakang.

"Psst! Psst! Nico!"

Di tengah keheningan, bisikan itu menggema jelas. Semua mata serempak menoleh ke sumber suara.

Cowok itu bicara lagi dengan sengaja lebih dikeraskan: "Nico, enak ya jadi kamu. Datang cuma pas ujian, padahal hari-hari biasa hobi membolos. Kekeke..." Nico hanya menoleh sekilas, terlihat sama sekali tidak peduli.

Kreak.

Kursi kayu di depan kelas berderit tajam. Guru pengawas kami—wanita paruh baya dengan bedak tebal layaknya brand ambassador kosmetik amatir—berdiri memasang muka galak.

Tak! Ia melempar tutup spidol, mendarat tepat di meja Nico. "Ke depan kamu!"

Gerombolan si kompor di belakang menyambut dengan cekikikan tertahan. Nico meletakkan penanya perlahan, lalu melangkah tenang ke depan kelas. Seluruh pasang mata mengunci ke arahnya.

Lihat selengkapnya