[Rumah - Senin, 14:11]
Kreak. Pintu terbuka.
"Aku pulaaang," gumamku lirih.
Aku menjatuhkan diri ke sofa, menatap langit-langit dengan pandangan kosong.
"Kenapa, Kirana? Pulang sekolah mukanya ditekuk begitu?" Suara Mama menyapa lembut.
"Ini hari Senin, Mah," gumamku lesu. "Harusnya Nico pulang. Harusnya dia kembali duduk di sebelahku, lalu kami mendebatkan hal-hal tidak penting seperti biasa. Harusnya. Tapi dia tidak ada." Kalimat itu terasa pahit di lidah.
"Padahal aku sudah bersemangat sejak pagi. Mencuri pandang ke pintu kelas setiap kali ada langkah kaki mendekat. Membayangkan wajah menyebalkannya tersenyum menggoda melihat antusiasmeku. Aku bahkan sudah menyiapkan balasan sinis untuk menjawabnya. Namun... hingga bel masuk berbunyi, kursinya tetap kosong."
"Semuanya baru menjadi jelas saat jam istirahat." Aku terdiam, membiarkan ingatan siang tadi kembali berputar.
Saat itu, Guru Olahraga mampir ke kelas kami. Ia menyandarkan bahu di ambang pintu dengan raut ceria yang sangat kontras dengan kecemasanku yang mulai memuncak.
"Dua teman kalian tidak masuk sekolah, ya?" Ia mengedipkan mata, seolah sedang membagikan rahasia besar. "Bapak baru dapat informasi dari pihak POPPROV. Mereka mengadakan tes yang disebut "Ujian Kapten," tes untuk menentukan siapa yang layak memimpin tim di kompetisi nanti."
Ia tersenyum bangga, "Nico masuk kandidat voli, dan Victor masuk kandidat basket. Mereka akan bersaing dengan kandidat lainnya di cabang masing-masing untuk memperebutkan posisi itu."
Lalu, ia memamerkan secarik kertas di tangannya dan membacanya, "Dan ini? ini adalah surat izin yang dikirim untuk sekolah. Disini tertulis Nico dan Victor akan mengikuti tes selama 60 hari ke depan. Mereka dikarantina total. Tak ada hari Senin atau Selasa untuk pulang."
Ia melipat kertas itu dengan senyuman. "Dukung dan doakan kedua teman kalian supaya berhasil. Ini awal yang baik untuk karier mereka, dan juga reputasi SMA Aksara."
Aku menyandarkan kepala di bahu Mama, mencari perlindungan dari rasa sepi yang tiba-tiba datang begitu cepat.
"Aku ingin bersorak untuk pencapaiannya, Mah, sungguh. Ini kabar yang membahagiakan. Tapi enam puluh hari? Tiba-tiba duniaku kehilangan warna dalam sekejap."
*
Kreak.
Pintu depan terbuka dengan derit pelan. Gerry pulang, melepas sepatu dengan gerakan tenang.
"Ujian Kapten? Tidak terasa mereka sudah sampai di fase itu," gumamnya pelan, seolah bicara pada diri sendiri.
Aku memutar tubuh seketika, menuntut penjelasan. "Fase itu? Apa maksudmu?"
Gerry meletakkan tasnya di sudut ruangan sebelum mengempaskan diri di sofa, tepat di sebelahku. Aura santainya perlahan menguap, digantikan tatapan serius.
"Kirana, aku beri tahu sedikit gambaran tentang Ujian Kapten ini. Kuharap kepastian ini bisa meredakan kecemasanmu."
Gerry menjeda, menarik napas dalam-dalam. "Pelatihan lima bulan itu, mereka akan melewati tiga tahapan. Dua bulan pertama adalah penajaman fondasi skill. Dua bulan berikutnya-yang akan mereka jalani sekarang-adalah penajaman kepemimpinan dan taktik. Satu bulan terakhir adalah pemantapan sistem dan uji coba tim."
Ia menoleh ke arahku, suaranya merendah hingga nyaris seperti bisikan. "Tahapan kedua ini... adalah pelatihan paling brutal."
"Bru-brutal?" Lidahku kelu.
"Iya, paling brutal. Aku pernah membuat dokumentasi catatan saat masih aktif di sana. Ini seperti seleksi alam, Kirana. Kandidat dilempar ke situasi di bawah tekanan ekstrem hanya untuk melihat siapa yang sanggup bertahan."
Gerry terdiam, matanya seolah menerawang kembali ke masa lalu. "Aturannya sederhana. Tim akan displit menjadi dua: Tim A dan Tim B. Tim A berisi kumpulan pemain elite dengan skill mumpuni. Sementara Tim B... mereka adalah pemain bangku cadangan yang underperform."
Gerry menatapku tajam, memastikan aku menyimak setiap katanya.
"Kandidat kapten seperti Nico akan memimpin Tim B untuk melawan Tim A. Secara sederhana, dia akan 'dikeroyok' oleh pemain-pemain elite. Di bawah tekanan ekstrem itu, kandidat harus membuktikan apakah dia mampu mengangkat tim yang lemah menjadi luar biasa di bawah kepemimpinannya."
Ia mengambil gelas dan menuangkan es jeruk di meja kecil depan kami.
"Ini bukan lagi soal teknik atau stamina. Ini soal adaptabilitas, kreativitas, dan ketahanan mental yang tidak masuk akal. Jika berhasil, kemampuannya akan melesat-setara dengan 3-5 pemain elite sekaligus dalam hal skill, mentalitas, dan kepemimpinan."
Gerry menjeda, memberikan penekanan pada kalimat berikutnya. "Tapi jika gagal... tidak sedikit yang pulang membawa trauma berkepanjangan."
Glek. Glek. Glek. Suara Gerry meminum es jeruknya mengisi kesunyian ruangan.