7 Hari Bersama Malaikat Maut

Ulat Bulu
Chapter #3

Hari Pertemuan

Untukmu yang sedang merenung.

Kau pernah berdiri terlalu lama di sudut sebuah ruangan yang tak ingin kau masuki?

Aku berdiri di sana. Di pojok gedung yang terlalu terang untuk duka yang terlalu gelap. Orang-orang tersenyum, tertawa, menangis haru. Bunga-bunga putih berguguran seperti salju yang lupa tanggal musimnya. Semua terlihat sempurna.

Kau tahu, ada yang disebut “kebahagiaan orang lain”. Dan hari ini adalah perayaan dari jenis kebahagiaan yang tidak kucicipi, tapi harus kutonton.

Aku berdiri diam. Setelan jas ini terlalu rapi, padahal jiwaku lecek. Orang-orang lalu-lalang membawa gelas, harapan, dan cerita-cerita kecil tapi tidak ada satu pun yang datang padaku. Dan aku tidak berharap mereka datang. Di sudut seberang, sebuah bingkai foto terpampang besar, bertuliskan ‘ADRIAN & SHINTA’.

Lihat ke depan. Itu dia. Adrian, sang penganting pria, wajahnya bercahaya, tubuhnya tegap dan mata itu… mata yang dulu sering menatapku sambil bercanda soal hidup. Orang yang satu-satunya bisa kusebut keluarga secara layak meski tak berbagi darah. Di sampingnya, Shinta, sang pengantin wanita, dengan matanya penuh cinta, atau setidaknya, sesuatu yang menyerupai cinta.

Dia begitu cantik. Kau bisa menulis puisi hanya dari kerudungnya yang dilipat anggun, atau dari cara tangannya menggenggam buket. Dia adalah wanita yang kukagumi. Mereka tampak cocok. Seperti lukisan tak perlu bingkai. Seperti doa yang tak perlu dideklamasi.

Dan aku?

Aku bukan bagian dari cerita itu. Aku hanya satu sudut dari ruangan besar ini. Bayangan kecil di pojok pesta. Lucu, ya? Bagaimana hidup menempatkanmu dalam cerita orang lain, tapi melarangmu bicara. Kau mungkin bertanya, “Lalu mengapa kau di sana?” Karena aku harus.

Namun, aku di sini bukan untuk mengganggu. Bukan untuk berharap dia berbalik dan memilihku. Hanya untuk menyadari bahwa, beberapa cinta memang tidak ditakdirkan untuk menjadi cerita. Beberapa cinta hanya diciptakan agar kita punya alasan untuk hancur, dan kemudian membangun kembali sesuatu yang lebih jujur dalam diri.

Akhirnya kulangkahkan kaki keluar, sebelum air mata ini jatuh dan tubuh ini meronta bersujud padanya.

Matahari sore lembut bersinar, trotoar ramai, dan jalanan padat merayap. Aku terus melangkah mengikuti ke mana kaki ini bergerak. Rasanya aku ingin menyerah saja. Langkahku menjadi terhuyun, saat aku menyadari, ternyata aku tidak cukup baik dalam hal apa pun.

Aku menghentikan langkah dan menatap gedung besar dengan gaya Eropa klasik di seberang. Aku membaca huruf raksasa yang tertempel di sana—‘AULA ORGAN JAKARTA’. Sebuah gedung untuk pertunjukan musik klasik yang selayaknya rumahku dulu. Gedung di mana aku dipuja dan membuatku hidup.

Aku menghela napas besar.

Aku sempat berpikir, jatuh dari ketinggian tertentu adalah pilihan terbaik. Lantai tiga mungkin terlalu rendah. Mungkin lantai lima cukup. Jika kulemparkan selimut dahulu ke bawah, lalu aku melompat, orang-orang bisa bilang kalau aku tergelincir saat menjemurnya.

​Lucu, ya? Bahkan saat ingin mati pun, aku masih sibuk mengarang kebohongan agar keluargaku tidak perlu menanggung malu punya anak seorang pecundang.

​Kata Camus, dekorasi panggung kehidupan kita bisa runtuh kapan saja, dan saat itulah manusia mulai mempertanyakan kelayakan hidupnya. Panggungku sudah lama roboh sejak jemari ini membisu. Rencana selimut itu hanya caraku yang menyedihkan untuk menipu semesta yang dingin ini. Aku ingin menyerah, tapi aku terlanjur terlalu lelah untuk jujur.

​Hmm… apa kau juga takut akan kematian, tapi juga terlalu muak untuk terus bernapas?

Jalan di depanku tiba-tiba lengang. Seolah memberiku jalan untuk menyeberang. Dan aku benar-benar menyeberang. Kumasuki gedung itu begitu saja, dan teater itu masih sama.

Lihat selengkapnya