7 Hari Bersama Malaikat Maut

Ulat Bulu
Chapter #5

Cermin

“Aku adalah kamu dan kamu adalah aku.”

***

 

Dering ponsel membangunkanku. Kuraba lemari pendek sebelah kasur dan meraih ponsel itu. Aku berdeham sambil mengucek mataku. Kulirik layarnya.

Ayah.

Kutarik napas pendek, lalu mengangkat telepon itu.

“Halo.”

“Noel.” Suaranya datar, seperti biasa. Bukan dingin, tapi juga tidak hangat. Semacam suhu ruangan yang tidak pernah berubah. “Sudah makan?”

“Sudah.”

Belum.

“Bagus.” Hening sebentar. Terdengar suara kertas digeser di ujung sana, atau mungkin koran. Ayah selalu membaca koran di pagi hari, satu kebiasaan yang tidak pernah berubah sejak aku kecil. “Kamu baik-baik saja?”

“Baik.”

Satu suku kata. Itu yang paling jujur bisa kuberikan pagi ini.

Ayah berdehem. “Teo…” ujarnya pelan, seolah sedang menyentuh topik sensitif. “Dia sudah menjadi ayah sekarang.” Ada jeda kecil. “Kamu sudah menjenguk bayinya?”

Aku terdiam.

“Belum sempat.”

“Pergi lah.” Bukan perintah, tapi juga bukan saran. Entah apa namanya. Cara ayah berbicara selalu ada di antara dua kategori. “Setidaknya kau punya alasan untuk keluar rumah.”

“Mmm,” gumamku tak menjawab iya atau tidak.

Hening lagi. Kali ini lebih panjang. Aku hampir menyangka sambungan terputus, tapi kemudian terdengar suara ayah mengetuk-ngetuk sesuatu, meja mungkin. Kebiasaannya ketika ia memikirkan sesuatu yang tidak tahu cara mengatakannya.

“Noel, Ayah mau beri hadiah untuk Teo.”

Aku menunggu.

“Tapi Ayah tidak tahu apa yang cocok.” Suaranya turun setengah nada, hampir seperti mengakui sesuatu.

Aku berpikir sebentar. Bukan karena pertanyaannya susah, tapi karena aku tidak menyangka ayah akan bertanya. Biasanya ia memutuskan segalanya sendiri, atau tidak sama sekali.

Lihat selengkapnya