7 Hari Bersama Malaikat Maut

Ulat Bulu
Chapter #6

Cahaya

“Penyangkalan adalah bentuk doa yang paling sunyi.”

***

 

Pagi ini, bayanganku masih muncul di cermin, tapi aku tak merasa seperti berdiri di depannya. Aku merasa seperti dilihat balik oleh seseorang yang dulu kukenal.

Cermin tak pernah retak. Hanya aku yang pecah dan jatuh di balik pantulannya.

Kuraih handuk di pintu lemari dan kututupi orang yang ada di dalamnya.

Kubuka pintu kamar. Sebuah ruang yang lebih besar kumasuki. Di depan ada dapur dengan wastafel yang kembali penuh dengan bungkus mi instan dan makanan sisa, baunya cukup menyengat. Tapi siapa peduli? Aroma kegagalan dalam diriku saja lebih menyengat.

Ada rak tinggi berisi buku-buku dan piala-piala yang pernah kuraih, memisahkan antara dapur dan ruang tamu. Di pojok rak, ada tumpukan bingkai piagam yang kulepas dari dinding. Menumpuk dan terbengkalai. Aku berjalan ke sofa panjang yang penuh tumpukan baju kotor. Teo akan mengomel lagi bila ia berkunjung.

Kubuka gorden berat yang menutupi pintu kaca balkon. Di luar, pot-pot kecil berisi kaktus dan sukulen berjejer —sebagian telah mati dan mengering, sebagian masih bertahan dalam kehausan. Saat kubuka pintu itu, udara langsung menerpa wajahku. Apartemenku berada di lantai tertinggi, lantai lima, tapi udaranya tetap terasa seperti aroma hidupku —berat dan tidak kemana-mana.

Jakarta sudah tak seindah dulu.

Kupandang kosong gedung-gedung di depan yang bermandi cahaya pagi. Lalu kupejamkan mata, seolah itu bisa membungkam semuanya. Tapi kenangan saat semua orang bersorak menggema di kepalaku. Merdu, seperti nada-nada panjang di awal adagio. Nada yang dulu membuatku merasa ada.

Sekarang, semuanya hanya terasa bising.

Pianis. Kata itu menusuk seperti jarum kecil di antara daging yang sudah lebam.

Semua berawal dari dua tahun lalu. Saat aku berada di puncak. Kupikir hanyalah kesalahan kecil yang bisa dikoreksi. Tapi semakin hari nada-nadaku semakin meleset. Partitur yang kubaca tak bisa tanganku terjemahkan. Jemariku terus berlari ke tuts lain, merusak lagu. Anehnya, aku tak menyadarinya —sampai orang lain yang memberitahuku.

Distonia fokal. Gangguan neurologis. Kontraksi otot yang tidak terkendali. Dalam kasusku, terjadi di jemari.

Sejak saat itu aku pensiun. Aku padam.

Kubuka mata dan berbalik —dan nyaris terlonjak. Dia sudah ada di sana. Pria dengan dasi merah dan penjepit berbentuk sayap itu berdiri di depanku, menatap tajam dengan tangan bersilang. Sinar mentari pagi yang menembus jendela tidak memberinya bayangan.

“Ingat, kau hanya punya waktu tujuh hari,” ucapnya dingin.

Aku menatapnya lama. Berusaha mencerna. Dia terlalu imajinatif untuk otakku, tapi semua terasa terlalu nyata.

Keheningan merayap di antara kami, berat dan canggung seperti tamu yang datang terlalu pagi. Aku mencoba mengalihkan pandangan, tetapi mataku terus kembali padanya. Ada sesuatu yang mengganggu dari sosok ini. Bukan jas hitamnya. Bukan dasi merahnya. Bukan juga fakta bahwa dia muncul begitu saja di apartemenku. Melainkan cara dia menatapku. Seolah ia sudah mengenalku jauh sebelum aku mengenal diriku sendiri.

“Apa kau melihat semuanya?” tanyaku akhirnya.

Alisnya sedikit terangkat. “Apanya?”

Aku menelan ludah. Entah kenapa pertanyaan itu terasa lebih memalukan daripada seharusnya.

“Kalau kau memang datang untuk mengambil orang-orang ….” Aku mengusap wajahku pelan. “Apa kau melihat semuanya sebelum mereka mati?”

Dia tidak menjawab.

Aku melanjutkan, lebih pelan. “Kegagalan mereka. Hal-hal yang mereka sesali. Semua keputusan bodoh yang mereka buat saat hidup.”

Tatapannya tidak berubah.

“Mungkin.”

Satu kata. Pendek. Datar. Tapi cukup untuk membuat dadaku terasa lebih berat.

Aku tertawa kecil tanpa humor. “Kalau begitu kau pasti tahu aku bukan orang yang layak diselamatkan.”

Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah. Bukan terkejut. Bukan marah. Lebih seperti seseorang yang baru mendengar kesalahan yang terlalu sering diulang.

“Diselamatkan dari apa?”

Aku terdiam.

Aneh. Aku punya seribu jawaban untuk pertanyaan itu semalam. Tapi sekarang tidak satu pun terdengar masuk akal.

Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, lalu mengembuskan napas yang terdengar hampir seperti rasa lelah.

“Kenapa kau diam saja?” tanyanya akhirnya. “Kenapa kau tidak memohon? Mengapa kau berhenti berdoa?”

Aku terhenyak.

“Aku harus bersikap bagaimana?” ucapku pelan. “Berharap berumur lebih panjang untuk menjalani hidup yang sudah tidak punya bentuk? Semua yang kumiliki telah hilang.”

Dia hanya menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. “Aku berdiri di hadapanmu sekarang.”

Aku melangkah masuk melewatinya. Kutenggak habis botol air mineral yang tinggal separuh di meja. Lalu menghempaskan diri di sofa.

Cahaya pagi menembus jendela seperti sesuatu yang tidak meminta izin. Ia masuk begitu saja, melapisi lantai keramik. Di dalam cahaya itu, butiran debu melayang-layang —kecil, ringan, tidak punya arah.

“Aku benci cahaya. Cahaya itu aneh,” gumamku pelan sambil menatap debu-debu yang menari di udara. “Semua orang bicara tentang cahaya seolah itu sesuatu yang baik.”

Pria itu berdiri diam di dekat jendela. “Padahal?”

“Padahal tanpa cahaya, manusia mungkin lebih tenang. Tidak ada sorotan. Tidak ada perbandingan. Tidak ada bayangan.”

“Kau sedang bicara tentang cahaya atau ketenaran?”

Aku mendecih. “Mungkin keduanya.”

Hening sejenak. Lalu entah kenapa aku bertanya, “Kau tahu dari mana cahaya berasal?”

Dia tidak menoleh. “Aku tahu jawaban yang diajarkan manusia.”

“Fisika?” Aku tertawa kecut. “Foton. Gelombang elektromagnetik. Energi yang berubah bentuk.”

“Tidak. Itu jawaban yang baik.”

“Tapi?” tuntutku tahu persis ada yang aneh.

Akhirnya ia menoleh.

“Tapi bukan jawaban itu yang kau cari.”

Aku menghela napas. Benar. Aku tidak sedang penasaran pada buku pelajaran.

“Aku selalu merasa aneh,” kataku. “Kita bisa menjelaskan banyak hal. Mengapa apel jatuh. Mengapa bintang bersinar. Mengapa tubuh menua. Tapi setiap jawaban selalu melahirkan pertanyaan baru.”

Dia diam.

“Fisika bisa menjelaskan dari mana cahaya berasal.” Aku menunjuk sinar matahari yang masuk melalui jendela. “Tapi mengapa foton bisa ada? Mengapa alam semesta memiliki hukum yang memungkinkan cahaya?” Aku tertawa kecil. Dan setelah itu selalu ada pertanyaan lain lagi.”

Lihat selengkapnya