7 Hari Bersama Malaikat Maut

Ulat Bulu
Chapter #7

Semesta Kucing

“Keraguan membawamu pada pertanyaan mendalam.”

***

 

Aku memaksakan diri keluar rumah.

Bukan karena ingin. Lebih karena empat dinding kamar itu mulai terasa seperti tengkorak yang menyusut, dan aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan: terjebak di dalamnya, atau menyadari bahwa di luar pun rasanya sama saja.

Jalanan depan ramai. Tapi terasa seperti video tanpa suara. Orang-orang lewat begitu saja, seorang perempuan menenteng kresek, dua pria berbicara sambil tertawa, seorang kurir berhenti sebentar lalu pergi. Tak satu pun dari mereka yang tahu bahwa Noel Arrivan, sang jemari emas, tinggal di apartemen lima lantai ini. Tak satu pun yang peduli. Dunia terus berputar, seperti selalu, seperti sebelum aku ada, seperti nanti setelah aku tidak ada.

Matahari meninggi. Awan-awan menggumpal seperti domba-domba terbang.

Di salah satu garis parkir dekat taman kecil, aku melihat Arnav. Dia tetanggaku, sebelas tahun, rambutnya selalu sedikit berantakan. Dia duduk di beton pembatas sambil memegang handuk kecil dan wadah pakan. Di dalam sangkar kawat di depannya, Mao —kucing gendut berbulu oren yang minggu lalu menggulingkan potku— meringkuk basah kuyup. Napasnya malas. Bulunya menggumpal.

Aku hampir membelok arah.

Tapi kemudian mataku menangkap sesuatu kecil berkilau di aspal. Liontin perak. Di tengahnya terukir nama: MAO. Dalam bahasa Mandarin artinya kucing.

Aku berhenti.

Dalam kepala, seperti suara yang datang dari tempat yang tidak jelas, kalimat itu muncul lagi… ucapan malaikat maut tadi pagi, tentang tujuh hari. Tentang akhir. Aku tidak percaya padanya. Tapi anehnya, kalimat itu tidak pergi juga.

Mungkin setelah mati, aku akan dikenang oleh seseorang.

Pikiran itu muncul bukan dengan kesedihan. Lebih seperti pertanyaan kosong. Dan entah kenapa, itu yang membuatku mengambil liontin itu dan berbalik menuju Arnav.

Dia langsung tersenyum lebar, senyum yang terlalu bersemangat untuk pagi hari.

“Kak Noel!”

“Ini milikmu?” Aku mengulurkan liontin tanpa basa-basi.

Arnav terperangah, lalu mengecek leher Mao. “Ah! Pasti jatuh waktu dia lepas.” Dia mengambilnya. “Terima kasih, Kak!”

“Kamu nggak sekolah?”

“Liburan semester, Kak.” Dia melirikku seperti aku baru saja mengatakan sesuatu yang sangat bodoh.

Aku melirik Mao. Kucing itu membuka sebelah mata, menatapku sebentar, lalu memejamkannya lagi. Acuh. Seperti tahu bahwa aku bukan ancaman, bukan juga sesuatu yang menarik.

Entah bagaimana, aku malah duduk di sebelah Arnav.

Sinar pagi menimpa bulu oren Mao yang basah. Di antara gumpalan-gumpalan rambutnya yang menyatu, ada sesuatu yang bergerak, kutu kecil, hampir tak terlihat, yang berjalan dengan kaki-kaki halusnya seolah tidak terjadi apa-apa.

“Bagaimana rasanya,” gumamku tanpa benar-benar berbicara kepada siapa pun, “hidup sebagai kutu yang tiba-tiba kena badai sabun?”

Arnav menoleh. “Maksud Kakak?”

Aku menatap kutu itu. Masih berjalan. Tidak tahu.

“Bayangkan,” kataku pelan, “kutu itu punya peradaban. Punya sejarah. Mungkin punya filsuf yang duduk di pangkal bulu dan bertanya-tanya tentang ada apa di ujung bulu.” Aku berhenti sebentar. “Dan seluruh peradaban itu akan musnah hanya karena Arnav membeli sampo diskon.”

Hening sejenak.

Arnav menatap Mao dengan ekspresi yang belum pernah kulihat dari wajah sebelas tahun. “Jadi … mereka nggak tahu kalau dunia mereka bisa berakhir gara-gara sampo?”

“Tidak. Mereka bahkan tidak tahu bahwa dunia mereka bernama Mao.” Aku menyandarkan punggung. “Mereka pikir dunia itu milik mereka. Padahal mereka cuma numpang.”

Arnav mendekatkan wajahnya ke kandang, menatap Mao serius. “Berarti Mao adalah tuhan bagi kutu-kutu itu?”

“Atau bukan tuhan. Hanya … fakta. Yang tidak mereka ketahui.”

“Dan Mao tidak tahu kalau dia adalah dunia mereka?”

Aku tidak menjawab. Karena jawabannya terlalu sederhana dan terlalu mengganggu sekaligus: ya, tidak tahu. Dan tidak peduli.

Arnav mendongak ke langit. Angin bergerak lambat. “Kak,” katanya ragu, “kalau kita kayak kutu … berarti bumi ini Mao kita?”

“Mungkin. Atau kita adalah Mao bagi semesta yang lebih kecil. Dan kita adalah kutu bagi semesta yang lebih besar.” Aku mengikuti arah pandangannya ke langit. “Dan semesta yang lebih besar itu mungkin sedang menjemur kita hari ini.”

“Apakah nanti ada badai sabun yang memusnahkan kita?”

Lihat selengkapnya