“Kekacauan adalah awal ketertiban.”
***
Aku menyalakan saklar, tapi tak terjadi apa-apa. Kumasukkan colokan lampu cadangan ke stopkontak. Tetap gelap. Aku tahu penyebabnya. Kabel tua, panel yang karatan, mungkin trafo yang terlalu lelah bekerja untuk gedung seburuk ini. Tapi aku tak mencoba lebih jauh.
Malam ini, aku membiarkan apartemenku tetap gelap.
Aku duduk di lantai. Tak menyalakan lilin. Tak membuka ponsel. Kegelapan menyelubungi segalanya —rak, meja, buku-buku, pantulan jendela— semua menghilang. Seperti diriku yang perlahan ditelan sesuatu yang tidak punya nama.
Apa yang sebenarnya dipadamkan oleh lampu?
Aku memeluk lutut, merasakan dingin ubin menempel di tumit. Kegelapan ini seperti selimut berat yang tak menghangatkan, tapi juga tidak menghakimi. Cahaya selalu memintaku menjadi sesuatu yang kuat, utuh, sempurna. Tapi kegelapan tidak menuntut. Ia hanya ada. Diam. Menerima apa pun yang datang, termasuk aku yang sudah tidak utuh.
Apakah ini hukuman? Atau tempat di mana aku akhirnya tidak harus terlihat?
Dalam gelap, aku tidak lagi pianis gagal. Tidak lagi ikon yang terlupakan. Tidak lagi adik yang membuat kakaknya sedih. Aku hanya sesuatu yang diam di antara benda-benda yang juga diam. Dan entah kenapa, malam ini aku tidak membenci itu.
Pikiranku mengembara ke pertanyaan bodoh yang hanya muncul ketika seseorang sudah terlalu lama sendirian: siapa yang lebih dulu ada? Gelap, atau terang?
Mungkin kegelapan. Karena cahaya selalu butuh perantara —bola lampu, api, bintang— sementara gelap tidak butuh apa-apa untuk hadir. Ia sudah ada sebelum ada yang melihatnya. Lalu apakah gelap itu berarti kekosongan? Seperti luar angkasa yang hitam dan senyap? Tapi sesuatu tidak bisa tercipta dari ketiadaan. Jadi dari mana cahaya pertama itu berasal, jika sebelumnya tidak ada apa-apa?
Aku tidak tahu. Dan entah mengapa, ketidaktahuan itu terasa lebih jujur dari semua jawaban yang pernah aku percaya.
Heidegger[1] pernah mengatakan sesuatu yang dulu terdengar abstrak di kelasku, tapi malam ini terasa seperti ia sedang berbicara langsung ke lantai tempatku duduk: bahwa manusia dilempar ke dalam keberadaan tanpa pernah meminta. Kita sadar bahwa kita ada, tapi tidak pernah benar-benar tahu mengapa. Dan ketidaktahuan itu, keterlemparan itu, menciptakan semacam gentar yang tidak bisa dijelaskan. Bukan takut pada sesuatu yang spesifik. Hanya … hampa. Asing. Seperti terbangun di ruangan yang tidak pernah kau kenali, dan menyadari kau sudah lama tinggal di sana.
Ia menyebutnya Angst. Kecemasan eksistensial. Kegelapan yang bukan soal mati lampu.
Tapi yang lebih mengganggu adalah ini: Heidegger bilang, justru dalam kegelapan itulah manusia paling otentik. Bukan saat kita ramai, bukan saat kita dikelilingi tepuk tangan atau cahaya panggung. Tapi saat kita duduk di lantai dingin, dalam gelap, tanpa topeng … itulah satu-satunya momen kita benar-benar ada sebagai diri sendiri, bukan sebagai peran yang kita mainkan untuk orang lain.
Aku tidak yakin itu kabar baik atau buruk.
Yang aku tahu, malam ini aku tidak perlu menjadi Noel Arrivan sang jemari emas. Tidak perlu menjadi siapa-siapa. Dan ada bagian kecil dalam dadaku, bagian yang sudah lama terkubur di bawah rasa malu dan diagnosis dan tatapan iba, yang merasakan sesuatu seperti lega.
Kutenggelamkan wajah ke lutut. Ingatan itu datang tanpa diundang: panggung, lampu sorot, jari-jariku bergerak di atas tuts piano seperti mereka tahu jalan pulang. Semua orang terpaku. Aku adalah cahaya yang mengisi seluruh ruangan. Sekarang aku duduk di lantai, dan cahaya itu padam. Bukan pelan-pelan, tapi tiba-tiba, seperti seseorang mencabut steker tanpa peringatan.
Saat dokter mendiagnosisku, aku menjadi sangat marah. Bukan marah yang bermartabat. Marah yang menghancurkan, melempar gelas, menangis di shower sampai airnya dingin, membanting tutup piano hingga Kak Teo mengetuk pintu dengan wajah yang tidak sanggup aku lihat. Aku pikir kemarahan itu akan menjadi bahan bakar. Sesuatu yang bisa mendorongku bertahan.
Tapi kemarahan juga punya batas.
Dan kini aku sudah melewatinya.
Di sinilah aku, berteman dengan kesedihan yang tidak lagi terasa seperti kesedihan. Lebih dalam dari itu. Seperti menyelam terlalu jauh ke dasar laut sampai cahaya di atas permukaan tinggal titik kecil, lalu hilang. Aku tidak lagi bisa membedakan mana aku dan mana kegelapan. Kami sudah menyatu, pelan-pelan, tanpa perjanjian.
Aku adalah gelap.
Dan gelap adalah aku.
Entah berapa lama aku meringkuk. Satu jam? Dua? Hanya ada suara jam dinding berdetak, dan aku tidak peduli. Mata hanya butuh waktu untuk terbiasa dalam kegelapan, itu yang selalu diajarkan orang. Biarkan saja. Nanti juga terbiasa.
Aku bangkit. Bukan karena ingin melakukan sesuatu, hanya karena tubuh sudah terlalu lama diam dan mulai protes dengan cara yang membosankan. Aku melangkah ke dapur dalam gelap, mengikuti hafalan… tujuh langkah dari sofa, belok kiri, hindari sudut meja.
Tanganku menyentuh meja. Ada gelas di sana. Aku mengangkatnya, entah untuk apa, mungkin hanya ingin merasakan bahwa tangan ini masih bisa menggenggam sesuatu. Tapi jari-jariku lemas.
Gelas itu terlepas.
TIARRR!!
Suara pecahnya tajam di tengah keheningan. Aku tidak bereaksi. Hanya menatap pecahan di lantai —sesuatu yang utuh, kini berserakan— seperti sedang melihat potret diri yang terlalu jujur.
“Itu pecah.”
Kalimat itu muncul dalam kepala, tanpa emosi. Seperti laporan cuaca.
Aku berjongkok. Dan saat tanganku menyentuh salah satu serpihan untuk menyingkirkannya, telapak tanganku tergores. Tidak dalam. Tapi cukup untuk membuat darah muncul di garis tipis yang melintang di bawah jempol.