7 Hari Bersama Malaikat Maut

Ulat Bulu
Chapter #10

Samsara

“Hidup hanya numpang di roda yang lupa cara berhenti.”

***

 

Suara ketukan pertama kuabaikan.

Suara ketukan kedua terdengar lebih cepat, seperti orang yang sudah kehilangan kesabaran. Tapi aku tetap bergeming di atas kasur, wajah terutup separuh bantal.

Suara ketukan ketiga ….

Tak ada ketukan, yang terdengar adalah suara kata sandi yang ditekan dan daun pintu yang digeser. Kini aku menghela napas jengah. Aku tahu betul siapa yang masuk. Tak ada yang tahu password rumahku selain aku dan … Teo.

“Noeeelll!!!”

Aku mengerjap setengah sadar. Langit di luar jendela sudah terang untuk disebut pagi.

“Lihat jam dinding yang kuberikan! Ini sudah jam sebelas! Kau masih di kasur, ya?!”

Langkah kaki berat berderak di lantai keramik yang kotor. Bunyi pintu lemari dibuka sembarangan, kantong plastik diremas, dan tak lama kemudian aroma disinfektan mulai menyusup pelan ke udara.

“Dan ini apa? Ini apa, Noel? Kenapa ruang tamumu seperti gudang bekas banjir?!”

Aku tak menjawab. Menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi dagu. Aku makin benci saat dia terus membanggakan jam dinding yang ia berikan beberapa tahun lalu itu. Bentuknya unik, piano, tapi tetap norak.

Kututup telinga, tapi itu percuma. Suara itu tidak mengenal kompromi.

“Dua bungkus mi kosong. Satu piring bekas saus yang sudah mengering. Tisu di lantai. Tuh, gelas masih ada bercak darah! Asraga, kau itu manusia atau zombie?” Dia berhenti sejenak. Tersadar. “Tunggu, darah? Noel, kau terluka?!” suaranya lebih kencang lagi.

Lalu dengan cepat langkahnya masuk ke kamar. Tanpa basa basi ia langsung menyibak selimutku. Kasar.

“Kau tidak apa-apa? Kau terluka? Jawab aku, Bodoh!” cecarnya cepat.

Aku membuka mataku. Kulihat wajah berkarisma —alis tegas, bibir bawah yang penuh, dan mata coklatnya. Oh iya, dia juga memiliki kulit yang sama denganku— tepat di atas wajahku. Aku langsung mendorongnya menjauh.

“Aku baik-baik saja,” balasku malas. Mencoba meraih selimutku lagi. Tapi dia malah menyembunyikannya ke belakang badannya.

“Kau yakin?” tekannya.

Aku mendesah. Lalu kuangkat tanganku yang tertempeli plester. “Hanya luka kecil. Sudah kuurus. Jangan seperti ibu-ibu yang ngomel tiap pagi, Teo.”

Dia berdecak. Bangkit dan membawa selimut. Dia juga meraih handuk dan pakaian yang berserakan di kamar. “Kalau kau nggak mau aku ngomel kayak ibu-ibu, setidaknya hiduplah dengan normal. Bereskan rumah, buka jendela, dan makanlah makanan sungguhan, bukan mi instan.”

Srrtt!

Dia menyibak tirai kamarku dengan kasar. Cahaya langsung menembus kaca dan menyerang wajahku, membuatku mengernyit seketika.

Aku akhirnya membuka lebar mataku. “Aku memasak semalam,” gumamku pelan.

Dengan tangan yang penuh kain, dia menatapku kesal. “Ya. Mi instan. Setidaknya pesanlah makanan, Noel. Tubuhmu butuh serat dan vitamin, bukan micin. Dan panggil aku kakak,” pungkasnya yang kemudian berlalu keluar.

Aku menghela napas besar. Lalu, kuturunkan kakiku ke lantai. Mataku menatap kosong keluar jendela. Siang tumpah dari langit seperti tumpukan kertas kosong. Terang, datar, dan terlalu bersih.

Aku bangkit dan mendekat ke jendela, menatap cahaya yang tak membawa kabar baru. Langit biru, jalanan lengang, bayangan pohon di trotoar. Semuanya tampak seperti salinan dari kemarin. Atau kemarin dari kemarin. Atau yang sebelum-sebelumnya, yang tak pernah sungguh kuingat.

Apa bedanya hari ini dengan kemarin?

Lihat selengkapnya