7 Hari Bersama Malaikat Maut

Ulat Bulu
Chapter #11

Lingkaran Siklus

“Masa lalu dan masa depan itu tak ada, yang ada hanya masa kini.”

***

 

Sayangnya aku tak percaya rainkarnasi. Tapi pengulangan penderitaan itu ada nyatanya. Seperti abadi dalam sebuah pengulangan.

“Teo ….” panggilku samar, “apa kau pernah berpikir waktu adalah garis lurus?”

Dia menoleh, menatap bingung. “Apa?”

“Mungkin waktu adalah lingkaran. Dan kau sedang berjalan di atasnya. Bukan ke depan. Tapi kembali ke tempatmu jatuh.”

“Noel, demi Tuhan,” Teo menghela napas panjang. Ditaruhnya spons cuci piring yang belum sempat diperasnya ke tepi wastafel. “Baru juga aku mau tenang karena kau tidak membahas pohon mangga dicangkok lagi, sekarang kau malah mau mengajari aku matematika garis dan lingkaran.”

​Dia berjalan menghampiri sofa dengan tangan yang dikeringkan pada celana jinnya. Langkahnya santai, tapi mataku menangkap bagaimana dia melirik jariku yang terbalut plester dengan kilat cemas yang buru-buru dia sembunyikan. Dia mengempaskan dirinya di sebelahku, mengambil ponselnya yang sempat menyala.

​“Waktu itu ya jam dinding, Noel. Detik berjalan ke menit, menit ke jam, lalu besok ganti hari. Lurus-lurus saja. Kalau melingkar, aku tidak akan bertambah tua dan anakku tidak akan tumbuh besar,” ucapnya ringan, jempolnya mengusap layar ponsel, menatap foto bayi perempuannya dengan binar yang tak bisa ditutupi.

​Aku tertawa kecil. Kering dan tanpa suara. “Kau beruntung karena kau bisa melihat ke depan, Teo. Kau punya Melody yang sedang menunggu masa depannya. Tapi bagiku, waktu tidak mengalir ke mana-mana.”

​Aku memutar botol mineral di tanganku, melihat sisa air di dalamnya bergoyang mengikuti gravitasi.

“Paham gila itu disebut Presentisme. Orang-orang pintar bilang hanya detik ini yang nyata. Masa lalu sudah musnah karena ia tidak lagi memiliki substansi fisik, dan masa depan belum ada karena belum ada atom yang menyusunnya. Kita hidup di atas mata pisau yang terus bergerak bernama 'hari ini'.”

​“Nah, itu terdengar lebih masuk akal,” potong Teo cepat, merasa mendapat pembelaan. “Yang lalu biarlah berlalu. Fokus saja pada hari ini.”

​“Kau salah tangkap,” sahutku datar, tatapanku terkunci pada debu yang menari di bawah sorot lampu apartemen yang mulai stabil. “Bagi orang yang hidupnya hancur, Presentisme adalah neraka paling jahanam. Kalau masa lalu sudah tidak nyata secara ontologis, berarti kejayaanku dua tahun lalu adalah nol besar. Itu tidak pernah ada. Semua simfoni yang kumainkan, semua peluh di atas tuts itu, hilang menguap tanpa jejak di semesta. Yang ada secara absolut hanyalah detik ini … tanganku yang mati rasa, apartemenku yang lecek, dan kenyataan bahwa aku bukan siapa-siapa lagi. Aku terjebak dalam ruang kedap udara tanpa bisa memeluk masa laluku.”

​Teo terdiam. Senyum santainya agak menyusut, digantikan oleh tatapan berat seorang kakak yang sudah kehabisan cara untuk menghibur. “Lalu kau mau waktu berjalan seperti apa, Noel? Kau mau kembali ke dua tahun lalu?”

​“Aku ingin percaya pada paham satunya lagi,” gumamku pelan, jariku bergerak tanpa sadar di atas lutut, membentuk pola tuts yang tak menghasilkan suara. “Eternalisme. Mereka bilang waktu tidak pernah mengalir. Waktu adalah dimensi keempat yang statis, sebuah blok semesta raksasa yang sudah selesai digambar dari ujung awal Big Bang sampai ujung akhir kiamat kosmos. Seperti gulungan pita film.”

​Aku menoleh menatap Teo, yang kini mengerutkan dahi, berusaha keras mencerna kalimatku.

Lihat selengkapnya