“Tertawalah, karena logika sering kali gagal.”
***
Kotak-kotak lauk memenuhi meja panjang itu.
Aroma masakan mengepul pelan dari mangkuk di depanku, menghangatkan udara apartemen yang sudah terlalu lama dingin. Aku memandanginya tanpa benar-benar berniat memakannya. Nasi di piringku masih utuh. Sambal goreng kentang belum tersentuh. Aku sudah lama kehilangan selera, bukan hanya pada makanan.
“Noel.” Suaranya kali ini lebih tenang, tapi justru terasa lebih tajam. “Berapa lama kau mau seperti ini? Berapa hari lagi kau akan hidup di dalam gua dengan rambut acak-acakan dan kaus bau?”
Aku enggan menjawab. Aku hanya menyendok lauk terdekat dengan malas. Sambal goreng kentang itu hancur di antara gigiku tanpa rasa.
“Kau tahu, Teo? Terkadang aku bisa sangat iri padamu,” lontarku akhirnya.
Teo tidak mendongak. Dia hanya menaikkan sebelah alisnya sambil terus mengunyah paruh kedua dari tahu gorengnya. “Iri? Itu pernyataan baru darimu.”
“Karena kau tidak punya pertanyaan,” lanjutku, meletakkan sendok yang mendadak terasa seberat logam cor. “Kau bangun jam lima pagi, mandi dengan air dingin, lalu pergi bekerja. Kau pulang, mencium kening istrimu, mengganti popok bayimu yang berbau pesing, lalu tidur untuk mengulanginya lagi besok. Kau melakukan itu seolah-olah ada hadiah besar yang menantimu di garis finis.”
“Padahal tidak ada apa-apa di sana, Teo. Di ujung garis finis hidupmu, atau hidupku, atau hidup siapa pun, hanya ada tanah kuburan yang basah dan cacing-cacing yang lapar. Tidak ada piala. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada simfoni penutup yang megah. Semesta ini tidak peduli kau ayah yang baik atau pianis yang gagal. Dia tetap akan menelan kita bulat-bulat.”
Teo meletakkan sendoknya. Pelan sekali, hampir tanpa suara, berbeda dengan denting berisik yang biasa dia buat. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang berderit, menatap piringnya yang sudah bersih setengahnya, lalu mengalihkan pandangannya tepat ke manik mataku.
Ada sebuah jeda panjang yang tidak nyaman, sejenis keheningan yang biasanya mendahului badai.
“Lalu?” pancing Teo. Suaranya kini datar, kehilangan seluruh nada selorohnya.
“Lalu? Kau tidak merasa itu sia-sia?” desakku, suaraku meninggi satu oktav, ada getaran frustrasi yang mendadak bocor dari dadaku. “Kau mendorong batu itu ke atas bukit setiap hari, Teo! Menjadi suami, menjadi ayah, menjadi sahabat yang sok sibuk mengurus apartemenku yang busuk. Dan besok batu itu menggelinding jatuh lagi ke dasar karena bayimu menangis lagi atau mesin cucimu rusak lagi. Kau menghabiskan seluruh energimu untuk rutinitas bodoh yang tidak memiliki arti apa-apa di mata keabadian!”
Teo mendesah, mengambil lauk lainnya.
“Kau pernah dengar Albert Camus[1]?”
Teo langsung menggeleng tanpa beban. “Itu temanmu?”
“Bukan.”
“Klien?”
“Bukan.”
“Rentenir?”
Aku mendesah jengkel. “Filsuf dari Prancis.”
“Oh, jangan lagi.” Responsnya sudah muak. Seolah kata filsuf adalah penyakit berbahaya.
Aku menyendok sedikit kuah yang mulai hangat. “Dia bicara tentang absurditas.”
“Absurditas itu apa?” lontarnya dengan malas.
“Kondisi saat manusia terus mencari makna, tapi dunia tidak pernah menjawab.”
Teo mengunyah perlahan, dahinya berkerut tipis. “Terdengar seperti layanan pelanggan perusahaan internet.”
Aku menatapnya tajam. Dia menatap balik dengan wajah luar biasa polos.
“Aku serius,” kataku dingin.
“Aku juga serius.” Teo tidak berkedip.
Aku menggeleng pelan, meletakkan sendok. “Camus bilang manusia selalu ingin tahu alasan di balik segalanya. Kenapa kita lahir. Kenapa kita menderita. Kenapa orang yang baik bisa terkena musibah. Kenapa seseorang kehilangan apa yang paling ia cintai.”
Tanganku bergerak tanpa sadar menyentuh plester di jariku. Rasa kaku dari dystonia ini mendadak terasa lebih pekat dari biasanya.
“Tapi dunia tidak menjelaskan apa-apa,” lanjutku, suaraku melandai. “Semesta ini diam.”
Teo menelan makanannya dengan bunyi tegukan yang jelas. “Lalu?”
“Lalu itu absurd.”
Dia mengernyit, menghentikan gerakan tangannya di atas piring. “Tunggu.”
“Apa?”
“Jadi filsuf ini terkenal karena menemukan kalau hidup itu tidak adil?”
“Kurang lebih.”
“Itu saja?”
Aku memejamkan mata sebentar, merasakan pening yang mulai merayap di pelipis. “Tentu tidak sesederhana itu, Teo.”
“Terdengar sangat sederhana.”
Aku menghela napas. Kadang aku lupa kenapa aku masih mencoba menjelaskan isi kepalaku kepada manusia yang mengukur kebahagiaan dari berat detergen.
“Misalnya begini,” lanjutku, memajukan tubuh agar dia bisa melihat keseriusanku. “Aku ingin tahu kenapa tanganku harus mengalami distonia. Aku ingin tahu kenapa hidupku berakhir seperti ini. Aku ingin tahu kenapa aku harus kehilangan piano. Aku menuntut alasan dari langit.” Aku menatap ke meja. “Tapi tidak ada jawaban.”
“Noel ….” Kini nadanya berubah cemas. Matanya menatapku dalam.
“Aku ingin tahu alasannya, Teo!” Getaran frustrasi mulai bocor dari suaraku.