“Bukan kemewahan, keluarga yang utuh jauh lebih membahagiakan.”
***
Teo Arrivan, kami berbagi nama yang sama. Arrivan bukanlah nama marga, itu hanyalah nama keluarga. Atau mungkin nama cinta yang diberikan pada kami oleh Ayah dan Ibu. Itu adalah nama gabungan mereka, Arryan dan Ivana … Arrivan. Sayangnya, hubungan mereka tak seindah nama kami, tak seabadi nama kami.
Saat itu aku berusia tujuh tahun, dan Teo sembilan. Aku juga tak terlalu mengingat masa-masa itu. Yang kuingat hanyalah Teo merebut mainanku, lalu malamnya ia mengganggu tidurku dengan dalil minta maaf. Ayah dan Ibu juga jarang bertengkar di hadapan kami. Tidak pernah. Atau aku yang memang tidak mengingatnya.
Yang kutahu saat itu hanyalah kesal saat mainanku direbut. Tapi sepertinya Teo sudah merasakan luka mereka. Karena itulah dia menggangguku hampir di setiap malam. Karena dia ingin terus terjaga. Karena dia tak ingin keluarga ini usai.
Tapi, semua cerita ada ujungnya.
Tiba-tiba saja Ibu dan Teo pergi. Entah mereka mengucapkan selamat tinggal atau tidak padaku, aku juga tak mengingatnya. Namun, aku bisa mengingat malam-malam yang sangat sepi. Dan hari-hari yang tenang dengan semua mainanku.
Mainan-mainan itu utuh. Tak ada yang rusak. Tak ada yang direbut. Tak ada yang dilempar. Tapi aku tak benar-benar memainkannya lagi. Mereka hanya menjadi benda-benda sunyi di lantai, tanpa cerita, tanpa tawa, tanpa musuh.
Lucunya, aku tidak menangis waktu itu. Aku juga tidak merasa sedih. Yang kurasakan hanya sesuatu yang hilang. Tapi karena tak ada yang bicara soal kepergian, aku pun belajar diam. Karena tak ada yang memanggil namaku malam-malam, aku pun belajar tidur cepat. Karena tidak ada lagi yang merebutkan mainanku, aku pun mulai belajar tidak menginginkan apa-apa.
Aku tidak tahu sejak kapan aku berhenti menanyakan ke mana Ibu pergi, atau mengapa Teo hanya pulang saat libur sekolah. Mungkin aku takut mendengar jawabannya. Atau mungkin aku tahu aku tidak akan suka jawaban itu.
“Ayolah, Noel ….” ucapnya dengan nada menyeret namaku … dan diriku.
Dia memaksaku memakai kemeja dan celana bahan, lalu menyeret tanganku keluar apartemen.
Matahari sudah teduh, jalanan ramai oleh orang-orang yang pulang. Tapi kami melawan itu semua. Teo mengemudikan mobil tuanya menyusuri jalanan ibu kota. Sambil menyetel lagu balad, dia menggoyangkan-goyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan lembut. Aku tahu dia hanya berusaha menghiburku, tapi lagu itu bercampur dengan musik ibu kota yang berisik. Klakson, deru mesin, decit rem, dan teriakan orang tak sabar, bersatu padu dengan alunan biola dan piano dari mobil tuanya.
Aku duduk bersandar di kursi depan, memandang keluar jendela, melihat gedung-gedung berjalan lambat kebelakang. Seolah ingin menarikku kembali ke masa lalu, saat kami pergi tamasya seperti keluarga cemara.
Sekeras apa pun ia berusaha, dia tak akan pernah bisa mengganti waktu-waktu yang hilang dari kami. Dan terkadang, bahkan gema pun tak mau kembali.
Aku teringat saat pindah rumah Nenek selepas perceraian, mungkin Ayah tidak mau tinggal di rumah penuh kenangan itu. Sebuah piano tertutup kain putih, dibiarkan menganggur setelah paman pindah ke luar negaeri. Tak ada yang benar-benar memperhatikan benda tua itu. Tapi suatu sore, saat hujan menutup jalan pulang dan semua orang sibuk di dapur, aku menarik kursinya dan duduk.
Tanganku menyentuh tutsnya dengan ragu. Dingin, sedikit berdebu. Aku menekan satu nada. Lalu satu nada lagi. Dan satu nada lagi. Tak ada yang menjawab, tapi suara itu tinggal. Tak menuntut, tak pergi, tak menghakimi. Dari situ aku mulai belajar. Sendiri. Tanpa guru. Bukan karena aku ingin menjadi hebat, tapi karena itu satu-satunya cara untuk mendengar sesuatu selain kesunyian.
Tiap nada menjadi ganti dari tawa yang hilang. Tiap akor menambal malam-malam tanpa cerita. Tiap irama adalah bahasa baru yang hanya bisa kupahami saat aku tidak bisa menjelaskan rasa kehilangan yang terlalu besar untuk usia sekecil itu.
Piano tidak menuntut aku untuk bahagia. Ia hanya berkata, “Mainkan apa pun yang kau rasa.” Dan aku memainkannya. Rasa rindu. Rasa diam. Rasa ingin berteriak. Rasa pasrah. Semuanya keluar dalam bentuk denting. Dan entah bagaimana, suara-suara itu mengisi ruang yang pernah kosong. Lambat laun, kehilangan berubah bentuk. Ia tidak hilang. Tapi ia menjadi musik. Dan musik itu menjadi satu-satunya hal yang membuatku merasa masih ada.
Namun, saat Ayah menyadarinya, dia ingin aku menjadi hebat.
Aku pun mulai pergi ke tempat les piano. Belajar menjadi profesional dari guru ternama. Lalu aku benar-benar menjadi hebat. Berbagai lomba kujuarai. Berbagai negara kukunjungi. Berbagai pujian kudapati. Hingga aku menjadi yang teratas, menjadi diriku yang disebut “Sang Jemari Emas”.
Namun saat jariku pun direnggut keadaan. Segalanya menjadi runtuh. Perasaan kosong itu kembali, dan bahkan lebih dalam lagi.
***
Kota Tua sore itu tidak terlalu ramai, tapi cukup hidup. Awan-awan putih menggantung, cahaya merah muda menimpa bangunan-bangunan kolonial yang dicat ulang. Sepeda onthel berwarna pastel berjejer seperti parade kemenangan. Asap gorengan, aroma kopi sachet, dan deru kaki turis menyatu jadi lagu latar Jakarta yang tak pernah benar-benar tidur.
Aku berjalan perlahan di belakang Teo, menyesali keputusan ikut keluar.
Dia menoleh. “Ayolah, Noel! Kau perlu lihat dunia.”
“Aku lihat dunia tiap hari dari jendela,” jawabku malas.
“Itu bukan dunia, itu layar hampa.”
Dia kembali berbalik dan melangkah lebih riang, dengan wajah yang terlalu yakin bahwa segalanya bisa diperbaiki dengan udara luar.