7 Hari Bersama Malaikat Maut

Ulat Bulu
Chapter #14

Segalanya Mengalir

“Harapan adalah sungai yang terus mengalir.”

***

 

​Aku berdiri diam di depan rak kayu yang mulai berdebu. Pintu apartemen baru saja ditutup rapat oleh Teo yang pulang. Bunyi klik otomatis dari mesin kunci meninggalkan kesunyian pekat. Hanya ada satu sudut yang tak pernah disentuh oleh Teo saat ia membereskan kekacauan tempat ini: penghargaanku.

​Aku memandang rak itu dengan tatapan kalut. Beberapa piala logam masih berdiri tegak, memantulkan cahaya temaram. Namun, lebih banyak yang sudah miring, bahkan rebah tanpa rasa bangga. Bingkai-bingkai piagam bersandar satu sama lain seperti tumpukan tubuh kelelahan setelah pertempuran yang sia-sia. Ini bukan altar kejayaan. Ini adalah kuburan nama bagi identitas yang pernah hidup dengan megah.

​Pernah, benda-benda ini berarti segalanya bagiku. Mereka adalah bukti bahwa aku hidup, hebat, dan pantas dicintai oleh dunia yang menuntut kesempurnaan. Setiap kali aku turun dari panggung, orang-orang akan berbisik penuh kekaguman, “Lihat, dia adalah si Jemari Emas.”

​Namun hari ini, aku hanya melihat potongan logam dingin yang membisu. Kaca bingkai yang berdebu memantulkan wajah yang tidak kukenali, pria dengan kantung mata hitam dan sepasang tangan yang menyedihkan.

​Trofi adalah simbol kemenangan, tapi sekarang aku sadar, mereka juga bukti bahwa sesuatu telah selesai. Seperti medali di dada veteran yang pulang tanpa kaki, atau patung batu di tengah taman kota yang tidak tahu mengapa ia didirikan. Benda-benda itu mengabadikan momen yang sudah mati.

​Aku pernah membaca, “Waktu bukan deretan detik, melainkan tumpukan peristiwa yang tak pernah benar-benar selesai.” Mungkin piala-piala ini bukan penanda keberhasilan. Mereka hanyalah bukti bahwa aku pernah dipercaya, dipuja, dan diberi beban yang teramat berat.

​Ternyata tidak semua pencapaian adalah berkat. Kadang, mereka adalah kutukan yang dibentuk dari pujian orang lain. Mereka bilang aku berbakat, jadi aku harus menang. Aku tidak boleh menjadi biasa-biasa saja. Dan sekarang, ketika jemariku tak lagi patuh karena penyakit jahanam ini, semua benda di rak ini diam. Mereka membisu, seolah tidak pernah mengenalku.

​Piala bukanlah warisan yang berharga. Mereka hanyalah topeng megah yang kini tidak bisa kupakai lagi.

​Aku mencoba menyentuh ujung piala piano berbentuk kunci g-clef di baris terdepan. Dingin. Tak ada denyut kehidupan. Kupikir benda-benda ini menyimpan kenangan manis, ternyata salah. Mereka hanya menyimpan ekspektasi yang membeku. Rak kayu ini tak ubahnya museum dari diriku yang sudah mati, dan aku adalah satu-satunya pengunjung yang tersisa.

​“Lagumu terdengar kembali.”

​Suara itu muncul dalam keheningan rumah. Nadanya datar dan tenang, datang dari sudut ruangan yang tak kasat mata. Aku tidak perlu menoleh. Dia tidak datang berkunjung, karena dia tidak pernah benar-benar pergi sejak kontrak itu dimulai.

​“Aku bahkan tidak ingat kapan memberikan gadis itu pita,” kataku pelan, menarik kembali tanganku dari trofi. “Aku tidak tahu kenapa dulu mengucapkan kata-kata seperti itu. Tapi hari ini … dia bilang aku menyelamatkannya.”

​Hening kembali merayap. Udara malam yang menyusup dari celah jendela terasa dingin, tapi tidak lebih dingin daripada kesadaranku bahwa aku bahkan tidak mampu menyelamatkan diriku sendiri. Aku menarik napas dalam, lalu berbalik memandangnya yang berdiri di tengah ruangan.

​Lampu langit-langit masih enggan memberinya bayangan di lantai. Dasi merah yang ia kenakan malam ini memiliki warna yang persis sama dengan pita rambut milik gadis violinis yang aku dan Teo temui di jalanan tadi.

​“Aku bukanlah pahlawan,” gumamku mengawang. “Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih bisa disebut manusia.”

​“Tapi kau masih mengubah sesuatu,” balas malaikat maut konstan.

​Aku berjalan dengan langkah berat menuju sofa. Matanya yang gelap mengekoriku tanpa berkedip.

​“Dengan apa? Dengan kata-kata bodoh yang kuucapkan sambil berlalu? Aku bahkan tidak ingat kapan aku memberikan gadis itu pita,” ujarku sambil menghempaskan tubuh ke sofa, menatap langit-langit yang kosong.

​“Itulah keajaibannya. Tak semua yang berdampak besar lahir dari rencana. Kadang, dunia berubah arah karena satu kalimat kecil yang tak disadari, yang jatuh di hati orang yang tepat.”

​Aku mendengus pendek, melempar tawa getir. “Kalau begitu, dunia ini terlalu rapuh.”

​“Mungkin memang begitu,” katanya pelan. “Tapi bukankah justru yang rapuh itu yang paling layak dijaga?”

​Aku terdiam.

Lihat selengkapnya