7 Hari Bersama Malaikat Maut

Ulat Bulu
Chapter #16

Mitos-mitos tentang Tuhan

“Tuhan selalu bersamamu, kamu hanya perlu memperhatikan.”

***

 

Langit pagi menuju siang ini cerah. Matahari menerobos jendela-jendela tinggi di sisi kanan, membuat bilah-bilah cahaya yang indah menerpa aula senyap ini. Altar membisu. Salib raksasa seolah tak mengizinkanku bertanya.

Aku tidak tahu kenapa kakiku membawaku ke sini. Gereja tua ini bukan tempatku. Tapi sejak kecil aku suka ke bangunan ini, bukan karena salibnya, bukan karena kidungnya. Tapi karena keheningannya. Tak seperti masjid yang terbuka dan penuh gema, gereja ini seperti tempat bersembunyi yang sah. Semacam kegelapan yang sudah diberi izin resmi untuk ada.

Aku duduk di bangku kayu paling belakang. Seorang pemuda gereja selesai membersihkan altar, lalu pergi. Di bawah kaca patri warna-warni, aku merasa seperti potongan lain dari gambar yang tak pernah selesai. Tanganku menyatu di pangkuan. Napasku pelan. Tak ada doa. Tapi juga tak ada penolakan, dan entah mana yang lebih jujur dari keduanya.

Aku tidak mencari Tuhan Katolik. Aku bahkan tidak yakin aku mencari Tuhan. Mungkin aku hanya mencari sesuatu yang tidak akan membalas pesanku dengan diam.

Dan saat aku menunduk, aku tahu dia datang. Bukan lewat pintu, tapi lewat diam itu sendiri.

“Kau bukan seorang Katolik.”

Bukan pertanyaan. Dari ujung bangku, jasnya rapi, dasi merahnya mencolok seperti kesengajaan. Satu-satunya benda yang mengkilap darinya adalah penjepit dasi berbentuk sayap.

Aku tidak menjawab.

“Tapi kau duduk di bangku jemaat,” lanjutnya, “seolah sedang menunggu sesuatu.”

“Aku menunggu jawaban,” kataku. “Atau keheningan yang bisa kupahami. Mana yang datang duluan.”

Dia sudah duduk di sebelahku. Aku tidak melihatnya pindah. Dia menyilangkan kaki dengan tenang orang yang tidak pernah buru-buru, karena memang tidak perlu.

“Jadi kau Muslim. Duduk di gereja. Mencari Tuhan.”

“Ibuku berdoa di sini. Teo berdoa di sini.” Aku menatap altar. “Apa Tuhan mereka tidak sah?”

“Bukan soal sah,” katanya. “Tapi soal apa yang kau cari ketika semua yang kau kenal tidak lagi menjawab.”

Aku tersenyum, bukan karena ada yang lucu. “Aku berdoa. Bertahun-tahun. Supaya jari-jariku sembuh. Supaya aku bisa main lagi. Supaya aku bisa tidur tanpa mimpi yang sama.” Aku berhenti. “Tidak ada jawaban. Jadi aku berhenti.”

“Berhenti berdoa, atau berhenti percaya?”

“Apa bedanya?”

Malaikat maut tidak menjawab langsung. Membiarkan pertanyaanku bergantung di udara seperti asap. Lalu, “Mungkin jawaban itu bukan soal dikabulkan atau tidak. Mungkin jawaban adalah fakta bahwa kau masih di sini. Masih bertanya.”

“Atau,” kataku, “aku di sini karena tidak tahu harus ke mana lagi. Itu bukan iman. Itu kehabisan opsi.”

Dia menatapku sebentar, lalu berdiri. Berjalan menuju altar dengan langkah yang terlalu rata, tidak ada bobot naik-turun seperti manusia biasa, seolah gravitasi hanya berlaku padanya secara administratif. Dari mana pun ia mengambil api , lilin-lilin di altar mulai menyala.

Aku menatap nyalanya. Cahayanya kalah oleh matahari dari kaca patri, tapi tetap ada… keras kepala, kecil, tidak mau padam. Di bawahnya, wajah Yesus yang dipaku itu diam. Dan dalam diam itulah —dalam penderitaan yang dipahat dari kayu— ada sesuatu yang lebih akrab daripada segala doa yang pernah kuucapkan.

Mungkin karena penderitaan tidak membutuhkan penjelasan.

“Aku tidak tahu lagi siapa Tuhan itu sebenarnya,” kataku, cukup keras untuk menjangkaunya, tidak cukup kuat untuk menggema. “Atau lebih tepatnya … Tuhan yang mana.”

Dia tidak berbalik. Mendengarkan punggungnya.

“Manusia tidak bisa menciptakan satu biji pasir pun,” lanjutku. “Tapi mereka menciptakan ribuan versi Tuhan. Tuhan yang kuat. Tuhan yang penyayang. Tuhan yang cemburu dan pendendam. Tuhan yang mendiamkan.” Aku berhenti. “Lucu. Sepertinya Tuhan yang paling populer adalah Tuhan yang paling mirip dengan siapa pun yang sedang berkuasa saat itu.”

Dia berbalik. Matanya menyorotku … bukan marah, bukan tersinggung. Lebih seperti seseorang yang sudah mendengar semua variasi argumen ini dan masih punya waktu untuk mendengar satu lagi.

“Mereka tidak mengerti,” katanya, “tapi mereka mencoba memberi nama pada kekacauan.”

“Dan dari situlah lahir mitos.” Aku menyandarkan punggung ke bangku. “Tapi kau tahu yang menarik? Semua mitos tentang Tuhan dimulai dari hal yang sama. Kekacauan. Chaos. Sebelum ada apa pun, ada kekacauan dulu.”

Aku memejamkan mata sebentar. Bukan karena mengantuk. Karena kadang lebih mudah berpikir dalam gelap.

“Dalam kosmologi Yunani, sebelum ada dewa, ada Chaos … bukan kekacauan dalam arti berantakan, tapi jurang yang menganga. Kehampaan yang tidak bernama. Dari sana lahir Gaia, Tartarus, Eros. Dari Gaia lahir Uranus. Lalu Uranus mengurung anak-anaknya di dalam perut bumi karena takut dikudeta.”

Aku membuka mata.

“Cronus menggulingkan Uranus. Zeus menggulingkan Cronus. Setiap generasi, Tuhan yang lama ditelan atau dipenjarakan oleh Tuhan yang baru. Mereka menyebutnya mitologi. Aku menyebutnya sejarah kekuasaan dengan kostum yang lebih menarik.”

“Dan manusianya?” tanya malaikat maut.

“Manusia dalam mitologi Yunani bukan ciptaan yang dikasihi. Mereka produk sampingan dari konflik para dewa. Prometheus mencuri api, bukan karena dewa memang merencanakan memberi, tapi karena manusia harus mencuri untuk bertahan hidup di dunia yang tidak dirancang untuk mereka.” Aku mengetuk bangku kayu di bawahku. “Itu yang tidak pernah diajarkan di sekolah. Bahwa ada versi cerita di mana manusia bukan mahkota penciptaan. Hanya penonton yang terlalu bising.”

Malaikat maut melipat tangannya. Menunggu.

Bilah cahaya dari kaca patri bergeser pelan. Warna merah bergerak dari tangan Yesus yang dipaku ke lantai marmer.

Lihat selengkapnya