7 Hari Bersama Malaikat Maut

Ulat Bulu
Chapter #17

Sudut Pandang Sains

“Kesadaran adalah anugerah yang terasa seperti kutukan.”

***

 

​Aku kembali memandang malaikat maut yang masih menyilangkan tangannya di depan altar.

​“Dan sekarang,” kataku, suaraku terdengar parau di antara pilar-pilar gereja yang tinggi, “ketika manusia sudah terlalu lelah berdoa dan bosan dengan mitos, mereka menciptakan sains. Tapi kau tahu apa yang lucu?” Aku mengangkat tangan kananku yang kaku, memandangi jemari yang gemetar tipis di bawah siraman cahaya patri. “Sains juga tidak bisa menyembuhkan tanganku.”

​Aku berjalan pelan, menyeret langkah tanpa arah yang jelas di sepanjang lorong marmer. Berpikir selalu terasa lebih mudah ketika tubuh sialan ini tidak dipaksa diam.

​“Ada satu pertanyaan yang sudah ada sebelum semua agama lahir. Sebelum manusia punya kata-kata untuk mengutuk nasib mereka sendiri,” aku berhenti melangkah, menatap bayanganku yang terdistorsi di lantai. “Mengapa ada sesuatu, dan bukan kehampaan sempurna? Kenapa alam semesta ini repot-repot harus ada?”

​Kalimat itu menggantung di udara gereja yang sunyi.

​“Secara logika, kehampaan sempurna itu jauh lebih masuk akal, bukan?” Aku menatap malaikat maut dengan senyum getir. “Tidak ada ruang, tidak ada waktu, tidak ada rasa sakit. Skenario yang sangat damai. Tapi nyatanya, alam semesta ini memilih untuk meledak dan ada. Sama seperti diriku. Kenapa aku harus dilahirkan ke dunia kalau hanya untuk diberi bakat luar biasa, lalu dihancurkan secara perlahan seperti ini? Tidak ada yang tahu kenapa.”

​Malaikat maut tidak bergerak. Dia hanya berdiri di sana, mengawasiku seperti sebuah batu nisan yang sabar.

​“Sains menjawab dengan jujur,” lanjutku, melangkah mendekati deretan bangku kayu terdepan. “Para fisikawan bilang, sekitar tiga belas koma delapan miliar tahun yang lalu, semua yang ada di semesta ini terperangkap dalam satu titik tunggal. Singularitas. Ruangnya sekecil atom, dan waktu belum dimulai. Lalu, titik itu meregang. Mengembang hebat dalam hitungan seperseribu detik.”

​Aku duduk di bangku paling depan, tepat di bawah bayang-bayang salib besar. Bahuku merosot ke bawah.

​“Ratusan juta tahun setelah ledakan itu, gravitasi mulai menarik awan gas yang berserakan. Mereka memadat, saling menekan, hingga atom-atom hidrogen di dalamnya berfusi. Menyala. Bintang pertama lahir.” Aku menatap nyala lilin di altar, merasai kehangatannya yang tidak sampai ke kulitku. “Aku dulu selalu berpikir proses itu sangat puitis. Bahwa hal pertama yang dilakukan alam semesta setelah terjebak dalam kegelapan yang lama adalah menyalakan cahaya. Aku mengira … hidupku juga akan seperti itu setelah vonis dokter. Aku mengira akan ada cahaya yang menyala setelah kegelapan ini.”

​Aku menunduk, meremas jemari kiriku yang sehat ke atas jemari kananku yang mati rasa.

​“Tapi sains punya batas yang kejam. Matematika hancur di titik singularitas. Kau tidak bisa menghitung apa yang terjadi sebelum Big Bang karena jawaban yang keluar selalu kerusakan. Mungkin semesta ini model tanpa batas, sebuah ruang yang tidak butuh titik awal. Kalau tidak ada momen penciptaan, maka tidak ada tempat bagi Tuhan.”

Aku tertawa kecil. Bunyinya menyedihkan, bergema di dinding-dinding batu.

“Semesta itu matematika. Tapi bagiku, itu kutukan. Di dalam kepalaku, ada singularitasnya sendiri. Momen ketika saraf-saraf di tanganku mendadak berhenti patuh. Di titik itu, seluruh logika hidupku hancur. Matematika di kepalaku rusak. Dan, aku mulai sadar … tidak ada tempat bagi Tuhan di dalam kamarku yang sepi.”

Malaikat maut memiringkan kepalanya, dasi merahnya menangkap bias cahaya dari kaca patri. “Kau menuntut sebuah rancangan?”

“Aku menuntut penjelasan!” kataku, suaraku mendadak meninggi, memotong kesunyian aula. “Para ilmuwan bicara tentang fine-tuning. Penyetelan halus. Mereka bilang alam semesta ini dirancang dengan presisi yang absurd. Nilai gravitasi, gaya elektromagnetik, semuanya harus pas. Jika konstanta itu meleset sekecil satu per tiga puluh angka nol di belakang koma, bintang tidak akan terbentuk. Kehidupan tidak akan pernah ada.”

​Aku berdiri lagi, didorong oleh gelombang kemarahan yang akarnya entah di mana. Aku berjalan mendekatinya.

“Semesta diatur dengan ketelitian sedahsyat itu, tapi kenapa tubuhku sendiri tidak bisa disetel dengan benar? Hanya butuh satu milimeter kesalahan pada sistem saraf di otakku, dan seluruh hidupku runtuh. Kenapa Tuhan, atau apa pun namanya, bisa begitu teliti menjaga jarak antar-galaksi, tapi membiarkan segumpal daging di dalam kepalaku berkhianat? Di mana fine-tuning untuk jemariku?!”

​Napas seakan memburu. Aku berdiri tepat di tengah lorong gereja, dadaku naik turun karena kelelahan emosional yang teramat sangat.

​“Atau mungkin saja alam semesta ini cukup ada begitu saja tanpa perlu penjelasan eksternal. Angkat bahu selesai,” suaraku merendah, berubah menjadi bisikan yang gemetar. “Tapi aku tidak bisa angkat bahu. Rasa sakit ini terlalu besar untuk dijawab dengan kalimat 'memang sudah begini adanya'. Aku hanya ingin bermain piano. Hanya itu. Aku tidak meminta dilahirkan untuk mengerti Big Bang. Aku hanya ingin sepuluh jariku menekan tuts hitam dan putih tanpa harus gemetar seperti orang cacat.”

​Aku mengambil beberapa langkah lagi, mengikis jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma dingin yang menguar dari pakaian hitamnya.

​“Lalu manusia berevolusi. Fosil Lucy[1] di Ethiopia membuktikan bahwa tiga setengah juta tahun lalu, nenek moyang kita mulai berjalan tegak dengan dua kaki. Otak kita membesar. Dan di suatu titik dalam sejarah, lahirlah kesadaran. Lahirlah subjek yang bisa merasakan sakit dari dalam, bukan cuma sinyal saraf yang bisa diukur mesin dari luar.”

Aku tersenyum tipis.

Lihat selengkapnya