7 Hari Bersama Malaikat Maut

Ulat Bulu
Chapter #18

Menggugat Maut

“Iman dimulai ketika logika mencapai batasnya.”

***

 

​Aku menoleh padanya. “Kau pernah bertemu Tuhan?”

​Malaikat maut tidak langsung menjawab. Gereja itu begitu sunyi sampai aku bisa mendengar kayu tua di langit-langit mengeluh pelan karena usia.

​“Aku tidak diberi hak untuk percaya seperti manusia,” katanya akhirnya. “Aku hanya diberi tugas.”

​“Tugas menjemputku.”

​“Ya.”

​“Dan setelah itu?”

​Dia diam.

​Aku tertawa kecil, sebuah bunyi hambar yang memantul di dinding-dinding marmer. “Tidak ada yang pernah mau menjawab bagian itu.”

​Aku mengangkat kepala, menatap pilar-pilar batu yang kokoh. “Tapi kalau kupikir-pikir … mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan tentang Adam atau awal mula bumi. Melainkan tentangmu.”

​Untuk pertama kalinya sejak percakapan ini dimulai, aku merasa diamnya sedikit berubah. Sangat tipis. Hampir tak terlihat.

​“Kalau evolusi benar,” lanjutku, mulai melangkah mengitarinya perlahan, “berarti perubahan adalah hukum paling tua di alam semesta. Bintang berubah. Planet berubah. Spesies berubah. Manusia berubah.” Aku berhenti tepat di hadapannya, menantang sepasang mata yang tak berbentuk itu. “Lalu … apakah malaikat juga berubah?”

​Dia tetap membisu.

​“Lucifer pernah disebut malaikat,” aku memiringkan kepala. “Lalu menjadi Iblis. Bukan karena seleksi alam, bukan karena mutasi genetik, tapi tetap saja … dia berubah. Agama menyebutnya kutukan. Aku hanya melihatnya sebagai bentuk transformasi. Kalau manusia berubah karena waktu, dan Iblis berubah karena pilihan … lalu malaikat berubah karena apa? Atau kalian memang makhluk statis yang dikutuk untuk tidak bisa berubah?”

​Aku berjalan beberapa langkah mendekati altar.

​“Aneh. Segala sesuatu di alam semesta ini bergerak dan bergeser. Galaksi lahir lalu mati. Gunung terkikis. Bahasa berubah. Tubuhku berubah.” Aku mengangkat tangan kananku, memandangi jemari yang gemetar kaku. “Bahkan otakku mengkhianati tubuhku sendiri. Hanya Tuhan yang selalu dikatakan tidak berubah. Kalau begitu, apa sebenarnya arti menjadi sempurna? Tidak berubah? Atau mampu berubah tanpa kehilangan diri?”

​Malaikat maut akhirnya mengangkat pandangan. “Kau sedang mencoba mengukur langit dengan penggaris yang dibuat bumi, Noel.”

​“Mungkin,” sahutku pelan. “Tapi semua ilmu pengetahuan juga dimulai dari kesalahan yang cukup berani untuk dipertanyakan.”

​“Hati-hati,” gumamnya, ada nada dingin yang menyusup di sana. “Tidak semua pertanyaan membawa manusia lebih dekat kepada kebenaran. Sebagian membawa mereka lebih dekat kepada kesombongan.”

​Aku mengangkat bahu. “Bukankah keduanya sering terlihat sangat mirip?”

​Langkahku membawaku semakin dekat ke meja altar. Di atas kain putih yang membujur, sebatang lilin menyala tegak. Tanganku terulur, menyentuh permukaannya yang hangat.

​“Lalu orang-orang yang kau jemput?” tanyaku lagi, mataku terpaku pada sumbu yang terbakar. “Apa mereka bertemu Tuhan?”

​“Aku datang untuk menjemputmu, Noel.”

​“Itu bukan jawaban.”

​“Itu satu-satunya jawaban yang boleh kuberikan.”

​Aku menggeleng, melepaskan tawa sinis. “Selalu begitu. Kalau begitu, jawab satu hal yang terus mengganjal di kepalaku sejak aku tahu ajalku sudah dekat. Kenapa Tuhan menciptakan neraka?”

​Malaikat maut tidak bergerak.

​“Katakanlah surga memang ada,” aku berjalan perlahan di sepanjang altar, membiarkan suaraku bergema. “Tempat bagi orang-orang baik. Itu masih bisa kupahami. Tapi neraka? Untuk apa? Kalau Tuhan memang Mahakuasa, Dia tidak membutuhkan balas dendam. Kalau Dia Mahakasih, Dia tidak membutuhkan kebencian. Kalau Dia Mahatahu, Dia sudah tahu siapa saja yang akan masuk ke sana bahkan sebelum alam semesta ini diledakkan.”

​Aku menoleh tajam kepadanya. “Lalu kenapa neraka tetap diciptakan?”

Lihat selengkapnya