“Ketidaktahuan adalah damai, mengetahui adalah beban.”
***
Aula itu hening. Lantai dan dinding masih sama, kokoh tanpa retakan. Jejak-jejak guncangan dahsyat dan kegelapan absolut yang baru saja meremukkan nalar seolah menguap begitu saja ke udara gereja yang dingin. Tak ada debu yang luruh, tak ada kaca patri yang pecah. Semuanya kembali normal dengan begitu tenang, sebuah normalitas yang justru terasa menteror karena mengabaikan seluruh badai emosi yang baru saja menghantamku. Seolah-olah hal magis, atau ilusi gila tadi, tak pernah terjadi sama sekali.
Aku menyeret tubuhku yang mendadak terasa seberat timah, lalu duduk di bangku jemaat paling depan. Kayu oak tua di bawah matras duduk terasa dingin, menembus celana kain yang kukenakan. Di hadapanku, keheningan berlutut seperti seorang pertapa.
“Plato[1],” suaraku memecah kesunyian, terdengar parau dan letih, mengambang di antara pilar-pilar batu yang menjulang tinggi. “Filsuf itu percaya jiwa akan kembali ke dunia idea. Ke tempat di mana kebenaran dan keindahan tak terkontaminasi oleh tubuh dan dosa. Baginya, tubuh ini penjara. Dan mati adalah kebebasan.”
Aku menatap telapak tangan kananku yang pucat, membaliknya pelan dengan bantuan tangan kiri. Jari-jariku melengkung kaku, membentuk cakar yang tak berguna. Kuperhatikan gari-garis halus di kulitnya, seolah mencari sebuah pintu keluar rahasia atau bekas sayatan yang bisa meloloskan jiwaku dari kurungan daging ini. Jika tubuh adalah penjara, maka sistem saraf di otakku adalah sipir yang paling kejam. Ia tidak menyiksaku dengan cambuk, melainkan dengan mematikan fungsi bagian-bagian terbaik dari diriku secara perlahan.
“Seperti yang kukatakan kemarin,” lanjutku, mengalihkan pandangan dari tangan yang cacat menuju bayangan salib di lantai marmer, “Buddha bilang hidup itu dukkha… penderitaan. Bahwa semua bentuk adalah ilusi. Setelah mati, kita tidak pergi ke surga, tidak ke neraka. Kita kembali ke arus, ke samsara. Dilahirkan ulang sesuai karma. Dan Camus percaya tak ada apa pun setelah mati. Bahwa hidup ini absurd. Bahwa berharap pada keabadian hanyalah usaha manusia untuk lari dari kehampaan.”
Aku memperbaiki dudukku, menegakkan punggung yang terasa pegal, lalu menatap makhluk yang berdiri di samping altar. Wajahnya sangat dekat denganku, hanya berjarak beberapa langkah di ujung lorong jemaat. Namun, anehnya aku masih tak bisa mengingat atau mendefinisikan rupa wajah itu. Setiap kali mataku mencoba menangkap bentuk hidungnya, lekuk rahangnya, atau warna kulitnya, fokusku buyar. Seperti ada sensor internal di dalam batok kepalaku yang selalu menolak untuk menggambarkan wajahnya secara utuh. Dia hanya sebuah eksistensi berpakaian jas hitam dengan dasi merah yang menangkap bias cahaya dari kaca patri.
“Aku tidak akan pernah tahu apa itu kematian,” bisikku, meremas ujung kemejaku yang kusut. “Karena aku tak bisa ‘menghadiri’ kematianku sendiri. Saat kematian itu datang, akunya sudah tidak ada. Itu batas terjauh yang tak bisa manusia selami. Tapi justru karena itu, karena ketidakpastian yang mutlak itu, manusia harus hidup dengan penuh tanggung jawab. Karena kami tahu segalanya akan berakhir. Kami menciptakan seni, menulis buku, dan menggubah simpanis hanya untuk membuktikan pada keabadian bahwa kami pernah ada di sini, bertarung melawan waktu.”
Dia tidak memotong. Sebaliknya, setitik riak emosi muncul di sela-sela kekosongan wajahnya. Dia tersenyum lagi padaku. Sebuah senyuman yang tidak hangat, tapi juga tidak mengejek. Tangannya yang terbungkus kain hitam turun ke samping tubuhnya dengan gestur yang sangat santun.
“Kematian bukan untuk dijelaskan,” katanya, suaranya seperti desau angin yang menyusup di antara celah pintu kayu gereja. “Tapi untuk disadari. Dan mungkin, bagi beberapa orang yang beruntung, untuk ditemani.”
Aku menghela napas besar, merasakan paru-paruku mengembang dengan berat sebelum menghempaskan punggung ke sandaran bangku kayu yang tegak. “Kalau semua orang pintar dari ribuan tahun lalu itu benar, maka aku tidak seharusnya takut. Jika mati adalah kebebasan, atau kembali ke arus semesta, atau sekadar tidur panjang tanpa mimpi, aku seharusnya menyambutmu dengan tangan terbuka.”
Dia hanya menatapku lama. Detik demi detik meluruh di antara kami, diukur oleh getaran lilin yang mulai memendek di atas altar. Lalu dia berkata dengan pelan, sangat pelan hingga nyaris menyatu dengan keheningan, “Tapi siapa bilang kau harus memilih satu kebenaran, Noel? Mungkin semua itu benar. Mungkin tidak ada yang benar. Atau mungkin, kebenaran itu sendiri sedang duduk di bangku jemaat itu bersamamu saat ini. Dalam tubuh seorang manusia yang hancur, yang fisiknya dikhianati oleh biologinya sendiri, tetapi jiwanya masih menolak untuk berhenti bertanya. Aku tak berhak menjawabmu. Kaulah yang harus menemukan jawabannya sendiri. Itulah arti dari sebuah keyakinan.”
Aku tak menjawab. Tak ingin menjawab. Seluruh argumen logika yang biasanya berloncatan di kepalaku mendadak lumpuh. Aku hanya bernapas, membiarkan dunia di luar gereja tua ini berhenti sejenak. Membiarkan suara-suara besar, perdebatan teologis, dan pemikiran filsafat dari ribuan tahun lalu bergema di dalam rongga dadaku, di dalam tubuh yang tak bisa lagi memainkan tuts hitam dan putih piano, tapi setidaknya masih bisa mendengar gema terjauh dari peradaban manusia.