7 Hari Bersama Malaikat Maut

Ulat Bulu
Chapter #20

Iblis Bapak Kebebasan

“Manusia punya kebebasan dan kemampuan untuk memilih.”

***

 

Trotoar ini sudah lama berhenti menjadi milik pejalan kaki.

Ia kini milik debu, milik asap yang mengendap seperti dosa lama, milik sepatu-sepatu yang bergerak tanpa tahu ke mana sesungguhnya mereka hendak pergi. Gedung-gedung kaca menjulang di kanan-kiri seperti hakim yang tak pernah turun dari singgasana, memantulkan langit, memantulkan wajah orang-orang yang terlalu lelah untuk mendongak.

Aku berjalan di antaranya. Perlahan. Tanpa arah yang benar-benar kupahami, atau mungkin justru karena memahaminya terlalu dalam.

Kakiku melangkah sendiri. Tubuhku mengambil alih kemudi ketika pikiranku terlalu penuh untuk menentukan tujuan. Memang begitu caranya bekerja sekarang: biarkan kaki bergerak, dan pertanyaan-pertanyaan akan menyusul dengan sendirinya. Seperti anjing yang tahu kapan tuannya sedang goyah.

Langit biru. Awan putih yang mengapung malas. Kalau dipandang dari atas, kota ini mungkin tampak damai, seperti foto di majalah wisata, seperti janji kampanye yang belum sempat dibuktikan salah.

Tapi aku tidak memandang dari atas.

Aku berjalan di dalamnya.

Di tikungan pertama, seorang nenek bersandar pada batang pohon yang retak kulitnya. Tangannya gemetar mengangkat kaleng plastik bekas cat tembok, berisi beberapa keping logam dan sebuah harapan yang sudah lama tidak diperbarui. Di sampingnya, seorang bocah laki-laki dengan celana dua nomor kebesaran menyodorkan sebungkus tisu kepada setiap orang yang lewat. Ia belum paham bahwa menawarkan sesuatu kepada orang yang sedang terburu-buru adalah doa yang dilayangkan kepada dinding.

Tak ada yang berhenti.

Beberapa meter ke depan, dua pria berseragam saling memandang dengan mata yang sudah memutuskan lebih dahulu daripada mulutnya. Mereka bicara pelan, tapi tangan salah satunya sudah bergerak ke kerah yang lain. Di sekitar mereka, orang-orang tetap berjalan —bukan karena tidak melihat, tapi karena sudah terlalu terbiasa. Perkelahian di trotoar telah menjadi bagian dari lanskap kota, seperti iklan rokok dan lubang-lubang jalan yang tidak kunjung ditambal.

Di lampu merah, seorang polisi menghentikan pengendara motor. Mereka berbicara sebentar —atau tepatnya, selembar uang berbicara sebentar, lalu berpindah tangan dengan gerakan yang terlalu cepat untuk disebut kejahatan dan terlalu lazim untuk disebut kebetulan. Beberapa puluh meter dari sana, sebuah ambulans melolong meminta jalan. Lautan kendaraan menggeser diri sedikit —bukan karena peduli, tapi karena takut lecet.

Sirene itu terus meraung.

Kematian sedang terburu-buru, dan kota ini sedang memilih untuk tidak mendengar.

Aku terus melangkah. Tidak berhenti. Tidak ikut campur. Hanya melihat, dan mulai menyadari bahwa mungkin itu juga sejenis dosa yang nyaman.

Dunia ini tidak jahat. Tapi juga tidak baik. Dunia ini hanya bertahan, seperti seseorang yang sudah lupa mengapa ia bertahan, tapi tubuhnya terlalu keras kepala untuk berhenti.

Kadang aku bertanya-tanya apakah Tuhan juga pernah berdiri di trotoar seperti ini. Diam. Memandang tanpa ikut campur. Atau mungkin justru Ia sedang menunggu, ingin melihat siapa hari ini yang memilih menjadi manusia.

Aku tidak pernah tahu.

Aku tiba di sebuah halte.

Tempat di mana manusia belajar menunggu sambil berpura-pura tahu ke mana hidup sedang membawanya.

Aku duduk di kursi logam yang dingin, membiarkan punggungku menopang keletihan yang bukan sepenuhnya milik badan. Tak perlu menoleh. Aku sudah tahu ia ada di sana, sejak keluar dari gereja tadi, ia selalu berjalan tepat tiga langkah di belakangku. Tidak pernah mendahului. Tidak pernah tertinggal.

Malaikat mautku.

Kendaraan terus berlalu. Wajah-wajah datang dan pergi seperti barisan karakter dalam cerita yang tidak punya tokoh utama. Di antara keramaian itu aku melihat seorang perempuan tua yang membagi-bagikan nasi bungkus kepada orang yang tidak ia kenal, tangannya gemetar tapi senyumnya tidak. Tiga langkah dari dia, seorang pria dengan jas rapi berdiri dengan punggung lurus dan mata yang menghakimi siapa pun yang berpapasan dengannya.

Tidak ada manusia yang sungguh-sungguh hanya satu warna.

Beberapa detik setelah aku duduk, malaikat maut mengambil tempat di sampingku. Diam, seolah ia tahu bahwa percakapan yang besar selalu lahir dari keheningan yang dibiarkan cukup lama.

“Dunia tampak baik-baik saja,” gumamku akhirnya. “Tapi semakin lama kita menatapnya, semakin jelas bahwa semua orang sedang berjuang agar tidak runtuh.”

Aku menoleh kepadanya.

“Menurutmu… apakah semua ini memang dirancang seperti ini?”

Ia tidak langsung menjawab. Tangannya bersedekap, matanya mengikuti arus kendaraan yang tidak pernah benar-benar berhenti, seperti nadi kota yang sudah lupa cara beristirahat.

“Manusia tidak pernah diciptakan untuk menjadi sempurna,” katanya pada akhirnya. Suaranya datar, tapi datar seperti permukaan danau dalam, bukan karena dangkal, melainkan karena dalam sekali.

“Mereka diciptakan dengan kemampuan untuk menjadi sesuatu.”

Ia berhenti. Membiarkan kalimat itu mengendap.

“Lalu diberi kebebasan untuk gagal menjadi itu.”

Aku berdecak. “Bukankah manusia disebut makhluk paling mulia? Karena itulah malaikat diperintahkan bersujud kepada Adam.”

“Ya.” Tatapannya tetap lurus ke jalan raya. “Dan lihat hasilnya.”

Ia melanjutkan dengan nada yang tidak berubah, bukan sinis, hanya mencatat fakta seperti seseorang yang sudah terlalu lama menjadi saksi.

“Makhluk paling mulia juga menjadi satu-satunya makhluk yang mampu membangun rumah sakit sekaligus kamp penyiksaan. Menulis kitab suci sekaligus buku petunjuk perang. Menciptakan simfoni … sekaligus bom.”

Aku terdiam.

“Kemuliaan tidak pernah berarti ketidakmampuan berbuat jahat, Noel.”

Entah mengapa, kalimat itu terasa lebih berat daripada yang terdengar. Seperti batu yang kecil di genggaman tapi terasa makin berat semakin lama kau pegang.

“Aku tak tahu siapa yang lebih gila,” gumamku. “Orang yang menindas … atau orang yang masih percaya keadilan akhirnya menang.”

“Mungkin keduanya.”

Jawabannya datang terlalu cepat. Aku mendongak.

“Yang pertama terlalu yakin bahwa kekuasaan akan melindunginya dari konsekuensi. Yang kedua terlalu yakin bahwa semesta selalu menyimpan neraca yang adil.”

“Kau sendiri?”

“Aku tidak berpihak pada harapan maupun keputusasaan.”

“Lalu berpihak pada apa?”

“Kenyataan.”

Aku mengikuti arah pandangnya.

Di seberang jalan, seorang pemuda membantu nenek tua menyeberang. Tangan kirinya gemetar, bekas luka lama, mungkin, yang belum selesai sembuh. Tapi tangannya tetap terulur. Di sebelahnya —nyaris bersamaan, nyaris seperti lelucon alam— seorang pria dengan gerakan yang hampir tidak kelihatan menyelipkan dompet orang lain ke dalam jaketnya.

Orang-orang melihat.

Lalu memilih untuk tidak melihat.

Termasuk aku.

“Kau tahu,” kataku pelan, “aku dulu percaya dunia punya garis yang jelas. Hitam dan putih. Benar dan salah.”

Aku mengembuskan napas, napas yang terasa lebih panjang dari seharusnya.

“Tapi semakin dewasa, garis itu seperti larut. Kadang aku takut, jangan-jangan aku sendiri tidak tahu sedang berdiri di sisi mana.”

Malaikat maut akhirnya menoleh. Matanya kosong, tapi kosong seperti cermin yang jujur, yang tidak menambahkan apa pun, hanya memantulkan apa yang ada di depannya.

“Itu karena kau masih membayangkan manusia sebagai lukisan.”

“Maksudmu?”

“Padahal manusia lebih mirip sungai.”

Aku mengernyit.

“Tidak pernah diam. Hari ini seseorang menolong orang asing. Besok ia menyakiti anaknya sendiri. Pagi ia berdoa. Malam ia berbohong.” Ia berhenti sejenak. “Mereka terus mengalir, Noel. Dan sungai tidak diadili karena kadang keruh.”

“Kalau begitu ….” aku memilih kata-kataku hati-hati, “…orang yang mati, mati sebagai apa?”

“Sebagai pilihan terakhir yang ia pertahankan.”

Tenggorokanku mengering.

Pilihan terakhir. Bukan pilihan terbaik. Bukan pilihan terburuk. Pilihan terakhir, yang artinya segala sesuatu sebelumnya masih bisa berbeda, tapi tidak jadi berbeda karena satu momen terakhir itu memutuskan semuanya.

Entah mengapa, kalimat itu lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri.

Angin sore berembus tipis. Aku mendongak ke layar LED raksasa di gedung seberang.

Rekaman perang. Rudal membelah langit malam seperti tanda baca yang salah tempat. Gedung runtuh dalam debu yang anggun, anggun karena kamera mengambilnya dari jarak jauh. Seorang anak berlari sambil menangis, lalu gambar berganti sebelum tangisnya selesai.

Orang-orang di sekitar halte melirik sekilas.

Kemudian kembali ke layar ponsel masing-masing.

“Apa Tuhan masih menonton semua ini?” bisikku.

“Kau kira Dia pergi?”

Lihat selengkapnya