“Takdir mempertemukan dua orang.”
***
Sore itu langit seperti tumpahan teh basi… kekuningan, keruh, tak enak dipandang. Bus yang kutumpangi menggeram malas sebelum akhirnya berhenti di halte kecil dekat pusat pertokoan tua di sekitar apartemenku. Aku turun dengan langkah berat.
Dan langsung melihatnya.
Dia berdiri di sana. Seolah sudah tahu ke mana aku akan melangkah… seolah dia tak pernah benar-benar pergi. Jasnya masih hitam tanpa warna. Dasi merahnya masih lurus. Tak ada debu, noda, ataupun tanda bahwa waktu pernah menyentuhnya. Dia menatapku tanpa senyum, tanpa heran.
“Kau masih berjalan seolah tidak sedang dihitung mundur.”
Bus kembali melaju, meninggalkan halte. Orang-orang yang berseliweran tak satu pun menyadari ada malaikat berdiri di antara mereka. Dengan malas aku melangkah ke arah apartemenku. Dia mengikutiku, selalu tiga langkah di belakang. Tak kurang, tak lebih.
Aku menengadah sebentar. Langit kosong. Tak ada burung. Tapi suara dunia tetap bising seperti biasa, seolah tak ada yang istimewa dari hari ini.
“Aku hanya ingin menjauh sebentar,” kataku lelah.
“Kau tidak bisa menjauh dari kematian, Noel.”
Suaranya terdengar begitu dekat, padahal dia tiga langkah di belakang. Seperti bisikan langsung di telingaku.
“Aku tidak lari,” selorohku, terus melangkah, menepi agar tak tertabrak orang-orang yang terburu.
“Kau menyingkir dari terang dan masuk dalam kegelapan,” balasnya tenang. “Dan tidak berkehendak memilih.”
Aku menoleh sekilas. “Memilih apa? Aku bahkan tak yakin masih ada pilihan.”
“Seperti iblis yang dihadapkan pada sujud atau tidak … hanya satu yang jalan terang. Ada hal-hal yang tidak bisa kita ubah, Noel. Kita hanya perlu memilihnya. Menerimanya.”
Aku berdecak. “Kalau kau sudah tahu semuanya, kenapa kau masih bertanya?”
“Karena aku bukan hakim,” jawabnya. “Aku hanya pintu. Kau yang menentukan akan membukanya untuk apa.”
Tepat saat aku hendak membalas, bahuku dihantam seseorang. Keras.
Brakkk…
Aku nyaris jatuh. Barang-barang berhamburan ke trotoar. Tas selempang, kotak kecil, kabel yang melingkar kusut, dan sebuah speaker dengan stiker di sisinya yang berbunyi: MAKE MUSIC NOT SILENCE.
“Maaf! Maaf, aku nggak lihat—”
Aku mendongak.
Tas biola di punggungnya. Pita merah tercepit di rambut panjangnya yang berantakan. Wajah itu, aku mengenalnya. Kedai di Kota Tua. Apotek di sudut jalan itu.
“Kak Noel?”
Pandangan kami terkunci sejenak. Ini sudah ketiga kalinya. Terlalu sering untuk disebut kebetulan biasa, terlalu aneh untuk disebut takdir.
Dia cepat-cepat memunguti barangnya. Wajahnya tegang, napasnya memburu, matanya liar… bukan ketakutan, tapi sesuatu yang lebih hidup dari itu. Aku menunduk, melihat speaker besar tergeletak dekat kakiku. Stiker itu menatapku balik. Kalimat itu, pernah kulontarkan saat menerima penghargaan musik, entah berapa tahun lalu.
Tanpa sadar aku mengambilnya. Cukup berat hingga harus kupeluk.
“Hei! Berhenti!”
Dua pria berseragam mendekat dengan cepat dari arah pertokoan. Salah satunya menunjuk gadis ini dengan wajah separuh kesal, separuh lelah.