“Kehidupan adalah desain dari semesta.”
***
Langit malam tak menampakkan bintang. Neon minimarket berkedip seperti mata yang kelelahan menonton hidup manusia. Aku masih duduk di kursi besi di serambi minimarket. Botol air mineral di hadapanku cuma berkurang sedikit. Orang-orang keluar masuk. Jalanan cukup lengang.
Dia duduk di hadapanku dengan menyilangkan kaki. Malaikat maut. Jasnya masih lurus. Tak ada debu ataupun waktu. Dia bukan bagian dari malam ini, tapi juga tak bisa dipisahkan darinya.
“Jadi kau percaya takdir?” lontarnya, tenang seperti biasa.
“Apa semua ini sudah ditulis?” tanyaku balik. Dingin.
Dia menatapku. Tak terganggu. “Apa maksudmu?”
“Hidup. Sakitku. Panggung yang kucintai lalu membenciku. Orang-orang yang datang, lalu pergi. Bahkan kau. Apa ini semua adalah naskah yang aku cuma peran figuran?”
“Bukan figuran,” katanya pelan. “Kau peran utama dalam ceritamu. Tapi naskahnya… tak bisa kau sunting.”
Aku mendengus. “Itu bukan jawaban. Itu kompromi.”
Dia tersenyum tipis, tangan terlipat di depan dada. “Atau mungkin, itu jawaban yang terlalu besar untuk ditelan kepahitanmu.”
Aku memalingkan wajah. Malam ini terlalu tenang untuk marah, tapi dadaku berisik. Seseorang di meja sebelah menyalakan rokok. Asapnya tipis, naik perlahan, lalu hilang tanpa bekas, seperti banyak hal lain dalam hidupku.
“Kalau aku tidak bisa memilih, kenapa aku masih merasa bersalah? Kalau semuanya sudah ditentukan, kenapa aku dihukum atas hal yang bukan kuatur?”
Dia mencondongkan wajahnya sedikit. “Karena bukan soal apa yang terjadi padamu. Tapi bagaimana kau menjalaninya.”
“Kau bilang seperti itu karena kau tidak merasakannya,” jawabku tajam. “Kau tidak punya tubuh. Tidak punya rasa. Tidak tahu rasanya kehilangan. Karena kau yang mengambil, bukan yang terambil.”
Dia terdiam. Bukan karena tidak punya jawaban, hanya membiarkan kata-kataku tenggelam sendiri.
“Apa kau akan ikut?” lontarnya sambil melirik brosur di atas meja.
“Untuk apa? Mempermalukan diri dan membuat gadis itu gagal? Aku bukan lagi bagian dari tatanan musik.”
Aku mendesah, menyandarkan punggung di kursi, lalu ikut menyilangkan tangan.
“Dalam aliran filsafat Stoikisme ada yang namanya logos, prinsip rasional dalam tatanan semesta. Dunia dipandang memiliki struktur yang logis, semacam hukum alam spiritual yang mengatur segalanya. Takdir, atau fatum, adalah manifestasi dari logos. Bukan kehendak pribadi dewa atau Yang Esa, tapi alur kosmik yang harus diterima. Kita tidak punya kuasa atas apa yang terjadi … cuaca, penyakit, kematian … tapi kita punya kendali penuh atas respons kita.”
Dia menaikkan alisnya. “Jadi keutamaan hidup dalam Stoikisme adalah berdamai dengan apa yang tak bisa diubah, dan menjalani peranmu dengan martabat.” Dia berhenti sejenak. “Lalu, kenapa kau tidak melakukannya?”
“Bagaimana bisa aku menerima,” timpalku sengit, “jika jemariku adalah hidupku. Dan penyakit ini merenggut segalanya.”
Aku mendesah panjang. Kesal. Dia tetap tenang, menatapku datar.
“Seneca[1], seorang filsuf Stoik, pernah berkata, terimalah nasibmu. Dia salah satu yang paling bijak. Tapi paling dibenci oleh orang-orang yang terluka.”
“Dan kau salah satunya,” sahutnya. “Kau tidak harus mencintai penyakitmu. Kau hanya perlu berdamai dengan keadaan, Noel. Kau bisa menjalani hidupmu tanpa menjadi lebih buruk karena takdirmu.”
“Dan kalau aku gagal?”
“Kau bukan gagal karena takdir itu menyakitimu. Tapi karena kau membiarkan dirimu rusak olehnya.”
Aku menatapnya lama. Mata itu bukan ancaman. Tapi seperti cermin, menyebalkan karena jujur.
“Kau tahu kenapa manusia sulit menerima takdir?” tanyanya.
Aku tak menjawab.
“Karena kalian lebih suka merasa spesial daripada seimbang. Padahal hidup bukan tentang menang. Tapi tentang selaras.”