“Musik adalah bahasa dunia.”
***
Aku membuka mata lagi untuk hari ini.
Langit-langit kamarku tidak pernah berubah. Retakan kecil di pojok kanan, bercak hitam ujung lampu, dan jejak nyamuk yang sudah lama jadi fosil. Tapi entah kenapa hari ini aku menatapnya lebih lama. Seolah-olah menunggu langit-langit itu bicara. Jarum jam dinding menunjukkan pukul sebelas lewat dua belas. Sudah siang, lagi. Aku tidak merasa tertidur. Tapi juga tidak ingat kapan tepatnya aku terjaga. Seperti hidup, aku menjalaninya tapi tidak merasa mengalaminya.
Di sebelahku, selimut sudah melorot ke lantai. Udara kamar sedikit pengap. Jendela tertutup. Dunia di luar pasti sedang berjalan, orang-orang bekerja, kendaraan saling menyalip, bayi menangis, ibu-ibu teriak di pasar, seseorang jatuh cinta, seseorang baru saja ditinggalkan. Tapi aku hanya diam di kasur ini, seperti objek. Bukan manusia. Bukan sisa manusia. Hanya perabot yang kadang bernapas.
Aku menyentuh pelipis, memijat perlahan.
Apa ini hidup yang masih bisa disebut hidup? Atau hanya bangun karena belum mati?
Satu bagian tubuhku ingin bangkit. Bagian lain berkata, ‘untuk apa?’ Seperti dua dewa kecil yang saling membisikkan kekosongan dari sisi berlawanan.
Kepalaku menoleh ke kiri, menatap cermin besar yang belum kugeser. Bayangan orang di dalamnya menatap balik padaku, dia seperti orang yang ditinggal hidup oleh bakatnya sendiri. Terlalu banyak hari-hari seperti ini. Terlalu banyak pagi yang datang tanpa alasan untuk menyambutnya.
Kalau hidup ini takdir, kenapa aku harus bangkit?
Kalau hidup ini bebas, kenapa aku tidak bisa memilih apa-apa?
Aku menghela napas, berat, seperti menarik udara yang tak ingin masuk. Tangan kananku menutupi mata, menutup langit-langit. Tapi kosong di dalam tidak ikut tertutupi.
Hari keempat. Aku masih di sini, dan aku tidak tahu kenapa.
Aku kembali menatap langit-langit. Pikiranku mulai bergerak, seperti tali tua yang ditarik pelan. Aku tak tahu kenapa hari ini berbeda. Tapi dadaku terasa sedikit lebih berat. Atau lebih… sunyi.
“Musik…” gumamku nyaris tanpa suara, “kalau aku kehilangan itu, apa lagi yang tersisa? Dan aku sudah kehilangannya, dan tak ada lagi yang tersisa.”